Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 19 Terjatuh Lagi


__ADS_3

Happy Reading!


Udara di pagi hari ini terasa dingin akibat sisa hujan tadi malam. Nampak dedaunan masih ada titik-titik air bekas deraian hujan tersebut. Ditambah lagi embun pagi yang dengan bersahaja menyambut indahnya kilau di pagi itu.


Bersamaan dengan itu, sang fajar telah menyalakan sumbunya walau tak sampai menyentuh sampai ke tulang. Tapi cukup membuktikan pada dunia, bahwa ia baik-baik saja. Bahwa ia telah siap sedia tanpa balasan menurunkan sinarnya kepada setiap umat.


Terlihat pemandangan di pagi hari yang begitu beragam. Salah satunya adalah lingkungan di sekolah Niki saat ini. Nampak dengan jelas murid-murid berdatangan dengan berbagai cara. Benar kata pepatah, banyak jalan menuju Roma.


Sama halnya dengan mereka. Ada yang datang ke sekolah dengan jalan kaki, naik sepeda motor, naik ojek, naik becak, naik angkot, bahkan ada yang baik bus. Ada pula yang paling spesial, diantarkan oleh orangtuanya dengan mobil pribadi.


"Hai, San!" sapa Niki kepada Sandra yang sedang berjalan dari gang sekolah menuju ke gerbang sekolah. Ada senyum tipis di bibir Niki, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa sahabatnya itu baik-baik saja.


Cepat-cepat Sandra melangkahkan kakinya, hendak meninggalkan Niki yang mencoba ingin berbicara dengannya.


Jika ingin jujur, Sandra juga senang melihat Niki sudah baik-baik saja. Apalagi setelah ia memastikan sendiri bekas luka yang sudah mengering di kakinya dan di siku tangannya.


"San, tunggu!" seru Niki. Ia juga tak kalah cepatnya melangkah demi bisa mengejar Sandra.


"Tunggu aku, San!" pekik Niki lagi.


Namun, yang dipanggil tetap saja tak peduli. Seolah ia tak mendengar ada orang yang menyoraki namanya.


"Aduh!"


Hingga akhirnya, Sandra mendengar suara sesuatu yang terjatuh bersamaan dengan suara seseorang mengaduh.


Sandra pun menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sumber suara. Ia sangat terkejut. Ternyata orang yang mengaduh itu adalah Niki, sahabatnya.


"Niki!" pekik Sandra. Ia berlari kencang bak lari karena dikejar banteng, demi bisa menghampiri sang sahabat. Mencaritahu kondisi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kamu nggak apa-apa, Nik?" tanyanya kemudian. Ia meneliti Niki dari atas hingga bawah. Tubuhnya tengkurap mencium tanah. Mereka nyaris saja sampai di gerbang sekolah.


Baju dan rok Niki kotor, berlumur rumput dan tanah.


Dengan tulus, Sandra menjulurkan tangannya, memberi bantuan pada Niki yang memang butuh bantuan. Niki pun menyambut tangan Sandra dan berusaha berdiri. Tapi sayang, ia tak bisa berdiri.


"Nik, lutut mu berdarah." Sandra menjerit. "Kit-kita ke UKS ya," ucapnya panik. Bagiamana ia membawa Niki ke UKS, sementara Niki tak bisa berjalan.


"Hmmm, gimana caranya ya?" gumamnya bertanya. Sambil matanya mencoba mencari-cari sesuatu yang bisa ia lakukan demi membantu Niki.


Hingga ia melihat Tito yang hampir saja masuk ke halaman sekolah tersebut.


"Tito!" pekik Sandra. Ia memanggil.


"Tolongin!" ucapnya lagi sebelum Tito menjawab.


"Hah?"


"Tolongin! Niki jatuh." Sandra memekik lagi. Berharap Tito mendengarnya. Tangannya juga menunjuk sesuatu di bawah dimana Niki sedang terbaring.


Penasaran, Tito pun mendekat. Ia meminta Sandra untuk mengulang lagi apa yang ia ucapkan tadi. Hingga akhirnya ia sadar bahwa ada seseorang di bawah, tepat di samping kakinya.


"Niki!" pekiknya. Ia pun sama terkejut seperti Sandra.


Segera Tito mengangkat tubuh Niki dan membawanya ke ruang UKS bersama Sandra yang mengekori ia dari belakang.


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=\=...


"Maafin aku ya, Nik. Aku udah ingkar sama permintaan kamu. Kamu bilang menjauh darimu dan jangan bicara lagi. Tapi keadaan nggak memungkinkan bagiku. Kau adalah sahabat ku, Nik," batin Sandra.

__ADS_1


Sandra mengamati dengan seksama bagaimana petugas UKS mengobati luka Niki.


"Tenang saja. Niki baik-baik saja. Nggak separah yang kamu pikirkan," celetuk petugas UKS itu, tau kekhawatiran Sandra.


"Dia nggak akan meninggal gara-gara luka sedikit," ucapnya lagi.


Setelah gadis itu membalut luka Niki dengan perban, ia pun memperbaiki posisi Niki. Lalu pamitan kepada Sandra karena ada urusan dengan kepala sekolah.


"Kamu jaga dia ya. Kakak mau menghadap ke bapak kepala sekolah. Tadi beliau berpesan saya harus kesana. Harusnya sih tadi, tapi karena kedatangan kalian jadinya saya undur.


"Baik, kak. Trimakasih," sahut Sandra.


Sementara di dalam kelas XI Fisika 1. Tito sekarang sudah berada di dalam kelas. Saat ini mereka sedang belajar bahasa Inggris. Murid-murid terlihat sangat antusias dalam belajar.


Suasana kelas pun terlihat adem. Tak ada keributan seperti biasanya. Mereka semua sedang serius mengerjakan kuis yang diberikan oleh Miss Zega. Seorang perempuan cantik, lulusan dari universitas terkece di Sumatera Utara. Berasal dari kampus yang memang basic-nya adalah pendidikan.


Banyak siswa yang merasa seram dengan mata pelajaran yang satu ini. Tapi tidak bagi kelas XI Fisika 1. Walau ada satu dua orang yang memang tidak menyukai pelajaran tersebut.


Berperawakan yang cantik, lemah lembut tutur kata, tidak pelit akan nilai, membuat murid-murid nyaman belajar bahas Inggris. Mis Zega pun tak pernah memukul mereka apabila mereka salah. Bagi Miss Zega, dengan niat mereka yang kuat untuk belajar, itu sudah bonus baginya. Tinggal bagaimana ia mengarahkan mereka untuk tidak menyerah dengan pelajaran yang satu ini.


Setiap les Miss Zega di kelas tersebut, semua murid wajib memakai bahasa Inggris sebagai alat untuk mereka berbicara. Tidak apa-apa, meski bahasa Inggrisnya masih berpasir-pasir. Namanya belajar butuh proses.


"Nat, Niki terluka," ucap Tito memberitahu. Membuyarkan fokus yang lainnya.


"Apa? Terluka? Kasian banget Niki," sahut Salim mendramatisir keadaan.


"Dimana? Kok bisa?" tanya Agus. Ia juga cukup terkejut dengan kabar yang disampaikan oleh Tito.


Sementara Nata, diam saja. Padahal Tito sengaja memberitahunya kepada Nata. Berharap Nata memberikan reaksi. Tetapi ternyata tidak. Di luar dugaan Tito. Malah yang lebih heboh adalah Salim dan Agus.

__ADS_1


To be continue.....


__ADS_2