Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 30. Pingsan


__ADS_3

Happy Reading!


"Nata, kau nggak ada otak ya. Teman kau lagi kek gini, kau malah nggak kasian," sahut Salim. Ia kesal. Hingga keluarlah logat medannya.


"Egois kau. Nggak punya hati kau," sungutnya lagi.


Jangankan Salim dan Sandra. Nata sendiri bingung dengan pertanyaannya barusan. Kenapa malah kalimat itu yang terucap dari bibirnya.


"Niki mimisan. Tapi kau tak peduli. Dimana hari nurani mu?" hardik Salim. Ia kesal dengan temannya yang satu ini. Benar-benar manusia berhati batu dan dingin.


Sementara pemandu acara melanjutkan pembacaan soal yang berikutnya.


"Guys, aku nggak apa-apa kok. Santai aja. Kita bisa lanjut. Pokoknya kita harus menang," ucap Niki. Bermaksud melerai perdebatan diantara teman-temannya itu.


Niki juga tak mau kalau masalah ini sampai tercium ke publik. Takut ia tim mereka akan didiskualifikasi hanya karena masalah ini. Sia-sia semua apa yang mereka lakukan.


Memang Niki merasa sedikit pusing. Tapi ia masih bisa menahannya. Saat ini yang ia prioritas kan adalah timnya. Mereka harus pulang membawa kemenangan. Mengharumkan nama sekolah mereka.


Kini kembali pemandu acara membacakan soal nomor terakhir. Ini adalah penentu tim siapa yang akan masuk ke babak final.


"Jika energi elektron atom hidrogen pada tingkat dasar - 13,6 eV, maka energi yang diserap atom hidrogen agar elektronnya tereksitasi dari tingkat dalam ke lintasan kulit M adalah....


Dunia rasanya berputar lebih lambat dari biasanya. Sementara waktu juga sangat lambat. Seperti sebuah gerakan slow motion. Ya, ini adalah penentu tim yang akan masuk ke babak final.


Saat pembawa acara sedang membacakan soal, terlihat para peserta sibuk dengan coretan bahkan ada yang berpikir keras. Hingga saat pembawa acara selesai membacakan soal terakhir, Niki dengan sigap menarik pengeras suara yang berada tepat di hadapan Nata.

__ADS_1


"12,09 eV." Niki berucap dengan lantang.


Peserta lain merasa kecewa, karena terlambat sedikit saja dari Niki.


Sementara Nata, Salim dan Sandra baru saja selesai dengan hasil hitungan mereka. Mereka bertiga terkejut atas kecepatan Niki.


Pembawa acara langsung memandu acara, agar semuanya bertepuk tangan memberi selamat kepada tim Niki, mereka berhak untuk masuk ke babak final.


Tepuk tangan riuh pun menghiasi ruangan itu. Nata sangat terkejut. Ia tidak menyangka, tim mereka masuk ke babak final.


Disaat semua orang sedang sibuk bersorak, bertepuk tangan, Nata melihat papa Tirta yang baru saja tiba dan mengambil posisi di tempat para pendukung. Senyum tipis dari sang papa dapat Nata lihat.


"Nik, Niki..."


Terdengar suara keras memanggil nama Niki. Sontak Nata pun menoleh. Ia melihat Niki sudah jatuh terkapar di lantai. Di depan meja mereka.


"Aku nggak tau, Nat. Tapi tiba-tiba dia terjatuh. Sepertinya ia pingsan," sahut Salim panik.


Sementara Sandra sedang sibuk menoel-noel wajah Niki, membangunkan gadis itu. Berharap dalam hati Niki tidak apa-apa.


Ketiga orang itu panik. Mereka terbengong tidak tau apa yang harus mereka perbuat. Semuanya rasanya terjadi begitu cepat. Seharusnya kan mereka happy merayakan keberhasilan mereka yang sampai mencapai final.


Tapi sayang, untuk sekarang merayakan itu tidak ada sedikit pun tertanam dalam benak mereka. Seketika lenyap semuanya.


Pak Andrew yang melihat semua itu, segera berlari menghampiri keempat muridnya itu. Ia juga panik sama seperti ketiga muridnya. Tapi sebagai seorang guru, yang harus digugu dan ditiru, ia memilih mengabaikan rasa paniknya.

__ADS_1


Salah seorang murid yang dididik oleh pak Andrew pingsan. Lebih baik ia mengutamakan Niki terlebih dahulu. Untuk masalah lomba, ia sudah menghubungi panitia. Memberikan contact personnya. Meminta menghubungi beliau jika ada pengumuman penting.


"Apa yang kalian lakukan? Ayo kita bawa ke rumah sakit!" pekik pak Andrew. Membuyarkan lamunan Nata, Salim dan Sandra.


Nata yang tersadar, segera mengangkat tubuh Niki, menggendongnya dengan kokoh. Sementara yang lain sibuk entah sedang apa dengan ponsel mereka.


Pak Andrew bergegas menuju panitia kembali, menanyakan dimana rumah sakit yang paling dekat dengan lokasi mereka.


Hingga beberapa saat kemudian, taksi online yang dipesan oleh Sandra telah tiba. Ternyata ia sedari tadi sibuk memegang ponselnya karena memesan taksi online. Tak kepikiran ia jika pak Andrew membawa mobil.


"Kan ada mobil bapak, kenapa pakai taksi?" gerutu pak Andrew tak habis pikir dengan muridnya yang satu itu.


Panik. Seseorang yang panik tidak akan bisa melakukan sesuatu sesuai nalar. Sesuai kaidahnya. Bisa saja melakukan hal di luar nalar atau bahkan tak melakukan apapun.


Sama halnya seperti Sandra. Memesan taksi online, sementara mereka kemarin menuju kemari menggunakan mobil pak Andrew.


"Sudahlah, pak. Nanti kita bahas. Sekarang Niki yang jauh lebih penting," sela Salim. Tak mau ia habis waktu dengan percuma. Keselamatan Niki yang paling utama.


Pak Andrew memasuki mobilnya. Menyusul taksi online menuju rumah sakit terdekat. Tentunya setalah diberitahukan oleh pak Andrew tadi.


Dan ternyata, sopir taksi itu tau keberadaan rumah sakit terdekat. Oleh karena itu dia hanya manggut-manggut saja, menuruti ucapan pak Andrew.


Hingga lima belas menit kemudian, mereka pun sampai di rumah sakit terdekat. Tanpa aba-aba, dengan sigap Nata mengangkat tubuh Niki, membawanya masuk ke dalam rumah sakit. Dimana Salim sudah lebih dulu keluar, meminta atensi pihak medis untuk segera memberi pertolongan kepada Niki.


Sandra ikut serta di belakang Salim. Mengikuti langkah panjang Salim yang nyaris tak bisa ia kejar. Sedangkan pak Andrew, mengikuti Nata yang membawa Niki yang sudah dinaikkan ke dalam brangkar rumah sakit.

__ADS_1


Para petugas berseragam putih itu mendorong brangkar yang berisi Niki di dalamnya. Mereka dengan seksama, serentak mendorong, membawa ke ruang IGD. Para perawat lainnya memanggil dokter yang bertugas saat itu.


To be continue....


__ADS_2