
Happy Reading!
"Besok kan malam minggu. Kita keluar yuk!"
Nata diam saja.
"Ayang Nata, yuk lah. Buang-buang suntuk gitu lho. Masa sih kamu nolak cewek se cantik aku buat jalan-jalan. Di luar sana banyak yang antri lho pengen jalan sama aku."
Nata masih diam saja.
"Ayang Nata, please."
Berbagai cara sudah Niki lakukan. Akan tetapi si batu es yang satu ini tak mau juga mencair. Entah sampai kapan kesabaran Niki akan bertahan menghadapi cowok seperti itu.
Tiba-tiba, ada yang menarik pergelangan tangan Niki.
"Sini kamu."
"Apa sih, San? Ganggu aja deh. Aku kan mau nge-date sama ayang Nata."
"Nik, time is over. Kamu kalah. Sekarang, traktir aku makan."
"Jangan gitu dong, San. Kasih Niki waktu hingga besok malam ya, ya, ya."
Niki sampai mengatupkan kedua tangannya. Memohon kepada Sandra untuk memperpanjang waktu taruhan mereka.
"No. Dari awal kita nggak ada kesepakatan kek gitu. Mulai hari ini, perjanjian kita usai dan kamu yang kalah. Ingat kan apa dulu hukumannya kalau kalah?"
"Iya iya. Tapi .. aku ... nggak ikhlas, San. Kita mau nge-date besok malam minggu."
Niki masih tidak rela kalau waktunya membuat Nata jadi kekasihnya telah habis. Memohon pun ia, tak ad pengaruhnya sedikit pun pada Sandra.
"Kita? Kamu kali. Sendirian," tekan Sandra.
"Tega kamu, San sama aku. Kamu kan sahabat aku," ucap Niki cemberut.
"Justru karena aku sahabat kamu, Nik. Aku nggak mau kamu mengabaikan harga diri kamu hanya gara-gara laki-laki seperti Nata. Cukup, Nik. Sudah cukup. Aku nggak kuat liat kamu diginiin." Sandra juga tak kalah teguh dengan pendiriannya.
"Inilah ujian cinta, San. Apapun akan aku tempuh sebelum aku lelah. Segala cara akan aku lakukan sebelum aku menyerah. Aku mohon, please hari ini terakhir. Kan belum masuk hari esok, jadi masih terhitung "
"Please ya, San. Aku akan mencoba jurus terakhir ku ya." Niki memelas. Membuat Sandra tak kuasa dengan sahabat nya itu.
"Oke Fine. Aku kasih waktu sampai pukul sebelas lima puluh sembilan malam. Lewat dari itu no way. Tidak ada lagi toleransi. Titik sebesar lesung."
"Kamu memang sahabat terbaikku." Niki langsung menghambur memeluk sahabatnya itu. "I love you."
"Iih, jijik. Jangan cium aku. Hilang kevirginan ku gara-gara kamu. Udah ah. Aku pergi dulu. Bye."
Dengan kesal, sekaligus tersenyum, Sandra meninggalkan sahabatnya itu. Ia akan memberi kelonggaran kali ini. Tapi kalau sampai Nata tidak memperlakukan ia dengan baik maka, Sandra tidak akan tinggal diam.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
"Assalamualaikum."
__ADS_1
"Alamak, suaranya ganteng banget di telpon. Merdu lagi. Bikin tambah sayang," batin Niki, kembali menghalu usai mendengar suara sapaan Nata dari sebrang telpon.
"Gendang telingaku meronta mendengarnya. Oh ayang Nata, kamu telah mengoyak hatiku yang terdalam. Menyimpan rindu yang menggebu di dalam. Nggak apa-apa berat sepeti kata Dylan. Tapi aku suka," imbuh Niki dalam batinnya.
Bahkan sampai sekian detik, tak ada sahutan dari balik telpon membuat Nata menyapa lagi si penelpon. Berulangkali hingga sampai ia menaikkan nada suaranya.
"Hallo ... Siapa ini?"
"Hallo." Sudah mulai meninggi nada suara Nata karena tak sahutan dari sebrang sana.
"Hallo ayang Nata. Ini aku Niki "
"Dari mana kamu tau nomor aku?"
"Adalah,' jawab Niki sambil tersenyum.
"Ada apa? Kalau nggak ada yang penting aku tutup ya?"
"Eh ja-jangan gitu dong, bang. Aku mau ngomong penting sama kamu."
"Ya udah buru."
"Niki cuma bilang i miss you. Niki cuma bisa bilang i love you."
Tuuuuuuuut
Tuuuuuuuut
Tuuuuuuuut
"Ihh, kok dimatiin sih?" tanyanya sewot.
"Lenyap uangku lima ratus ribu, eh si ayang malah nggak berhasil aku taklukkan. Gimana dong?" Niki bicara sendiri.
"Mendingan, aku ke perpustakaan aja. Pasti ajang Nata ada di sana. Aku akan memberi kejutan untuknya. Dengan begitu ia akan terharu dan mau menerima aku sebagai pacarnya."
Flashback
"Lim, minta aku nomor Nata dong."
"Ogah. Nanti aku dipecat jadi sahabatnya."
"Please dong, Lim. Aku akan lakukan apa aja demi bisa dapat nomor Nata. Hanya kamu yang bisa bantu aku, Lim. Aku mohon."
"Serius kamu akan lakuin apa aja?"
Niki mengangguk cepat.
"Aku mau ponsel baru dong."
"Ihh, jangan itu dong Lim. Aku kan nggak uang sebanyak itu untuk hp terbaru seperti yang kau minta. Yang lain aja ya ya. Please."
"Katanya mau lakuin apa aja."
__ADS_1
.
"Tapi kan harus sesanggup kita, Lim. Kalau nggak sanggup kan kita nggak bisa maksain."
"Ya udah aku ganti "
"Apa?"
"Uang lima ratus ribu rupiah."
"Yakin mau uang? Nggak mau yang lain?"
"Yakin. Dan aku mau cash."
"Siap. Nanti malam aku kasih. Tapi, kamu harus bisa membawa Nata bersamamu nanti malam. Uang itu akan menjadi milikmu," jawab Niki bahagia. Senyum di wajahnya sudah cukup mewakili kalau ia memang bahagia sekarang.
Nomor telpon orang yang ia suka sudah berada dalam genggaman. Sekarang tinggal memikirkan ide brilian, gimana agar Nata tergila-gila padanya. Terhipnotis akan kecantikan, ucapan dan perbuatannya.
Flashback off
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
"Eh eh, ada apa itu? Ramai banget?"
"Iya. Nggak biasanya. Siapa sih yang sudah bikin onar di perpustakaan ini?"
"Nggak takut apa dia kena marah oleh guru?"
"Iya. Penjaga perpustakaan nya kok diam aja sih?"
Begitulah omelan-omelan murid-murid yang hendak menuju perpustakaan siang ini, setelah waktu istirahat.
Dalam waktu sekejap, ruang perpustakaan sepi pengunjung. Bukan mau membaca atau meminjam buku, tapi penasaran dengan apa yang terjadi di sana.
"Nata Prasetyo, hari ini, Jumat, 12 Mei 2023, pukul 10 lewat 40 menit tiga puluh lima detik. Aku, Nikita Demora, mengungkapkan bahwa aku mencintai kamu setulus hatiku. Mencintaimu dalam segala kelebihan dan kekurangan mu."
"Hari ini pula, aku meresmikan hubungan kita. Memberitau kepada seluruh dunia sekolah bahwa aku dan kamu telah resmi berpacaran. Disaksikan oleh beberapa guru dan ratusan siswa."
"Bagaimana? Setuju?"
Niki menyodorkan se buket bunga ke hadapan Nata.
Riuh sorak Sorai, tepuk tangan memenuhi perpustakaan yang besar itu. Nata, dapat melihat dengan jelas bagaimana orang-orang menatapnya sekarang.
Tangannya sebelah kanan mengepal di samping pahanya, menahan amarah atas tingkah konyol Niki yang sudah membuat amarahnya naik ke ubun-ubun.
Beberapa siswa ada yang mengabadikan momen itu ke dalam ponselnya. Membuat Nata semakin marah. Bagaimana kalau papa Tirta nanti melihat ini semua? Bagaimana ia akan menjawab? Sementara dirinya sudah berusaha sebaik mungkin untuk menuruti permintaan papa Tirta selama ini.
Akankah ia kehilangan kameranya? Yang di dalamnya banyak kenangan dan mimpi. Oh, rasanya ia tak sanggup kalau sampai itu terjadi. Terlalu menyakitkan.
Akankah ia kehilangan ponselnya?
"Dasar cewek gila! Kampungan!" umpatnya dengan sarkas.
__ADS_1
Ia mengambil buket bunga itu, lalu membuangnya ke lantai. Lalu menginjaknya layaknya kotoran.
To be continue....