Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 31. Rumah Sakit


__ADS_3

Happy Reading!


Perlahan, mata yang tadinya terpejam kini membuka. Pelan namun pasti. Seperti sakit mata yang ia rasakan. Seolah kelopak mata tidak mau dipisahkan. Seperti menyatu dengan kulit dibawah mata.


Tetapi gadis itu berusaha untuk membuka mata. Ia merasa lelah setelah tertidur beberapa lama.


Pelan namun pasti, mata itu pun akhirnya membuka. Terlihatlah ruangan yang terang dengan aksen cat putih pada warna dindingnya.


"Dimana aku?" tanyanya dalam hati. Netranya menyisiri seisi ruangan. Tidak ada orang di sana. Hanya dia seorang bertemankan baju kebangsaan rumah sakit. Juga alat infus yang setia menemani tangan kirinya. Sempat ia meringis menahan sakit saat bergerak reflek sebelum ia menyadari kalau selang infus sedang bergelayut di tangannya.


"Rumah sakit? Kok bisa?" tanyanya bergumam di hati.


Gadis itu, mencoba mengingat kenapa ia bisa berada di tempat ini. Meringis ia menahan sakit di kepalanya.


"Astaga. Lalu gimana dengan final? Apakah sekolah kita masuk final?"


Bukan memikirkan kesehatannya, Niki malah berpikir keras tentang lomba yang baru saja menurutnya mereka ikuti.


"Aku harus mencari tau," ucapnya kemudian.


Niki berusaha untuk turun dari ranjang pasien itu, memegang tiang infus di tangannya lalu berjalan hendak menuju keluar.


"Berapa kali papa bilang, kamu nggak boleh pacaran. Fokusmu sekarang hanyalah belajar, belajar dan belajar. Agar bisa masuk perguruan tinggi luar negeri dengan beasiswa. Kamu ngerti nggak sih kalau papa bicara?"


Niki mendengar dengan jelas suara bass seseorang entah marah kepada siapa.


"Pa, Niki itu teman sekolah kami. Dia satu tim dengan Nata. Apa salah kalau aku membantu dia ke sini?" balas suara seorang pemuda tanggung.


Niki kenal sekali dengan suara itu.


"Dia kan yang sering nelpon kamu saat papa sita ponsel kamu?" hardik lelaki yang dipanggil papa oleh Nata.


Nata diam, tidak menjawab pertanyaan papa Tirta.


"Jawab!" hardik papa Tirta lagi. Tak sadar ia sedang dimana sekarang.

__ADS_1


Terdengar suara langkah kaki yang cepat menuju mereka. Niki di balik pintu mendengar semua itu dengan jelas.


"Mohon maaf, pak Tirta. Tapi kita sedang berada di rumah sakit. Tolong selesaikan masalah anda di luar. Kasihan Niki dan pasien lain jika sampai terganggu ketenangannya," ucap pak Andrew berusaha menahan amarahnya.


Pak Andrew kesal kepada orang tua yang satu itu. Memarahi anaknya yang sudah duduk di SMA di depan umum. Banyak orang disana. Bagaimana pun, anak yang sudah mengalami pubertas akan mengalami mental down saat dipermalukan atau dimarahi di depan orang banyak.


Galak-galaknya pak Andrew, beliau tidak pernah menegur muridnya dengan sarkas di depan orang banyak. Karena itu bisa membunuh karakter anak dan menjatuhkan harga dirinya.


Beberapa perawat yang lalu lalang menatap pak Andrew dengan kesal. Jujur mereka ingin menegur, tapi orang seperti pak Tirta tidak bisa ditegur sepertinya. Karena sedari tadi mereka sudah berusaha menegur. Tapi tak kunjung reda juga amarahnya.


Mendengar kalimat panjang lebar dari pak Andrew, papa Tirta pun terdiam. Ia merasa ditampar dengan kalimat tersebut.


"Haaah!" Papa Tirta pun memekik dengan kesal sambil berlalu meninggalkan tempat itu. Tangannya mengepal karena menahan amarah. Entah siapa yang mau ia tinju.


"Dokter, bagaimana Niki?" tanya pak Andrew pada dokter yang melintas di hadapannya.


Nata turut penasaran akan apa yang dokter itu ingin katakan. Ia juga ingin tau bagaimana kondisi Niki sekarang. Kenapa sudah beberapa jam, gadis itu tak kunjung bangun.


"Iya, dok. Bagaimana Niki?" timpal Nata. Ia bergegas mendekati dokter dan pak Andrew.


"Kami bukan keluarganya, pak. Saya gurunya. Kebetulan kami sedang ada kegiatan, tapi di tengah kegiatan Niki pingsan."


"Saya temannya, dok," sahut Nata, menyela ucapan pak Andrew.


"Bisa dokter memberitau ke saya saja? Saya akan menyampaikan kepada keluarganya nanti bila kami sudah kembali ke tempat asal kamu," ucap pak Andrew.


Dokter tersebut pun mengangguk karena sudah mengerti.


"Baiklah, mari ikut ke ruangan saya!" pinta pak dokter.


"Nata, tolong jaga Niki. Bapak akan bicara dengan dokter dulu," ucap pak Andrew kepada Nata.


"Tapi, pak."


Nata juga ingin tahu apa yang terjadi dengan Niki. Oleh karena itu, ia ingin ikut serta bersama pak Andrew menuju ruangan sang dokter.

__ADS_1


"Untuk kali ini, Nata. Bapak minta tolong dengan sangat sama kamu. Bapak takut nanti Niki bangun dan dia butuh apa-apa, tapi nggak ada yang menolongnya."


Nata pun tersadar. Benar apa yang pak Andrew katakan. Bagaimana jika nanti Niki bangun tapi tak menemukan siapa-siapa di dekatnya.


"Baiklah, pak. Aku akan jaga Niki dengan baik."


Nata pun akhirnya menurut. Tiada guna juga ia membantah dengan guru fisika yang terkenal dengan killer itu.


Sementara di luar rumah sakit. Sandra dan Salim sedang berdebat. Mereka beradu pendapat tentang keadaan Niki yang dimana Salim meminta Sandra untuk menghubungi mama Lidia, mamanya Niki.


Sandra tidak mau. Ia tau pasti mama Lidia akan panik dan sangat khawatir. Jadi ia memberi saran, lebih baik dikabari nanti saat Niki sudah baik-baik saja.


"Lalu kalau Niki kenapa-kenapa, kamu mau tanggung jawab?" tanya Salim sarkas.


"Eh mulut. Jaga kalau bicara. Itu sama saja kamu mendoakan Niki supaya kenapa-kenapa," balas Sandra.


"Otak itu dipake kalau bicara. Jangan sembarang bibir itu berucap kalau otak tidak sinkron "


Salim terdiam Kicep. Tanpa ia sadari, ia telah mendoakan yang tidak-tidak tentang Niki.


"Ya udahlah, terserah. Yang waras Mengalah," ucap Salim kemudian. Tak mau ia mengakui kalau ia salah. Gengsi dong. Harga dirinya akan jatuh.


"Sok waras. Jika kamu waras, nggak mungkin kamu tadi ngomong gitu. Udah lah salah, nggak mengaku salah. Dasar cowok gengsian. Kusumpahi nanti nggak ada cewek yang mau sama kamu."


"Ngomong sama kamu memang nggak ada habisnya. Selalu saja ada jawaban. Dasar cewek, punya mulut dua. Kusumpahi, nggak ada cowok yang akan suka sama kamu. Orang kamu judesnya minta ampun."


Keduanya berbalas saling menyumpahi. Tak tahu mereka bagaimana kabar Niki sekarang. Malah berdebat hal yang tidak ada faedahnya sama sekali.


"Aku mau lihat Niki. Bye."


Tanpa menunggu Salim berucap, Sandra sudah meninggalkan pria itu, Salim. Ia baru teringat Niki. Sehingga ia memutuskan mengabaikan hal lain dan fokus mencari tau, mengecek bagaimana kondisi Niki sekarang.


"Eh, tungguin!" pinta Salim. Gegas ia berlari mengejar gadis yang baru saja ia jadikan teman berdebat, meski perdebatan tersebut hanya karena masalah kecil.


Salim mempercepat langkahnya demi bisa menggapai Sandra. Bahkan ia sampai berlari kencang.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2