Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 10. Kan Kita Pacaran.


__ADS_3

Happy Reading!


"Keluar lewat jendela itu maksudnya, mama dibelah waktu itu. Eh perut mama ding yang di belah. Nah dibedah lah perut mama lewat sini."


Mama Lidia menjelaskan dan menunjukkan bekas operasi caesar beberapa waktu lalu. Nyaris tak ada tanda. Hanya samar yang terlihat.


"Mana? Nggak ada," tanya Niki. Ia juga penasaran. Seperti apa sih bekas operasi caesar itu.


"Coba kamu perhatikan baik-baik," ucap mama Lidia lembut.


"Iya. Ada, ma. Tapi nggak jelas kelihatannya."


"Nah, dari situlah kamu lahir. Di sayat, lalu kamu dikeluarkan, lalu dijahit lagi. Supaya kembali seperti semula."


"Sakit nggak, ma?"


"Sakit dong, sayang. Tapi demi kamu mama tahan. Walau memang tidak sakit sebelum kau lahir. Sakitnya terasa saat kau sudah lahir."


"Sayang, melahirkan normal atau caesar sama-sama bertaruh nyawa. Yang menjadi pembeda adalah, kalau melahirkan secara normal sakitnya sebelum janin lahir. Sedangkan melahirkan secara caesar, sakitnya setelah si jabang bayi lahir ke dunia."


"I love you, ma."


"Love you too, sayang."


Keduanya berpelukan kayak Teletubbies.


"Kok kita bahas yang sedih-sedih sih? Ah, kamu mama jadi lupa kan nanyain cowok tadi. Mirip aktor drachin, nggak? Putih nggak? Tinggi nggak?"


"Mama tanyanya banyak amat. Niki mau jawab yang mana dulu?"


"Hehe. Habisnya mama penasaran banget. Siapa sih yang sudah mencuri hati putri centil mama ini," goda mama Lidia gemas.


"Ada deh, ma. Nanti kalau sudah jelas baru Niki cerita."


"Oh, gitu sekarang. Main rahasia-rahasiaan sama mama. Mama kasitau papa gimana?"


"Jangan dong, ma. Please."


"Makanya cerita. Biar rahasia aman terkendali."


"Dasar. Pelit. Sama anak sendiri itung-itungan."


"Dasar gadis mama pelit. Sama mama sendiri nggak mau cerita."


"Dah ah, Niki mau belajar dulu. Niki ada peer."


"Baiklah, sayang. Mama tunggu cerita selanjutnya. To be continue."

__ADS_1


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...


"Selamat pagi dunia."


"Selamat pagi, pak."


"Selamat pagi, bu."


"Semoga harimu menyenangkan."


"Selamat pagi."


"Selamat pagi."


Semua orang yang Niki lewati pagi ini ia sapa. Baik orang yang dia kenal maupun tidak dia kenal. Dari mulai pak satpam, ibu yang membersihkan sekolah, bapak penjaga sekolah, murid-murid kelas X sampai XII.


Langkahnya yang ringan ia bawa menuju kelasnya yang belum ramai. Tapi Sandra sudah ada di sana. Ia meletakkan tasnya di atas kursinya lalu pandangannya menyusuri isi ruangan kelas tersebut


"Cari apa, bu? Masih pagi juga udah celingak-celinguk. Nggak pegal itu leher?"


"Eleh. San San, kayak nggak tau aja. Aku kan lagi nyari batang hidung ayang Nata. Setelah kupastikan aku tak mencium aroma tubuhnya, ya ku putuskan lah untuk mencari barang hidungnya. Memangnya salah?"


Sandra, geleng-geleng kepala atas tingkah absurd seroang Niki. Tidak heran memang. Karena begitulah Niki orangnya. Tapi kalau dia tidak ada, tidak ramai.


"Belum datang dia, Nik. Tunggu ajalah," ucap Sandra mengusulkan. "Nanti juga dia datang. Dia kan nggak pernah absen. Murid terrajjn gitu lho."


"Iya juga ya, San. Kamu benar. Ayang Nata emang the best dalam segala hal. Udah ganteng, cool, rajin, cerdas pula."


"Iya, bawel."


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...


"Lim, Nata mana? Tumben belum nongol. Nggak biasanya itu anak."


"Di UKS dia. Sakit perut katanya. Biasalah, magh nya kambuh," jawab Salim.


Murid-murid sudah berbaris di lapangan dengan rapi. Semuanya lengkap dengan seragam, topi dan dasinya. Tak lupa pula sudah memakai ikat pinggang berwarna hitam, kaus kaki putih dan sepatu hitam bertali.


Peraturan di sekolah tersebut memang seperti itu. Setiap hari senin, setiap siswa atau siswi harus lengkap dengan seragam mereka dengan embel-embelnya.


Niki, memasang telinganya dengan baik demi bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Salim dan Tito. Entah kemana Agus, Niki tak peduli. Yang ia pedulikan adalah Nata, Nata dan Nata.


"Tuh kan ada yang nggak beres dengan ayang Nata. Dia sakit. Ya Allah, kasian banget ayang Nata," batin Niki sendu.


"Terus, Agus kemana?" tanya Tito lagi.


"Jangan bilang dia ikut juga di UKS nemani Nata?"

__ADS_1


"Bentar lagi juga ia datang. Ke toilet tadi, kebelet katanya."


Mendengar Agus tidak menemani Nata, seketika Niki mendapat ide cemerlang.


"San, bantuin aku please."


"Bantu apaan? Kita udah mau upacara, Nik. Kamu yang bagus barisnya. Nanti kamu kena hukuman pak Nai."


Segera Niki memasukkan dasinya ke dalam kantong rok Sandra.


"Aku mau nyusul ayang Nata ke UKS, titip ya."


"Nik, nanti kamu dihukum sama pak Nai," ucap Sandra mencoba menghalau ide gila sahabat nya itu.


Niki segera berlari, mengabaikan perkataan Sandra. Baginya sekarang yang paling penting adalah Nata. Ia ingin tau bagaimana kabar Nata yahh sebenarnya.


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=\=...


Di ruang UKS, Nata sedang duduk selonjoran di atas ranjang. Tak lupa dengan buku fisika di tangannya. Tiba-tiba ia dilempar oleh kertas yang sudah dibentuk bulat. Fokusnya pun jadi berpindah kepada kertas itu. Lalu meneliti seisi ruangan.


Mencari tau, siapa kah gerangan yang mengusik ketenangannya kali ini.


"Kalau sakit itu ya istirahat. Bukan belajar," ucap seorang gadis sembari menarik buku dari tangan Nata. Siapa lagi dia kalau bukan Niki.


"Kamu itu harus istirahat juga makan. Supaya kamu cepat sembuh. Kalau kamu lagi sakit malah belajar, bisa-bisa magh kamu nggak akan sembuh. Makan gih, Niki udah bawain sarapan untuk ayang Nata."


Niki mengomel panjang lebar, bak seorang ibu asrama yang sedang mengomeli anak asuhnya.


"AKU NGGAK BUTUH." Nata berucap penuh penekanan. Niat hati ingin menenangkan diri di UKS, eh malah kedatangan tamu yang tak diundang.


"Jangan gitu. Nanti kamu malah makin sakit kalau menolak makanan dari Niki," ucap Niki merasa tidak sakit hati sama sekali.


"Suasana begini enak banget ya. Kita duduk berdua, di ruangan yang sama. Kayak mimpi masa depan yang sudah aku rencanakan," celetuk Niki. Ia tersenyum tulus. Sudah mulai lagi dia dengan segala kehaluannya.


Niki membawa Nata untuk duduk di kursi, di depan kursi itu ada meja bundar. Ada kursi satu lagi. Setelah Nata duduk, ia pun duduk tepat di hadapan Nata.


Tak habis pikir Nata dengan gadis itu. Selalu saja nempel padanya seperti lintah.


"Kamu sakit? Sakit jiwa?" sergah Nata.


Bukannya sakit hati, Niki malah senang Nata mau bicara dengannya. Lebih tepatnya memulai bicara dengannya walau pun dengan kata yang tidak mengenakkan. Bagi Niki, itu tidak suatu masalah.


"Niki sehat. Niki dengar ayang Nata sakit, jadi Niki pura-pura nggak bawa dasi agar dihukum supaya bis berduaan dengan ayang Nata."


"Dasar gadis gila," batin Nata.


"Berhenti memanggilku dengan kata menjijikkan seperti itu."

__ADS_1


"Kan kita pacaran," sahut Niki enteng.


To be continue....


__ADS_2