Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 36. Viral


__ADS_3

Dan di sinilah hari ini, Niki dan mama Lidia. Di rumah sakit ternama di kota itu. Dan paling di kenal oleh masyarakat luas. Selain karena peralatan yang lengkap, juga karena petugas disana ramah-ramah dan profesional.


Hal itu lah yang membuat mama Lidia, memutuskan untuk melakukan pemeriksaan ulang tentang kondisi Niki.


Sebenarnya, Niki sudah menolak. Tapi mama Lidia tidak terima. Ia akan memastikan sendiri bahwa apa kata dokter Anrico kemarin salah. Anaknya sehat. Tidak seperti yang diduga oleh dokter Anrico.


Sedang diam menunggu dipanggil, tiba-tiba ponsel mama Lidia berdering.


"Ma, itu handphone dari tadi berbunyi. Ayo diangkat!" tutur Niki.


Mama Lidia yang kurang fokus, tak menyadari jika sedari tadi ponselnya sudah berbunyi.


"Siapa sih nelpon mama disaat genting seperti ini?" omel mama Lidia sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. "Papa ternyata," ucapnya kemudian.


Mama Lidia menggeser layar hijau dimana si penelpon meminta video call dengannya.


"Hallo, pa," sapa mama Lidia kepada si penelpon.


Mereka berdua pun akhirnya mengobrol. Tak lain yang mereka obrolkan. Hanya seputar pemeriksaan Niki hari ini. Ternyata papanya Niki setuju akan usul istrinya. Melakukan pemeriksaan ulang terhadap Niki.


"Niki mana, ma?" tanya papa kepada mama Lidia.

__ADS_1


"Ada. Dia lagi ngelamun di samping mama."


Tanpa meminta ijin, mama Lidia langsung menyodorkan ponselnya kepada sang putri. "Nih, papa mau ngomong," ucapnya dingin pada Niki.


Dengan santai Niki meraih ponsel itu. Ia sudah hapal betul apa yang akan disampaikan papanya terhadap dirinya.


"Dek, kok telpon papa nggak diangkat? Papa udah banyak lho telpon kamu."


"Hp Niki tinggal, pa di rumah." Niki menjawab santai.


Ya, Niki adalah anak jaman sekarang yang berbeda dari anak lainnya. Ia tak lah seperti anak pada umumnya, yang gila akan smartphone. Agak lain memang. Dia tidak terlalu hobi memainkan benda pipih itu. Berita viral aja jarang ia tau. Sandra lah yang pada akhirnya memberitahunya makanya ia tau. Kalau tidak ya jangan harap.


"Papa itu kasih handphone buat kamu biar papa tau kamu dimana, sama siapa. Biar papa tau gimana kabar kamu," omel sang papa. Sedangkan Niki santai menanggapi omelan sang papa.


"Dek." Sang papa mulai memanggil dengan nada serius.


"Jangan takut ya, dek. Jangan kuatir. Kamu pasti baik-baik saja. Mau ya kerja sama dengan pak dokter nanti!" bujuk sang papa pada putrinya itu.


Sementara Niki hanya mengangguk saja.


"Mama sama papa yakin sekali kalau kamu nggak kenapa-kenapa. Nanti kita akan beri pelajaran pada dokter itu. Kamu tenang saja oke?"

__ADS_1


Lagi-lagi ia hanya mengangguk saja. Walau jujur dalam hati ia merasa takut. Ia mulai terpercaya akan dirinya sendiri. Ada keraguan di hatinya sejak dokter Anrico berkata kalau ia mengidap penyakit leukimia.


Tapi ada satu yang ia tak setujui. Yaitu memberi pelajaran kepada dokter Anrico pabila dugaannya salah. Ayolah, yang namanya manusia kan pasti ada kesilapan. Niki tidak mau memperpanjang masalah ini jika memang terbukti kalau Niki tidak sakit.


Sedang di sekolah TAE, sekolah yang menjadi tempat Niki dan teman-teman mengecap pendidikan, berita viral sedang melanda. Menghebohkan seisi sekolah. Baik guru, pegawai maupun para siswa.


Di setiap sudut sekolah, pembahasan yang hangat diperbincangkan adalah mengenai Niki, Niki dan Niki. Tak lain dan tak bukan yang menggemparkan adalah tentang Niki yang sedang sakit. Sakit yang menakutkan dan mengerikan. Yang siapa saja dihadapkan dengan penyakit itu akan putus asa. Bahkan bisa menyebabkan kematian.


"Kasian banget Niki. Sedih banget aku baca ini," ucap seorang gadis yang sedang sibuk menggulir ponselnya.


Jam istirahat bukannya mereka gunakan untuk beristirahat, malah sibuk membicarakan tentang Niki dan embel-embel penyakitnya. Entah siapa yang menyebarkan berita itu hingga viral di kalangan sekolah tersebut.


"Huuu, kasian banget Niki. Kalau aku diposisi dia pasti aku nggak kuat."


"Iya. Dulu cintanya ditolak sama Nata. Sekarang dia sakit. Kasian banget."


"Ternyata keceriaan Niki selama ini untuk menutupi kekurangan dia."


"Tega banget Nata menolak cinta dia waktu itu."


Banyak tanggapan dan respon di kolom komentar yang disebarkan oleh akun gosip tersebut. Dapat disimpulkan bahwa Niki lah pemeran protagonis di sini, yang layak disayang, dikasihani. Sedangkan Nata, pemeran antagonis. Dimana dia tidak mau menerima cinta Niki karena Niki penyakitan.

__ADS_1


Sungguh sangat sangat dramatis sekali.


__ADS_2