Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 18. Sahabat Laki-laki dan Perempuan


__ADS_3

Happy Reading!


"Ha-hari Minggu, pak? Bukannya ini hari Jum'at ya, pak?"


"Astaga, neng neng. Ini hari minggu atuh neng. Bukan hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu."


Lelaki paruh baya itu sampai menjabarkan setiap nama hari.


"Yang benar, pak?"


"Neng, neng. Ada-ada saja. Memangnya di rumah neng nggak punya kalender?"


"Ada, pak. Tapi lupa lihatnya. Hehe."


Niki merasa malu sekali. Untung saja hanya pak Komang yang melihatnya. Jadi rasa malunya tidak terlalu besar. Ia pun bisa menyembunyikannya dengan sangat baik. Sehingga pak Komang tak bisa membacanya.


"Ka-kalau gitu Niki pamit ya, pak. Trimakasih. Semoga harimu menyenangkan."


Buru-buru Niki meninggalkan pak Komang, setelah Niki menyalamnya.


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...


"Kalian berdua kayak orang pacaran aja. Malah main kucing-kucingan. Awas ntar ada yang curiga. Soalnya kan mulut netizen kan maha tau segalanya. Maha pedas dan maha julid. Hati-hati jadi omongan."


"Ih, si mama maksudnya apa sih? Curiga gimana? Kita kan emang sahabatan. Sahabatan yang sedang salah paham. Bisa juga gitu mah. Beda kalau sahabatan sama cowok. Dari rasa sahabat, bisa jadi cinta."


"Lha, apa salah sahabatannya sama cowok?"


"Ya nggak salah si ma. Tapi, bila merasa nyaman dan timbul cinta bisa jadi persahabatan itu hancur. Apalagi cintanya bertepuk sebelah tangan."


Mama Lidia terdiam. Merasa tertohok dengan kalimat yang disampaikan Niki. Meski terkesan ceplos, tapi itu ada benarnya juga.


Mama Lidia jadi teringat kisah kasih semasa ia SMA sama seperti Niki sekarang ini. Reflek, ia tersenyum karena terbayang akan masa itu.


"Mama kenapa senyum-senyum?"

__ADS_1


"Nggak. Siapa yang senyum?" Mama Lidia gugup.


"Alah. Mama nggak usah bohong. Niki bisa lihat kok mama senyum. Ingat sesuatu ya? Atau jangan-jangan, mama ada kisah seperti yang Niki bilang tadi?"


Deg


Pertanyaan Niki menjurus langsung ke intinya. Membuat mama Lidia tak bisa berkata apa-apa. Tetapi, sebaik mungkin ia menutupi kisah itu dari anaknya. Kisah yang ia ingin jangan sampai terulang kepada putrinya tersebut.


"Makanya, jadi cewek itu jangan terlalu membuka hati pada laki-laki. Jangan terlalu mengumbar, jangan terlalu menunjukkan kalau kamu suka sama dia. Sakit juga nanti saat ditolak dan dia pun tak mau tau. Ujungnya kamu kan yang menderita."


"Apaan sih mama dianya gitu sama anaknya?"


"Mama nggak doa. Mama hanya memberi sebuah asumsi."


"Ma, ucapan itu adalah doa. Jadi apa yang mana ucapkan, itu juga tergantung pada ..."


"Uda Uda. Nggak usah diperpanjang. Debat sama kamu memang nggak ada habisnya," sela mama Lidia. Memotong kalimat Niki.


"Mana sayurannya? Udah selesai belum?"


"Lama banget," protes nama Lidia. Ia menilik ke arah dimana Niki yang sedang duduk selonjoran, membelakanginya.


Perlahan mama Lidia berjalan menghampiri putrinya itu.


"Lho, kok bentuknya kayak gini? Besar banget lagi. Kamu mau kasih manusia makan atau jerapah?"


Mama Lidia terbelalak dengan bentuk potongan wortel dan kentang hasil irisan Niki. Bentuk yang tak beraturan dan juga ukuran yang besar.


"Ihhh, mama. Itu kalau udah dimasak, ketemu di kuali sama garem pasti rasanya mantul. Tinggal kasih aja salam. Selamat malam, kentang! Beres kan," ujar Niki malah bercanda.


"Itu kan iklan. Ah kamu ini. Disuruh iris wortel kentang malah gini bentuknya. Mau dimasak gimana juga kalau begini. Ah kamu, nambahin kerjaan mama deh," omel mama Lidia.


"Inilah kalau nggak pernah masak. Mau ngapain pun pasti nggak bisa," sungut mama Lidia.


"Salah siapa?"

__ADS_1


"Ya salah kamu lah. Kan kamu yang nggak bisa."


"Salah mama. Kenapa nggak pernah ngajarin Niki "


"Memang Niki mau kalau mama ajarin?"


"Maulah. Mama aja yang nggak pernah ngajarin. Bahkan mama sering tuh pesan online daripada masak sendiri."


"Terus kenapa? Kamu nggak terima?"


Demikianlah perdebatan-perdebatan ibu dan anak yang sedang sibuk di dapur entah mau masak apa. Biasanya, kalau mama Lidia malas masak, ia akan pesan online.


Tinggal hanya berdua dengan sang putri membuat mama Lidia malas memasak terkadang. Karena apa yang ia masak, seringnya berlebih. Akibat Niki lebih sering pula makan di luar saat siang hari.


Tetapi, bila suaminya pulang ia akan memasak. Bahkan tak pernah beli online. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk makan di luar, famili time.


"Jawab jujur, masakan mama enak nggak?"


"Mama mau tau aja atau mau tau banget?"


"Maaf ya kalau masakan mama nggak enak. Jujur mama udah berusaha untuk melakukan yang terbaik. Tapi kalau pada akhirnya putriku dan suamiku nggak suka masakan mama, ya mama bisa apa."


Wajah mama Lidia seketika sendu. Ia merasa kalau ia belum menjadi ibu dan istri yang baik. Masih banyak kurangnya. Masih banyak yang harus ia perbaiki.


"Mama kok gitu sih ngomongnya. Masakan mama itu kan enak tapi. "


"Udahlah, nggak usah diperpanjang. Lebih baik kamu mikirin tuh persahabatan kamu dengan Sandra."


"Udah, kamu mandi gih. Terus kita makan diluar malam ini. Berdua. Sesekali nggak apa-apa dong walau papa nggak bareng kita."


"Asiiik! Makan di luar. Berarti jadi dong sekalian shoppingnya."


"Terserah kamu sayang. Apapun untukmu."


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2