
Happy Reading!
"Pa, boleh nggak Nata minta dikembalikan ponsel dan kamera Nata? Temponya kan udah habis, pa. Lewat sehari malah. Nata juga udah melakukan semua perintah papa. Boleh ya, pa?"
Papa Tirta diam sejenak. Ia juga berhenti mengunyah makanannya. Seharusnya memang kemarin lah waktunya ponsel dan kamera Nata dikembalikan sesuai dengan perjanjian papa Tirta.
"Baiklah. Nanti papa kembalikan sesudah makan. Ayo, lanjutkan makan mu. Jangan ngobrol sambil makan, biar jadi nutrisi makanan yang kamu makan itu," ucap papa Tirta lagi serius.
"Lho, papa mau kemana? Katanya lanjut makan."
"Papa udah kenyang. Papa duluan."
Papa Tirta meninggalkan Nata begitu saja di meja makan yang besar itu. Membuat Nata semakin tidak bernafsu makan saja.
"Mau sama siapa coba ngomong? Hantu?" omelnya saat ia ingat papa Tirta bicara bahwa makan jangan bersuara. Jangan berbicara. Biar makanan itu jadi nutrisi dan tubuh. Wong teman dia juga nggak ada yang bisa diajak bicara. Papanya saja sudah pergi meninggalkannya.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
"Mana hp Nata, pa?"
Nata menagih lagi janji papa Tirta saat merek di ruang TV. Bukan papa Tirta sih yang mendatangi Nata, tapi Nata lah yang mendatangi papa Tirta ke ruang TV. Ia haru Sabtu, malam Minggu. Papa Tirta tidak lembur. Jadi, ada waktu untuk menonton TV.
__ADS_1
"Mana buku fisika mu? Nggak belajar kamu?" tanya papa Tirta.
"Ini, pa." Nata langsung mengeluarkan buku yang ia selipkan di dalam map.
"Map apa itu?" tanya papa Tirta penasaran. Fokusnya sekarang beralih pada map itu. Bukan pada buku fisika sudah sudah Nata lebarkan di hadapan papa Tirta.
"Ini ..."
Papa Tirta langsung merebut map itu dari tangan Nata.
"Kenapa harus berempat?" tanyanya menyelidik. Dahinya berkerut, entah berapa tingkat.
"Memang begitu aturannya, pa."
"Pa, itu aturannya. Kita nggak bisa ngebantah. Sekarang kuncinya di kita. Kalau kita mau join ya join. Kalau tidak ya tolak. Beres kan pa. Nggak ada yang perlu disalahkan dalam hal ini," tutur Nata.
"Kamu mau minta persetujuan saya?"
Nata mengangguk.
"Baiklah. Ikuti! Tapi ada syaratnya."
__ADS_1
"Syarat apa lagi, pa?" Nata mulai khawatir. Jangan sampai papa Tirta menyita ponsel apalagi kameranya.
"Tim kamu harus menang. Dan kamu yang akan lebih banyak menjawab dari ketiga teman kamu itu. Kalau tidak, saya tidak ijinkan kamu."
"Tapi, pa yang namanya kerja tim, kita harus saling ..."
"Papa tidak terima bantahan. Kalau tidak, kamu tidak ikut," pungkas papa Tirta.
"Ini hp dan kamera. Kalau sampai kamu berulah lagi, maka papa akan sita kembali. Dan mungkin kamera itu nggak akan kembali ke kamu. Karena papa akan menghancurkannya berkeping-keping."
Usai memberi ultimatum serta ancaman, papa Tirta meninggalkan Nata sendirian di ruang tv itu.
Tadi siang, pak Andrew memanggil Niki, Nata, Salim dan Sandra ternyata tujuannya adalah memberitahukan kepada mereka berempat bahwa, mereka akan mengikuti olimpiade fisika, mewakili sekolah mereka.
Hal ini sudah biasa bagi Sandra dan Niki sejak mereka duduk di bangku kelas 10. Dan sekarang, kembali lagi mereka yang diberi mandat untuk membawa nama sekolah. Sedangkan Nata dan Salim, baru pertama sekali.
Sebelum itu, mereka memang sudah diadakan tes. Sebelum mereka masuk ke jurusan fisika. Dari hasil itulah di kumpulkan, nilai siapa yang paling bagus dalam bidang fisika semasa neraka mengikuti tes. Dari situlah pak Andrew mengambil kesimpulan. Karena Niki, Sandra, Nata dan Salim lah yang memenuhi kriteria.
Nata menatap kepergian papa Tirta hingga punggungnya hang terlihat. Lalu menghilang dari pandangannya Karen sudah masuk ke dalam kamar.
"Papa kenapa sih seenaknya saja? Tak pernah mengerti dengan perasaan aku sebagai anaknya. Papa jahat," gumam Nata. Hampir saja air matanya menetes. Tapi buru-buru ia angkat kepalanya agar tetesan embun itu tidak membasahi pipinya.
__ADS_1
Dengan lesu, ia meninggalkan ruangan tv setelah ia mematikan televisi tersebut. Lalu mematikan juga lampu. Sehingga ruangan itu gelap. Nata membawa langkahnya ke dalam kamarnya, untuk beristirahat karena lelah satu hari ini.
To be Continue.....