
Happy reading!
Bagai disayat pisau, teriris hati Nata mendengar kalimat tudingan papa Tirta terhadap dirinya. Kalimat yang baru kali ini ia dengan seumur hidupnya.
Apa benar karena dirinya mamanya meninggal? Apa benar semua apa yang dikatakan papa Tirta?
Nata berdiri dengan kaki yang gemetar hebat. Hampir saja ia tak kuasa berdiri akibat tubuhnya hang nyaris kehilangan keseimbangan.
"Nggak. Papa bohong. Nggak mungkin mama meninggal karena Nata. Papa bohong. Pasti papa adakah penyebab sebenarnya, iya kan? Jawab, pa!"
"Tidak seharusnya papa menuduhku seperti ini. Melempar kesalahan yang papa perbuat sendiri kepadaku. Iya kan?"
Amarah yang ada dalam diri papa Tirta pun tak terelak lagi. Dengan sarkas ia menampar wajah Nata hingga memerah. Sudut bibirnya bahkan sampai meneteskan darah. Tenaga papa Tirta yang tak terkontrol, membuat darah dagingnya sendiri terluka.
Pun sama. Papa Tirta terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan. Ia menatap telapak tangannya yang baru saja menampar anaknya itu. Ikut bergetar dan terasa panas. Benar, tenaganya kuat saat menampar wajah putranya itu. Hingga sampai memerah.
Merasa bersalah, segera papa Tirta menyingkir dari tempat itu. Pergi entah kemana meninggalkan Nata yang masih shock. Kali pertama dalam hidupnya pula, sang papa berbuat sejauh ini, sekasar ini kepadanya.
Akan tetapi yang menjadi poin pentingnya adalah bukan sakitnya tamparan papa Tirta. Tak peduli ia dengan darah yang menetes, pipi yang bengkak dan panas. Nata lebih penasaran dengan perkataan papa Tirta tadi. Yang mengatakan dengan sangat lantang bahwa dirinyalah penyebab mamanya meninggal.
"Nggak. Itu nggak mungkin. Papa pasti bohong. Waktu itu kan papa yang tak peduli sama mama. Papa lebih peduli dengan pekerjaannya sehingga tidak membawa mama ke rumah sakit. Papa yang salah. Jelas-jelas dia yang salah tapi kenapa melempar kesalahannya kepadaku?"
__ADS_1
Nata bermonolog dengan dirinya sendiri. Bertanya dan dijawab oleh dirinya sendiri.
"Aku harus mencari tau. Akan ku perjelas ini sama papa,' ucapnya lagi.
Nata segera masuk ke kamarnya, menyimpan tas, mandi lalu berganti baju. Ia harus menanyakan hal ini kepada papa Tirta. Nata sudah tidak ada kompromi lagi. Ini harus segera dituntaskan. Begitu keinginan Nata dalam hati.
Nata menatap dirinya di depan cermin. Menatap wajahnya yang masih memerah, agak sakit. Serta sudut bibir yang terluka. Diusapnya perlahan. Perih.
Lalu Nata teringat dengan niatnya. Segera ia meninggalkan kamarnya dan bergegas menuju kamar papa Tirta. Berharap, malam ini ia akan mendapat jawaban dari teka-teki kematian mamanya.
Beberapa kali Nata mengetuk pintu kamar itu. Tetapi sama sekali tidak ada reaksi dari dalam. Suara apapun tiada terdengar dari dalam kamar itu. Hanya sepi.
"Papa, buka pintunya! Nata mau ngomong sama papa. Penting."
Karena tidak sabar, Nata pun akhirnya membuka pintu itu. Biar nanti dikata sang papa ia tak sopan, tapi apa boleh buat. Nanti akan ia cari alasannya kenapa masuk ke dalam kamar sang papa dengan sembarangan.
"Pa, papa."
Nata memanggil papanya saat sudah masuk ke dalam kamar itu. Setiap sudut ia telusuri, tapi lagi lagi orang yang ia cari tak ada. Hanya aroma khas kamar itu yang tercium.
Menajamkan telinga, ia berjalan menuju kamar mandi. Bisa jadi papa Tirta ada disana. Nata sampai mencondongkan kepalanya, meletakkan telinganya pada pintu itu. Berusaha mendengar suara dari dalam kamar mandi itu.
__ADS_1
Tetapi hanya sepi yang ia dapati. Tak ada suara dari sana. Bahkan suara air gemericik pun tiada. Sepertinya keinginannya untuk mencari tau mengenai kematian mamanya tidak bisa ia dapatkan hari ini.
"Haaah." Nata menarik napas kasar. Kesal ia.
"Lagi lagi papa hanya perduli dengan pekerjaannya. Selalu saja begitu. Tak pernah ia peduli dengan perasaan ku. Tak pernah ia menanyakan apa yang kumau. Bagaimana aku. Apa yang membuat aku bahagia."
"Papa egois."
Nata meninggalkan kamar itu membawa kesalahan yang mendalam. Tak tau ia harus kepada siapa ia lampiaskan semuanya sekarang. Tak ada tempat untuk ia bercerita.
Nata berjalan dengan malas ke dalam kamarnya. Sendirian. Ya, hanya seroang diri ia berada di rumah itu sekarang. Rumah yang besar tapi tak membuat ia merasa nyaman.
Dengan kasar ia membuka pintu kamarnya dan menutupkannya dengan kasar pun. Bi Mun, yang melihat semua itu merasa iba. Bertahun-tahun ia sudah bekerja di keluarga ini. Tahun terakhir ini ia baru diberi mandat untuk menginap, dengan alasan papa Tirta supaya ada yang menemani Nata di rumah ketika ia bekerja.
"Kasihan kamu, nak. Tapi bibi tak bisa berbuat apa-apa. Semuanya hanya bapak yang mengatur," gumam bi Mun.
Bi Min melanjutkan tugasnya, membersihkan meja makan tempat keluarga itu makan. Tetapi apa yang dibersihkan, bahkan makanan sedikitpun tak ada yang menyentuh. Semuanya masih utuh.
"Kalau lama-lama begini, nak Nata bisa sakit maag. Begitupun dengan bapak."
Bi Mun membereskan makanan yang tak terjamah itu.
__ADS_1
To be continue....