
Happy Reading?
"Kasian banget Niki ya." Tito juga ikut mendramatisir.
"Iya, kasian banget. Baru seminggu yang lalu ia terluka. Parah lagi. Dobel. Bukan hanya kaki tapi juga hati. Tapi...." Kalimat Salim lebih penekanan.
Mereka semua tau itu kalimat menjurus kepada siapa.
"Benar. Seseorang telah melukainya waktu itu. Pasti masih terasa bekasnya. Dan sekarang, terluka lagi. Kasian banget Niki," tambah Agus lagi. Lebih menyindir pada Nata tentunya.
Mereka bertiga kesal dengan sahabatnya yang satu itu. Sepertinya benar, hatinya sudah seperti batu dan sedingin es balok. Tak ada respon sedikit pun yang mereka baca atas kejadian yang menimpa Niki sekarang.
"Kita nanti jenguk Niki ya di UKS," pungkas Tito kemudian. Ia kesal karena tak ada reaksi Nata sedikitpun.
Nata malah tetap fokus dengan lembaran kertas di hadapannya. Penanya sedang menari-nari di atas kertas itu sembari ia mendengarkan semua kalimat teman-temannya yang menyindir padanya.
...\=\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
"Kasian banget Niki. Pasti dia kesakitan banget sehingga ia sampai terpejam. Ia pasti berusaha menyembunyikan sakitnya. Secara Niki kan gitu orangnya. Tidak ia menunjukkan pada orang lain kalau ia merasa kesakitan," batin Sandra.
"Udah sakit, masih saja gengsi mengakuinya. Dasar, sok kuat," celetuk Sandra lagi di hati.
Sandra menatap dengan nanar Niki yang terbaring dengan napas yang teratur. Sementara dirinya, menunggui Niki di samping. Duduk di kursi yang ia tarik sebelumnya.
"Nggak sudah se-drama itu. Aku nggak apa-apa kok. Jangan sedih," celetuk Niki tiba-tiba.
Sandra langsung kicep. Ia merasa dipermainkan oleh sang sahabat. Bagaimana ia bisa berkata kalau ia baik-baik sementara lukanya cukup parah menurut Sandra.
"Masih lebih sakit luka yang diberikan Nata," ucap Niki lagi.
Masih hening. Tak mau Sandra buru-buru untuk menyela atau menyahuti sahabat usilnya itu. Si ratu drama dan si ratu gengsi.
"Maafin aku ya, San. Aku udah nyakitin hati kamu. Aku udah ngusir kamu dari hidup aku. Aku memang egois. Aku...."
"Udahlah Nik. Nggak usah dibahas. Sekarang yang jauh lebih penting, kamu sehat. Kamu baik-baik saja itu udah cukup buat aku. You're tetap my best friend," sela Sandra.
"Kamu nggak marah ke aku?" tanya Niki.
"Nggak. Kenap aku harus marah sama kamu?"
"Kalau kami nggak marah sama aku, kenapa tadi kamu menghindar saat aku panggil?" Niki menckba mengorek kemana Sandra selama ini pergi. Kenapa ia tak kelihatan. Kenapa ia menghindar.
"Kamu lupa, kami bilang apa ke aku?"
__ADS_1
Niki mengangkat alisnya mendengar pertanyaan Sandra.
"Aku? Bilang apa memang?"
"Dasar pikun. Sudahlah, kamu istirahat gih. Aku tungguin."
"Jawab dulu kenapa. Aku bilang apa ke kamu."
"Nikita Demora, bukannya kamu hang nyuruh aku buat menjauh? Bukannya kamu pula yang suruh aku untuk diam ke kamu? Lupa?" tekan Sandra pada kata-katanya.
Niki terdiam. Senjata makan tuan. Ia tercubit dengan kata-katanya sendiri.
"Maafin aku ya, San. Saat itu aku marah. Seharusnya kan kamu tau kalau aku marah kayak apa? Ya itu nggak sengaja aku sebutin. Bahkan aku lupa akan apa yang sudah aku sebutin ke kamu. Maaf ya, San. Aku ngaku salah. Aku salah banget sama kamu. Aku udah nyakitin kamu. Aku udah usir kamu. Aku udah-"
Sandra langsung memeluk sahabatnya itu. Ia senang, Niki sudah mengakui kesalahannya. Ia sudah menyadari semuanya. Ia sudah menyesali semuanya.
"Sekarang bagi aku, kamu yang lebih penting dari dia yang sudah nyakitin aku. Aku akan dengarkan semua apa katamu."
"Yeee, nggak semua juga kali, Nik. Memangnya aku mama kamu. Ah kamu, ada-ada saja. Udah-udah, jangan di bahas lagi."
Kedua gadis itu saling berpelukan. Saling mengakui kesalahannya masing-masing. Berjanji untuk salin mendukung, tetap menjadi sahabat terbaik.
"Bantu aku ke kelas ya," pinta Niki.
Nah kan, muncul sudah ke-protektifaon seorang Sandra Mahalina.
"Udah, sayang. Ihh, cerewet banget sih. Mulai deh."
"Ya nggak gitu. Tapi tadi kamu itu kayak kesakitan banget gitu. Sampai kamu meringis-ringis, menjamin mata saking sakitnya."
"Hehe." Niki malah cengengesan.
"Kok malah ketawa? Kamu ngerjain aku, Nik?"
"Hehehe."
Niki malah cengar-cengir. Padahal Sandra tadi sudah sangat panik. Sudah sangat ketakutan sekali. Eh taunya, dikelabui oleh Niki.
"Jadi kamu nge-prank aku?"
"Sedikit. Itu hanya akting."
"Dasaaaaar. Aku tuh udah panik banget tadi. Udah takut banget."
__ADS_1
"Takut ga kehilangan aku?"
"Nggak," jawab Sandra ketus.
Kedua sahabat itu mulai bercanda bersama. Saling toel-menoel, saling menggelitik dan saling mengejek. Mereka sudah kembali seperti semula.
"Jadi, gimana rencana kamu selanjutnya?" Sandra mulai membahas masalah serius. Ia juga tampak serius.
"Tentang?"
"Tentang Nata. Kamu mau buat apa?"
"Oh. Kalau soal itu, jangan ditanya. Aku harus tetap berjuang. Sampai ia lulus padaku dan ia sadar bahwa Niki memang untuk Nata."
"Pede banget."
"Biarin. Weeek." Niki sampai menjulurkan lidahnya pada sahabatnya itu.
"Jangan, Nik. Please. Jangan sampai kamu mempertaruhkan lagi harga diri kamu untuk cowok tengil kayak dia. Dia nggak pantes Nik. Kamu itu lantas bahagia dengan yang lain. Pantas dicintai oleh orang lain. Bukan dengan dia yang sudah menginjak harga diri kamu."
"Dasar, cowok kulkas delapan pintu. Nggak punya hati dan perasaan."
Niki senyum-senyum mendengar gerutuan Sandra. Ia senang. Segitu pedulinya Sandra padanya.
"Ku punya solusi untuk ini. Aku yakin ini lagi jitu. Tanpa harus mengorbankan harga diri kamu lagi. Aku yakin, dia pasti akan jatuh ke dalam pelukan kamu. Seperti yang kamu bilang tadi, Niki untuk Nata."
"Caranya gimana?" tanya Niki antusias. Sakit yang ia rasa pada lututnya tadi tidak terasa sama sekali.
"Sini, aku bisikin."
Kedua gadis itu pun saling berbisik. Terlihat lucu, hangat dan menggemaskan.
"Apa? No way. Aku nggak mau, San. Tega banget sih kamu. Aku dong yang menderita?" protes Niki. ia tak setuju dengan ide yang diberikan Sandra barusan.
"Ya ampun Nik. Coba deh, pasti berhasil. Aku akan temanin kamu menjalaninya supaya kamu sanggup. Oke?"
"Tapi, San..."
"Percaya sama aku. Pasti kamu bisa. Dan kelak, kamu akan bahagia karena kamu jatuh ke dalam pelukannya."
Jawaban Sandra begitu meyakinkan. Ia sudah lama memikirkan ini. Nggak sia-sia ia mencari informasi dari Miss Gugel, cara mendapatkan hati cowok dan meluluhkannya. Ia yakin, cara ini akan berhasil. Dan Niki akan bahagia. Begitu pun dengan Nata. Ia pasti tidak akan menyesal mendapatkan gadis seperti Niki.
Hari-harinya akan penuh warna. Tidak akan kaku dan dingin lagi seperti sekarang ini.
__ADS_1
To be continue....