
Happy Reading!
"Nak Niki, ada apa gerangan kemari? Pasti ada perlu kan?" tanya ibu Nining.
"Kalau mau ke sini juga pasti ngabarin," sambung ibu Nining Membuyarkan lamunan Niki. Seolah tau, bahwa Niki datang tiba-tiba kesini bukan untuk berkunjung, bukan pula untuk bermain dengan anak-anak panti.
"Hehe. Niki memang ada perlu. Hehe." Ia cengengesan. Bingung harus bagaimana harus menjelaskan.
"Ayo, adek-adek, makan kuenya. Enak nggak?"
"Enak, kak," ujar mereka serentak. Niki berusaha mengalihkan topik. Niatnya memang ingin bicara berdua dengan ibu panti tersebut. Menanyakan dimana keberadaan Sandra. Sekaligus meminta maaf karena ia telah melukai anak asuhnya tersebut.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
"Sebenarnya.... Niki ke sini mau mencari Sandra, bu." Niki memulai pembicaraan sembari tangannya sedang sibuk mengiris bawang yang akan mereka jadikan sebagai bumbu untuk menumis sayur kangkung.
"Sandra?" tanya bu Nining heran.
"Ada apa dengan Sandra?"
"Kita ada salah paham sedikit, bu. Niki sih yang salah. Niki sebagai sahabat malah menyalahkan Sandra atas apa yang terjadi pada Niki."
Niki pun mulai menceritakan duduk permasalahannya. Membuat ibu Nining manggut-manggut. Ia setuju dengan kalimat Niki tadi. Bahwa ini hanyalah masalah kecil. Karena terlalu larut akhirnya jadi kesalahpahaman.
Sebagai perempuan, ibu Nining juga geli mendengar cerita Niki. Heran ia dengan wanita racun dunia jaman sekarang. Malah, dengan terang-terangan menyatakan cinta kepada orang yang ia sayangi di hadapan banyak orang.
Dimana ada guru dan teman-temannya di sana. Ia malah bersemangat menceritakannya kepada ibu Nining. Heran saja. Mengapa ia tak merasa sakit hati sedikit pun atas tindakan cowok yang sudah menghinanya, melukainya. Apakah karena cinta?
Cinta memang aneh. Walau sudah disakiti, walau hati sudah dilukai, tapi tetap saja cinta, tak ada logika memang.
Dari cerita panjang lebar Niki, bu Nining bisa menyimpulkan bahwa Sandra merasa bersalah sekali dalam kejadian ini. Dia juga menyalahkan tingkah Niki. Yang menurutnya itu terlalu berlebihan.
__ADS_1
"Nak Niki, boleh ibu bilang satu hal?" Ibu Nining sangat hati-hati sekali berucap kepada Niki. Sungguh keibuan sekali memang ibu itu. Ia bisa mengerti dengan baik suasana hati Niki saat ini. Tak mau ia memperdalam kesalahpahaman antar kedua sahabat itu.
"Apa, bu? Ngomong aja, nggak apa-apa kok."
Niki, dengan berbesar hati siap mendengar apa yang akan disampaikan ibu Nining padanya. Ia tau ia salah. Ia berfirasat bahwa ibu Nining akan menyalahkannya.
"Nak Niki, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, nak. Kamu sudah terlalu memuja Nata. Mendewakan ia. Bahkan sampai rela mengorbankan persahabatan kamu demi dia. Siapa sih dia itu dibandingkan sahabat kamu? Yang sudah lama ada di samping kamu dalam suka maupun duka."
Kalimat menohok dari ibu Nining mengena di hati Niki. Menghujam tepat pada hatinya. Ia setuju dengan ucapan ibu panti itu.
"Boleh kamu mencintai seseorang. Boleh. Tidak ada yang melarang. Namanya juga cinta, nggak bisa kita tebak kapan datang dan kepada siapa datang Tetapi, jangan sampai kita terlena akan cinta itu. Jangan sampai tak bisa menguasai diri hanya karena cinta tadi."
"Nak Niki tega, menyakiti perasaan sahabatnya hanya karena ia membela nak Niki di hadapan orang banyak. Ia tak mau nak Niki terluka. Ia tak mau nak Niki dipermalukan di depan banyak orang. Tapi, nak Niki malah menyalahkannya."
"Ibu tau, Sandra sudah berbuat kekerasan dengan menampar laki-laki itu. Ya, ibu tau karena dia terbawa emosi. Dia juga salah memang."
Niki bergeming atas semua yang disampaikan ibu Nining. Ia pun membenarkan akan hal itu. Semakin besar rasa penyesalannya. Semakin kuat tekadnya untuk menemukan Sandra dan meminta maaf kepadanya.
"Dalam bersahabat...." sambung ibu Nining lagi.
Sejenak, ruangan itu sepi. Niki sibuk dengan pikirannya. Sementara ibu Nining, memperhatikan Niki dengan seksama. Ia ingin Niki menanggapi ucapan panjang lebar darinya.
"Sebenarnya, Sandra datang ke sini satu hari yang lalu." Ibu Nining memulai lagi ceritanya. Ingin segera mengakhiri kesalahpahaman dua sahabat itu. Yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Niki pun dengan seksama, mendengar cerita ibu Nining. Sudah tak heran ia akan datangnya Sandra ke sini. Ia tau hanya tempat ini lah yang menjadi tujuan Sandra selain kost-kostannya dan juga rumah Niki.
"Ibu sudah tau semua ceritanya dari Sandra. Tetapi ibu memutuskan untuk tidak memihak satu orang. Makanya ibu mendengar juga semua cerita kamu tadi. Jadi, ibu berpesan temuilah dia. Dia tak akan meninggalkan kamu. Dia hanya melakukan apa yang kamu pinta," ucap ibu Nining meyakinkan Niki.
"Jika memang kalian ditakdirkan untuk menjadi sahabat, maka kalian akan dipertemukan. Tak peduli dimana itu, tak peduli dalam keadaan seperti apa. Karena seorang sahabat, dia akan menaruh kasih kepadamu dalam keadaan apapun. Perjuangkan ia. Tak mudah mencari seseorang yang seperti itu.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
__ADS_1
Esoknya, Niki sudah berada di sekolah seperti biasa. Kali ini ia datang lebih awal dari biasanya. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah demi bisa bertemu dengan Sandra. Lalu mengajak gadis itu bicara empat mata, face to face.
Niki tak langsung masuk kelas. Ia sengaja menunggu di gerbang sekolah. Takut ia lengah hingga Sandra sudah lewat. Ia berjaga bak satpam penjaga. Menggantikan satpam yang belum muncul batang hidungnya.
"Sepi banget ya. Nggak enak sendirian. Coba kalau ada Sandra," gumamnya seorang diri.
Niki menyisiri ke segala arah sekolah itu. Benar, tak ada tanda kehidupan disana. Ia sendirian. Membuat bulu kuduknya merinding.
Untuk mengusir rasa takut, sepi dan bosannya, ia mencoba bermain hitung-hitungan. Menghitung mulai dari angka terkecil hingga terbesar sampai seribu. Kemudian dari angka terbesar ke terkecil. Dari seribu hingga satu.
Sudah tiga kali ia mengulangi permainan itu. Tetapi nyatanya, masih diselimuti kesepian, kebosanan bahkan ketakutan ia. Lalu, dengan keberanian yang ia coba timbulkan, ia mencoba permainan itu lagi. Berharap di tiga ronde berikutnya, sepi itu menghilang.
Benar. Ia sudah menyelesaikan ronde ketiga permainan itu.
" 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, 1." Niki mengakhiri permainannya dengan mata yang masih terpejam. Senggaknya dengan bermain begini, ia tidak terlalu merasa jenuh menunggu. Teralihkan pikirannya ke angka tersebut.
"Lho, Neng Niki?"'
Tiba-tiba seseorang menyapa Niki. Membuat Niki langsung membuka mata setelah ia mengucap syukur atas kedatangan seseorang itu.
Sebenarnya ia yang datang kepagian atau bagaimana? Niki lupa melihat jamnya. Biasanya ia memakai jam di tangannya. Tapi kali ini tidak.
"Neng Niki ngapain ke sini?"' tanya orang itu lagi.
"Ngapain?" batin Niki mengulang pertanyaan tersebut.
Dia adalah pak Komang. Penjaga sekolah.
"Pak Komang? Selamat pagi, pak." Niki menyapa terlebih dahulu lalu menyalami lelaki paruh baya itu.
"Selamat pagi. Neng Niki ngapain ke sekolah? Bapak kita tadi siapa," celetuk pak Komang.
__ADS_1
"Ini kan hari Minggu, neng."
To be continue.....