
Pun sama dengan siswa-siswi lain, penghuni sekolah Thomas Alfa Edison, tiga teman dekat Nata yaitu Agus, Salim dan Tito. Ya, saat ini mata mereka sedang fokus membaca, mendengar dan menonton berita yang sedang viral di aplikasi YouTube. Sebuah akun yang menceritakan bahan mendramatisir kondisi Niki sekarang dan kisah cintanya bersama Nata.
Semuanya menjurus kepada menyalahkan Nata. Menyudutkan Nata yang tak peduli dan tak mau membalas cinta Niki. Cinta seorang gadis yang sedang sekarat.
"Kasihan kamu, Niki harus mencintai pria batu seperti itu," tulis seseorang di kolom komentar.
"Dasar lelaki tak punya perasaan."
"Senggaknya bahagiakan dia di sisa hidupnya," tulis seseorang lagi.
Ada banyak komentar negatif yang menyalahkan Nata. Tak satu pun diantara mereka mendukung Nata. Bahkan tertera di sana video saat Nata menolak cinta Niki dengan sangat arogan. Entah siapa yang sudah menyebarkan itu tidak ada yang tau.
"Gila! Netizen memang maha segalanya. Bisa-bisanya mereka menghakimi Nata seperti ini," ujar Tito tidak terima.
"Ada benarnya juga netizen itu. Aku sih yes dengan komentar mereka. Soalnya Nata itu cowok yang nggak punya perasaan," sela Agus.
"Yah, begitulah netizen. Kalau tidak kuat mental yang bisa down. Sekarang gimana dengan Nata? Apa dia sudah tau semua ini?" balas Salim.
Ketiganya kompak, menyerukan nama Nata.
"Nata! Dimana dia sekarang?"
Ketiganya pun kompak berlari menuju ke dalam kelas. Tepatnya kelas dimana Niki berada.
"Lho, kok kita kesini?" tanya Agus.
Dua dari mereka mengangkat bahu tanda tak mengerti. Entah mengapa bisa kaki mereka melangkah kemari.
"Kursi Niki kosong. Kemana dia?" tutur Salim. Ia malah fokus ke kursi dimana Niki duduk.
Sontak, Agus dan Tito menoleh ke kursi Niki. Kegiatan pembelajaran sedang berlangsung. Siswa dan siswi sedang serius menerima pelajaran dari ibu Devina. Tak sadar kalau mereka bertiga sudah terlambat.
"Biasanya dimana ada Sandra pasti ada Niki. Tapi kok..."
Begitulah ketiganya berbicara saling bersahutan hingga suara ketiganya mengalihkan perhatian ibu Devina.
"Lho, Salim, Tito, Agus? Kalian tidak masuk?" tanya bi Devina dari dalam kelas.
Seketika atensi seisi kelas tertuju kepada ketiga laki-laki itu.
__ADS_1
"Sudah tau terlambat masih aja santai. Kalian nggak mau belajar?" ucap ibu Devina lagi. Beliau masih tetap bicara dari dalam kelas. Menolehkan wajahnya demi bisa melihat ketiga murid itu.
"Mampus kita!" ucap Salim bergumam.
"Memangnya ini jam berapa?" tanya Tito polos.
"Jam...." sahut Agus. Ia melirik pergelangan tangannya.
"Eh, Gus, kau kan nggak pake jam? Apa yang kau tengok?" ucap Salim.
"Oh iya. Aku lupa," jawab Agus polos.
”Mampus kita, guys. Kita akan dihukum Bu Devina," tukas Tito.
"Mau gimana lagi. Pasrah deh," sahut Agus.
"Terus, Nata gimana? Dia kan nggak ada di kelas."
"Siapa bilang nggak ada? Tuuu," tunjuk Salim dengan memonyongkan bibirnya ke arah Nata yang sedang serius dengan pulpennya yang menari diatas bukunya.
Terdengar langkah sepatu high heels ibu Devina di ruangan kelas itu. Sepatu yang tumitnya tajam dan tegas menjadi musik pada mereka pagi ini.
Ini adalah mode ibu Devina yang sesungguhnya. Tidak banyak bicara tapi tegas. Tidak suka berbasa-basi.
Bak anak kucing yang dimarahi ibunya, ketiganya patuh mengikuti perintah ibu Devina sambil menundukkan kepala menatap lantai keramik kelas XII Fisika itu.
"Tunjukkan PR kalian!" titah ibu Devina lagi tak ingin dibantah.
Reflek, ketiga murid itu mengambil buku dari dalam tas mereka. Lalu membuka buku itu, meneliti ulang apakah PR yang diberikan oleh ibu Devina sudah mereka kerjakan. Gerakan mereka reflek dan kompak. Sekompak mereka sama-sama tidak tau bahwa jam pelajaran sudah di mulai. Sementara mereka merasa kalau mereka terlalu pagi sampai di sekolah.
Akibat scroll-scroll komen netizen tadi di akun aneh itu, mereka sampai lupa waktu. Bahkan lupa jam berapa sekarang. Sekompak itu coba.
Dengan langkah pasti dan tegas ibu Devina menghampiri mereka. Kali ini giliran Agus yang duluan.
Tanpa basa-basi, ibu Devina langsung meminta Agus untuk menunjukkan PR-nya. Ibu Devina diam saja. Lalu, beralih kepada Tito kemudian Salim yang paling terakhir.
"Baiklah, karena kalian bertiga mengerjakan PR, jadi ibu akan ringankan hukuman kalian," ucap ibu Devina.
Baik Agus, Salim dan Tito menghela napas. Lega rasanya mereka menerima hukuman yang ringan dari ibu Devina. Dalam bayangan mereka paling hanya disuruh berdiri di depan, pegang telinga dengan tangan menyilang.
__ADS_1
"Sandra!" panggil Bu Devina kepada Sandra yang sedang sibuk dengan penanya. Tak ia hiraukan ketiga trio kwek-kwek yang sedang di hukum itu.
"Iya, Bu," sahut Sandra jelas.
"Kamu pergi ke kantin, minta ke ibu kantin karton bekas! Yang bisa dibagi untuk tiga bagian."
"Baik, Bu," sahut Sandra sembari berdiri dari duduknya. Kursinya ia geser ke belakang sehingga menimbulkan suara. Lalu ia segera membawa langkahnya meninggalkan kelas menuju kantin sekolah yang ada di sudut sekolah itu.
Tak berapa lama, Sandra pun tiba. Ia segera mengetuk pintu dan masuk ke dalam kelas itu. Dan memberikan karton bekas itu kepada ibu Devina.
Ibu Devina langsung menerima karton itu. Lalu membaginya menjadi tiga bagian. Bentuk dan ukurannya sama. Di tengah-tengah potongan karton itu ada lobang. Lalu, di balik depan dan belakang karton itu ada tulisan besar-besar.
Ketiga trio kwek-kwek itu memperhatikan dengan seksama. Merek tidak mengerti apa yang dilakukan oleh ibu Devina. Mereka bahkan menduga bahwa Bu Devina akan mempersilakan mereka duduk di kursi masing-masing.
"Agus, sini kamu!" Ibu Devina langsung memanggil mereka satu persatu.
"Tito, kamu juga!"
"Salim, juga kamu!"
"Letakkan dulu tasnya di meja kalian, lalu kembali ke depan!"
Ketiganya sudah berdiri di depan dengan tak membawa apapun. Hanya tangan kosong. Bermodalkan telinga untuk mendengar, pikiran untuk mencerna apa yang akan terjadi.
"Masukkan ini di leher kalian bertiga. Lalu, berjalanlah keliling lapangan basket!"
Rasanya otot-otot trio kwek-kwek itu lemas seketika. Mau ditaruh dimana wajah mereka jika mereka sampai melakukan hal itu. Hilang dong image merek sebagai senior di sekolah itu.
"Jangan dong, Bu! Kan malu," ucap Tito menawar.
"Iya, Bu. Nanti kalau kita diledekin dan disoraki gimana?" tanya Agus, setuju dengan ucapan Tito.
"Ini bukan pasar yang bisa kamu lakukan tawar-menawar. Lalukan segera atau kalian tidak boleh masuk saat pelajaran saya. Dan nilai kalian akan anjlok. Mau?"
"Tidak. Tidak, Bu," sahut Agus yang bertubuh berisi itu.
"Lalukan sekarang! Tidak ada tapi-tapian!"
"Ba-baik, Bu."
__ADS_1
Ketiganya pasrah tak berdaya.