
Sudah tiga hari Gladys memikirkan semuanya. Awalnya dia menolak permintaan kakaknya. Namun sang kakak setiap hari datang membujuknya.
Gladys semakin merasa kasihan dengan kakaknya. Ia sadar selama ini hanya menyusahkan kakaknya. Kakaknya yang melakukan semuanya dari muda.
Ia juga melihat bagaimana kakaknya menanggung semuanya di saat muda. Kakaknya terpaksa mengambil alih perusahaan di umur yang lebih muda darinya.
"Apa aku terima aja, tapi aku tidak mengenalnya, apakah yakin dia terbaik untuk aku?" tanya Gladys bicara sendiri.
"Gimana jika kami nggak saling cinta, bisa berantakan masa depanku." ucap Gladys lagi.
Gladys nampak gelisah saat duduk di ruang tengah.
"Tumben hari ini kakak nggak datang di sini, apa dia sudah menyerah? tapi baguslah." ucap Gladys tersenyum.
Tiba-tiba senyum di wajah Gladys langsung menghilang dari wajahnya saat melihat ana datang bersama Farhan.
"Kirain udah menyerah." gumam Gladys.
"Gimana dia, apakah sudah cukup waktu untuk memikirkan jawabannya?" tanya Farhan duduk di kursi yang berbeda dengan Gladys.
"Tidak." jawab Gladys.
"Bukannya kamu ingin hadiah yang besar?"tanya Farhan sambil tersenyum.
"Itu bukan hadiah tapi bencana."
"Gladys jaga ucapannya."
"Iya bencana buat Erik dapat kamu." jawab Farhan.
"Jika bencana buat dia, kenapa dia mau?" bibir Gladys.
"Kerena dia terpaksa, dia tidak enak menolak Aldo, dia lelaki yang baikz menyesal jika kamu menolak."
"Apa yang ku sesalkan? toh diluar sana banyak lelaki yang lebih baik."
"Coba bawa satu." tantang Farhan.
Gladys terdiam mendengar tantangan Abang iparnya. Dia mana bisa mencari lelaki yang bisa memimpin perusahaan.
"Aku pokoknya tidak bersedia." jawab Gladys.
"Lelaki seperti apa lagi yang kamu cari? toh tujuan kita juga menikah kedepannya." ujar Ana.
"Tapi tidak saat ini."
"Kakak nggak mau kamu nanti salah pilih dalam menentukan jodoh."
"Seperti kakak di masa lalu?" tanya Gladys.
"Iya ,kamu tau kakak gagal menikah di masa lalu, kakak hanya di manfaatkan." jawab Ana.
"Itu kecerobohan kakak sendiri, tapi tetap saja Allah punya rencana, buktinya kakak bertemu juga dengan jodohnya kakak bang Farhan, jika dia jodoh aku, maka kami akan bertemu nanti."
"Belum tentu semua orang punya kesempatan kedua." ucap Ana.
"Kenapa tidak? aku pokoknya tidak."
__ADS_1
"Ya sudah, jika kamu tidak menghargai kami lagi, maka anggap saja kami bukan keluarga kamu lagi." ujar Farhan.
"Jika kamu nggak mau, kakak nggak akan pulang ke sini lagi." ancam Ana.
"Kakak nggak bisa mengancam begitu?"
"Itu yang kamu mau kan." Ana berjalan keluar dari rumah.
Langkahnya di ikuti oleh sang suami. Gladys sedikit tersentak melihat kakak dan Abang iparnya keluar dari rumah.
"Kak tunggu." ucap Gladys mengejar Ana.
"Apalagi? kakak rasa kakak tidak di hargai di rumah ini lagi." Ana tetap berjalan.
"Baik, aku akan menemui dia."
"Bukan hanya menemui, tapi menikah dengannya, kakak yang jamin." ucap Ana berbalik badan.
"Tapi kami perlu mengenal."
"Dia lelaki baik, kami adakan pertemuan malam Minggu, datang kerumah kakak." ucap Ana tersenyum.
"Iya." jawab Gladys.
Ana dan Farhan tersenyum mendengar jawaban Gladys. Ana lansung memeluk adiknya karena mau mengikuti sarannya.
Ana juga sudah bertemu dengan lelaki itu. Yah Ana mengakui bahwa lelaki itu memang gagah. Selain itu dia memang pandai mengatur perusahaan.
Sudah banyak perhargaan yang ia dapatkan. Selain itu para bawahannya sangat menyukainya. Lelaki ini terkenal sabar di mata bawahannya.
...****************...
Gladys masih saja bermain di taman kota tanpa berniat pulang kerumah sang kakak. Dia sangat melas melangkahkan kakinya ke sana.
"Kenapa harus begini?" ujar Gladys.
"Awas aja kamu mengecewakan Erik, aku tendang kamu seperti ini." ujar Gladys sambil menendang sebuah botol.
"Jika kamu mengecewakan aku, maka aku akan cekek kamu Erik." ujarnya ingin menendang botol di depannya lagi. Namun sayang yang kena bukan botolnya tapi sebuah batu yang agak besar.
"Aduw sakit."
"Tante lucu kali."
Gladys mendengar suara anak-anak tidak jauh darinya menertawakan dia.
"Tante lucu kali, iya kan pa?" tanya Anak itu bertanya kepada papa nya.
Gladys kaget saat mengetahui ada yang menonton aksinya.
" masa kecal sama papa pi endang batu." ucap anak yang berumur 3 tahun itu.
Sedangkan sang papanya hanya tersenyum mendengar ucapan anaknya. Gladys merasa malu karena aksinya di tonton.
"Iya lucu, jika tau ada tontonan lucu kayak gini mending ke sini tiap sabtu sore." jawab sang papa.
"Berisik." ucap gladys pergi berlalu meninggalkan mereka dengan malu.
__ADS_1
Gladys akhirnya pergi meninggalkan taman tersebut dengan malu. Dia berjalan meninggalkan taman tersebut.
Sedangkan lelaki itu nampak tersenyum melihat tingkah lucu wanita itu.
Gladys sudah turun dari mobilnya menuju rumah kakaknya. Gladys memang agak Suka dengan rumah kakaknya. Karena rumah ini nampak mewah namun tidak terlalu besar.
"Cakep, kecil tapi unik ni rumah." gumamnya sambil masuk ke dalam rumah.
Ana nampak sibuk memasak bersama para Art. Gladys hanya berlalu menuju kamar tamu.
Gladys sudah beberapa kali ke rumah ini sebelum Operasi Ana. Gladys mencoba mengingat kejadian di taman tadi.
"Dasar laki laki aneh, untung tadi nggak ada istrinya, aku juga malu - maluin sih." ujarnya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jika aku ketemu dia moga dia tidak mengenal aku."
Gladys membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia padahal di suruh kakaknya merawat diri dengan maskeran. Akan tetapi Gladys malas melakukan semua itu.
Detik berganti menit, menit berganti Jam. Gladys sudah duduk diruang tamu bersama sang kakak dan iparnya.
Rumah semakin ramai karena adanya kedatangan Karin dan Aldo.
"Kok lama kali?" tanya Gladys tidak sabar.
"Sabar Dis, tunggu aja di sini." jawab Aldo sambil tersenyum.
Tidak lama setelah itu terdengar suara seseorang datang. Ana lansung berdiri menyambut sang tamu.
"Assalamualaikum." ucap seseorang dari luar rumah. Tidak lama nampak lah seseorang lelaki yang muncul dari arah luar.
"Waalaikumsalam, ayo masuk dan duduk." jawab Ana.
Gladys kaget saat melihat siapa yang masuk ke rumah kakaknya.
"Kenapa dia?" gumam Gladys di dengar oleh Aldo.
"Kenapa dia dis? kamu kenal?" tanya Aldo.
Lelaki yang bernama Erik lansung menoleh melihat kearah Gladys. Dia juga kaget saat mengetahui bahwa wanita itu adalah wanita yang tadi bertemu dengannya di taman.
"Kamu kenal dia?" tanya Farhan.
"Nggak kenal." jawab Gladys agak gugup.
"Gimana di simpan muka ini?." tanya Gladys menundukkan wajahnya karena malu.
"Erik ini adik saya Gladys, dan Gladys ini Erik." ucap Ana mengenalkan mereka.
Erik segera mengulurkan tangannya untuk bersalam.
"Erik." ucapnya.
"Gladys." jawab Gladys sambil menyambut uluran tangan Erik.
"Yuk kita makan dulu sebelum kalian ngobrol berdua." ajak Farhan mengajak semuanya makan malam terlebih dahulu.
Semua berjalan menuju meja makan. Sedangkan Gladys kurang bersemangat menuju meja makan. Farhan duduk memimpin. Sedangkan Ana duduk disebelah kirinya. Gladys duduk sebelah kiri kakaknya. Lalu di sebelah kiri Gladys ada Erik. Erik duduk di posisi ujung berhadapan dengan Farhan. Karena di sebelah kanan Farhan ada Karin lalu Aldo.
__ADS_1
Mereka makan dengan lahap. Entah kenapa Gladys tidak semangat memakan nasinya.