
Happy Reading!
Yang menatap Niki dengan iba sedari tadi adalah Sandra. Namun Salim yang angkat bicara dengan nada santai terhadap guru fisika tersebut. Entah dia benar-benar iba atau tidak hanya dia yang tau. Jarang ia memperhatikan Niki seperti itu. Ia cenderung cuek akan perempuan.
"Kenapa, Salim? Kamu mau menggantikan posisi dia?" tanya pak Andrew.
Skakmat. Salim tak bisa bicara apa-apa lagi.
"Ya jangan dong, pak. Nggak gitu juga kali caranya," selanya langsung.
"Lalu, kamu kenapa protes?"
Benar kan. Salim bukan iba kepada Niki yang sesungguhnya. Entah apa maksudnya tadi untuk bicara seperti itu kepada pak Andrew. Jika memang ia tulus iba pada gadis ceplos itu, pasti ia mau menggantikan posisi Niki.
"Dasar munafik," cibir Sandra kepada Salim dengan berbisik. Tapi Salim bisa mendengar dengan jelas. Karena bisikan Sandra kuat dan jelas didengar oleh telinga.
Salim sudah kepalang malu. Ia pun akhirnya hanya bisa membisu. Sudah tak tau lagi ia harus berkata apa.
Pak Andrew juga memelototkan matanya pada Sandra. Beliau juga mendengar ucapan Sandra barusan. Cukup dengan pelototan mata itu, Sandra pun mengubah sikap, duduk manis seperti inginnya pak Andrew.
"Maafkan saya, pak," ucapnya tertunduk.
Begitulah akhirnya, hingga pak Andrew memerintahkan kepada sepasang muridnya itu agar melepaskan jeweran telinga mereka. Dapat dilihat bahwa Niki tidak menarik telinga Nata. Sementara telinga Niki, memerah akibat tarikan tangan Nata.
"Dasar batu. Tak punya perasaan. Sahabat aku sudah kamu siksa. Tapi kamu nggak punya rasa empati sedikit pun. Jangankan empati, simpati kamu saja sudah hilang," batin Sandra. Ia merasa, nanti harus memberi pelajaran pada laki-laki yang satu itu.
Diam-diam, Niki mengusap-usap telinganya yang merah itu. Berharap tidak ada yang melihat kalau ia saat ini dilanda rasa sakit dan panas pada telinganya akibat tarikan tak bersimpati dari Nata.
"Nggak apa-apa deh sakit dan panas, yang penting ayang Nata yang berbuat," batinnya. Tanpa ia sadari ia tersenyum. Mengundang kecurangan di hati pak Andrew.
"Niki, kenapa kamu tersenyum? Masih kurang jewerannya?' tanya pak Andrew, membuyarkan lamunan Niki.
"Iya, pak eh nggak, pak," jawab Niki gugup.
__ADS_1
"Duduk dan kerjakan tugas kamu. Lanjutkan pembedahan soalnya!"
"Saya tidak mau main-main lagi. Ini waktu sudah semakin sempit," ucap pak Andrew menegaskan sekaligus mengingatkan.
"Ingat, kalian bekerja secara tim. Bukan individual. Siapa yang tidak bisa bekerja dalam tim, segera mundur dari sekarang!" pamit pak Andrew lagi.
"Saya tidak mau kalian mengikuti olimpiade ini karena terpaksa. Jadi lebih baik dari sekarang mundur jika tidak berniat mengharumkan nama sekolah. Jika tidak berniat mengikuti lomba bersama tim, saya tidak memaksa. Dan saya juga tidak mau membujuk. Kalian sudah SMA, bukan lagi anak TK yang harus digendong, dibujuk rayu dan disanjung-sanjung."
"Iya, pak. Kami siap," jawab keempat muridnya itu dengan lantang.
"Bagus!"
Keempat manusia itu pun kembali ke tugas masing-masing. Mereka serius mengerjakannya. Pak Andrew melihatnya itu sambil memuji mereka dalam hati.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
Gelap dan hening ruangan itu menandakan bahwa tak ada penghuni di sana. Dengan berjalan pelan-pelan, mengangkat kaki dengan sangat hati-hati, Nata memasuki ruangan ini. Mengendap-endap bak maling yang ingin mencuri seisi rumahnya sendiri Padahal rumah itu, rumah yang sejak ia lahir telah ia tapaki. Bersama papanya dan juga mamanya yang terlebih dahulu meninggalkan dirinya.
"Darimana kamu?"
"Darimana saja kamu? Jam berapa ini?"
Suara bass itu bertanya lagi. Semakin mengagetkan Nata yang belum siap akan jawaban apa yang akan ia berikan.
Apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa papa Tirta sudah ada di rumah jam segini? Bukankah biasanya ia pulang dini hari? Bahkan lebih sering tidak pulang ke rumah entah menginap dimana. Hanya beliau yang tau.
"Kamu nggak dengar papa bertanya? Kamu tuli? Kamu bisu? Hah?"
Begitu sarkasnya papa Tirta mengatakan hal seperti itu kepada anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri. Tidak bisakah ia bertanya secara baik-baik?
"Na-Nata baru pulang sekolah, pa."
Nata sampai terbata menjawab pertanyaan papa Tirta.
__ADS_1
"Pulang sekolah? Jam segini?"
Papa Tirta menatap jam di dinding yang berdetak dengan kokoh.
"Di sekolah mana yang ada pulangnya jam 7 malam?" sarkas papa Tirta.
"Na-Nata kerja kelompok, pa. Sebentar lagi kan kita akan ikut olimpiade." Nata mencoba menjawab. Mencari pembelaan atas tuduhan papa Tirta.
"Kamu nggak usah berbohong. Papa sudah tau kalau kamu tadi sudah pulang dari sekolah jam lima. Lalu kemana kamu pergi setelah itu? Hah?"
Nata terdiam. Menunduk, menatap jari-jari kakinya yang sudah bertelanjang. Apa yang dikatakan papa Tirta benar adanya. Ia tadi sudah pulang tugas kelompok jam lima. Ia tak tau harus menjawab apa sekarang.
Dengan kuat, ia mencengkram tasnya yang ia gendong di pundak. Seolah tak ingin ia orang lain mengambil tas itu darinya.
"Papa tau darimana Nata pulang jam lima?" tanya Nata kemudian. Ia memberanikan diri untuk bertanya. Ditatapnya papa Tirta dengan takut-takut.
"Kamu tidak perlu tau darimana papa tau semuanya. Sekarang jelaskan ke papa kamu dari mana. Apa kamu pacaran? Pergi ke tempat-tempat gelap? Dengan perempuan yang bernama Niki itu? Perempuan yang manja, pecicilan dan tak punya sopan santun itu?"
Sukses sudah papa Tirta mengata-ngatai Niki yang tidak ada di rumah itu sama sekali. Tetapi terbawa-bawa oleh papa Tirta. Teringat ia saat dulu papa Tirta menyita ponsel Nata, Niki lah yang selalu menelponnya tak mengenal waktu.
"Maksud papa apa sih? Orangnya nggak di sini juga jadi ikut kena imbas. Salah dia apa sama papa?" protes Nata. Menurutnya, papa Tirta sudah keterlaluan.
"Sejak kamu bergaul dengan gadis itu, kamu semakin bobrok dan tak bisa diatur. Tak mau mendengarkan nasihat orang tua. Membawa pengaruh buruk padamu."
Mengapa ia menyangkut pautkan masalah Nata dengan Niki. Dan kenapa pula papa Tirta menyalahkan Niki atas apa yang terjadi pada Nata.
"Cukup, pa! Niki tidak salah. Ini tidak ada hubungannya sama sekali. Papa jangan menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi sama Nata. Ini semua terjadi, tak lain tak bukan karena ulah papa sendiri."
Dengan lancang, Nata menuding papanya tersebut. Rasanya tak bisa lagi ia menahan amarah yang sudah bergejolak di dada. Yang sudah ia tahan beberapa tahun ini.
"Kamu menyalahkan papa? Oh, bagus kamu. Kamu membela orang luar dan menyalahkan papa kamu sendiri."
Tak jauh beda. Papa Tirta pun marah sekarang. Sudah seusia ini Nata. Baru kali ini ia mulai membantah. Tak tau apakah ini awal atau hanya sementara saja.
__ADS_1
"Sadar kamu. Gara-gara kamu, mama kamu meninggal."
To be continue....