
Happy Reading!
"Sayang, gimana kalau kita shopping?"
"Kok shopping sih ma? Itu kan untuk kesenangan mama bukan Niki "
"Habis kamu murung terus, mama bingung. Mama udah masakin makanan kesukaan kamu, udah beliin cemilan kesukaan kamu, udah tidur bareng mama, nggak ada belajar sama sekali, emmmmm...."
Mama Lidia mencoba mengingat-ingat apa yang sudah ia lakukan demi mengembalikan senyum putrinya.
"Satu lagi yang belum mama lakuin," sela Niki.
"Apa, sayang?"
"Papa."
"Lho, papa kenapa? Bukannya kita udah video call juga?"
"Video call video call sih, ma. Tapi Niki hanya sebentar ngobrolnya. Habis itu mama langsung rebut hape nya. Kan jadi mama yang puas-puasan melepas rindu ke papa." Gadis itu mulai cemberut lagi. Pipinya ia gelembungkan, bibirnya ia monyong-monyongkan.
"Terus mau Niki apa tentang papa?" Mama Lidia menoel-noel pipi yang menggembung itu.
"Minta papa pulang."
Mendengar permintaan sang putri, mama Lidia sampai tepuk jidat. Bagaimana bisa ia menuruti itu.
"Sayang, dengerin mama. Papa itu...."
"Nggak bisa pulang sesuka hati dia. Nanti kan ada saatnya pulang kalau pekerjaannya sudah selesai," sambung Niki. Ia sudah hapal akan apa yang ingin disampaikan sang mama.
"Tuh kan kamu tau. Kenapa masih minta itu lagi?" sahut mama Lidia.
"Kangen papa, ma. Kapan sih kita punya waktu buat healing bareng?"
"Sabar ya, sayang Semua ada waktunya kok. Doakan papa sehat dan baik-baik di sana. Papa juga jauh dari kita kan demi kebaikan semuanya, sayang. Demi sekolah kamu, kebutuhan kita, semuanya lah pokoknya. Jadi, kita nggak boleh egois."
Niki memeluk sang mama. Hanya mama Lidia, yang menjadi temannya selalu. Sedangkan papanya, papa Adam sibuk keluar kota untuk urusan pekerjaan. Sebagai angkatan laut memang, tidak bisa untuk pulang sesuka hati. Jika tugas sudah selesai baru boleh pulang. Jika tidak, ya tetap harus rela jauh dari keluarga demi mengabdi kepada negara.
"Tapi kan kerjaan mama bisa untuk kebutuhan kita," celetuk Niki lagi. Masih ia coba untuk merayu sang mama.
__ADS_1
"Sayang, mama itu hanyalah penulis novel online. Yang suatu saat platformnya itu akan tergilas dengan aplikasi yang terbaru. Mama juga bisa kehilangan itu. Jadi kita nggak bisa bergantung dengan itu semua," jelas mama Lidia. Ia berusaha menerangkan kepada putrinya dengan sebaik-baiknya.
"Niki udah boleh baca novel mama?"
"Jangan dong, sayang. Itu kan khusus 21 plus. Juga untuk orang yang berumah tangga. Kamu kan masih kecil lagi "
"Kenapa sih, mama nulisnya novel yang buat umur begituan? Kenapa bukan untuk remaja aja, anak muda gitu?"
"Banyak banget sih pertanyaan putri mama ini. Bawelnya udah keluar deh. Udah nggak murung lagi. Kalau gitu kita ke mall, yok! Shopping. Kamu bisa beliin sesuatu untuk orang yang kamu cinta itu. Siapa namanya mama lupa, emmmm... "
Niki langsung semangat mendengar usulan sang mama. Ia langsung teringat akan Nata. Tidak ada kapoknya dia, meski Nata sudah menolak cintanya di hadapan banyak orang. Sudah mempermalukan ia di hadapan banyak orang. Tapi, tetap saja Nata menempel di hatinya.
Tapi ia murung kembali. Bagaimana ia bisa memberikan hadiah itu kelak kalau Nata menolak keras bertemu dengannya. Kini ia bingung.
"Lho, kok murung lagi? Nggak mau gitu kasih hadiah sama Nata Nata itu?"
"Ya mau, ma. Tapi kan emmmm, nanti siapa yang kasih ke dia ma. Mama tau kan kita gimana?"
"Gini aja. Gimana kalau kamu..."
Ting tong
Ting tong
"Siapa yang datang bertamu, ma? Ini kan hari Minggu?" tanya Niki.
"Nggak tau. Ya udah, buka gih."
"Males ah. Mama ajalah. Niki belum mandi. Bau."
Mama Lidia pun akhirnya membukakan pintu.
"Tante," sapa orang tersebut. Ia langsung menyalami mama Lidia.
"Maaf ya, San terpaksa telpon kamu. Karena .."
"Nggak apa-apa, tante. Nikinya mana, tan?" sela Sandra langsung. Ia sudah paham apa yang akan disampaikan mama Lidia.
"Ada tuh di ruang tamu. Masuk gih," ajak mama Lidia.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan beriringan menuju tempat Niki duduk sekarang. Niki sudah bisa melihat dengan jelas siapa yang datang. Ia langsung mengalihkan pandangannya, memberikan punggungnya untuk Sandra.
"Hai, Nik. Gimana kabar kamu?" sapa Sandra basa-basi.
Niki diam. Masih tak ingin melihat sahabatnya itu.
"Nik, kamu masih marah sama aku?" tanya Sandra. Dengan sabar, ia tetap berusaha untuk membujuk sang sahabat.
"Aku tau aku salah, Nik. Aku sudah tampar Nata. Tapi kalau nggak gitu, dia nggak akan berhenti jahatin kamu, Nik. Aku nggak terima sahabat aku dihina, dipermalukan bahkan dikasari. Aku nggak suka Nik. Aku sayang sama kamu."
"Bahkan aku udah dapat hukuman, Nik."
Deg
Ada rasa tak tega di hati Niki mendengar sahabatnya itu dihukum. Ia penasaran hukuman apa yang ia dapat. Tapi ia tak mau bertanya. Ia ingin mendengar kelanjutannya. Maka ia tak mau mengalihkan pandangannya kepada Sandra.
"Nata yang salah malah diskors satu hari. Aku yang mencoba melindungi kamu disana, malah diskors tiga hari. Udah gitu, aku didiskualifikasi dari tim lomba Fisika. Maaf ya, Nik aku salah. Nggak seharusnya aku tampar Nata."
"Kenapa jadinya Sandra dihukum sebanyak itu?" batin Niki. Ia masih ingin bertanya secara langsung, tapi ia gengsi. Sedih ia mendengar hukuman yang diberikan untuk Sandra. Sementara untuk Nata, ia sendiri yang mencabut hukuman itu. Padahal pelaku sebenarnya adalah Nata, yang mendorong dia hingga berdarah sampai ia tidak bisa sekolah beberapa hari akibat lututnya yang luka.
"Ya udalah, Nik. Kalau kamu juga nggak mau maafin aku, nggak mau ngobrol sama aku. Nggak apa-apa. Aku akan diam, aku akan menjauh sampai kamu tenang. Aku nggak akan ganggu lagi hubungan kamu dengan Nata. Asal kamu senang," ucap Sandra sendu.
"Kalau gitu, Sandra pamit ya, tante. Trimakasih tante udah undang Sandra ke sini."
Sandra bangkit berdiri, lalu menyalami mama Lidia yang dari tadi masih berdiri. Menyaksikan kedua sahabat yang sedang perang dingin itu.
Mama Lidia mengira, dengan datangnya Sandra, akan membuat Niki kembali ceria. Tetapi nyatanya tidak. Ia malah kasihan dengan Nata. Ia senang, putrinya punya sahabat sebaik Sandra. Yang selalu ada di saat Niki senang, di saat Niki dijahati orang dan di saat Niki sedih.
Mama Lidia langsung memeluk Sandra. Ia tau, Sandra butuh pelukan sekarang. Mama Lidia bisa merasakan getaran tubuh Sandra akibat menangis.
"Sandra pamit ya, tan. Tante jaga diri baik-baik. Mungkin ini terakhir kalinya Sandra ada di sini."
Tumpah dan tumpah lagi air mata Sandra. Begitu pun mama Lidia. Tanpa ia sadari, air matanya pun jatuh entah mulai kapan.
"Iya, sayang. Kamu juga jaga diri baik-baik ya. Tante udah anggap kamu sama seperti putri tante. Kalau ada apa-apa, hubungi tante ya, sayang."
Sandra mengangguk. Tak sanggup ia bersuara karena hanya sesak di dada yang. Ia pergi tanpa adanya maaf dari sang sahabat. Sakit sekali rasanya.
To be continue....
__ADS_1