
Happy Reading!
"Jadi gimana anak-anak? Sudah siap belajarnya? Siap bekerjasama dengan tim?"
Pak Andrew ingin mengkondisikan murid-muridnya apakah sudah siap untuk bedah soal sebanyak-banyaknya demi bisa mengikuti olimpiade seminggu lagi.
Awalnya pak Andrew sudah pasrah dengan olimpiade itu. Mengingat kondisi Niki yang belum membaik juga masalah yang sempat terjadi waktu itu. Jadi, pak Andrew lebih mengutamakan kenyamanan anak-anak.
Keempat murid tersebut mengangguk mendengar tanya dari pak Andrew. Dimana pak Andrew sendirilah yang akan menjadi mentor mereka dalam membedah soal tersebut.
"Kalian yakin mau ikut olimpiade ini?" tanya pak Andrew entah yang sudah ke berapa kali.
Sontak keempatnya pula serentak mengangguk.
"Kamu gimana, Niki? Kondisi tubuh kamu kan ..."
"Niki sudah baik-baik saja kok, pak. Niki udah sehat, bugar dan sudah semangat untuk ikut lomba. Lagian kita juga udah daftar kan? Sayang kalau nggak dilanjutkan. Ini kesempatan langka soalnya."
Dengan mudahnya Niki mengucapkan kalimat itu. Tidak ada unsur paksaan atau tekanan dalam diri gadis tersebut.
"Niki mau jadi murid yang berbakti, pak. Mau mengangkat derajat sekolah ini sekuat yang Niki bisa," imbuh Niki lagi.
Kedua laki-laki, Salim dan Nata menatap ke arah Niki. Mereka heran dengan sikap Niki yang tiba-tiba bicara dengan serius. Sejak kapan ia memikirkan keharuman nama sekolah? Itu yang ada dalam benak mereka.
Anehnya ia sudah tak peduli lagi terhadap Nata. Tak ingin dekat dengan Nata, bahkan tak mau menatap Nata. Beda jauh dari sebelumnya.
"Sok kuat kamu," cibir Sandra dengan berbisik. "Emang kamu sanggup ngangkat sekolah ini? Mau mengalahkan mister Limbad kamu?" celetuk Sandra lagi. Mencoba bercanda dengan Niki.
__ADS_1
Tetapi Niki tak peduli. Ia abai dengan guyonan hang coba Sandra lakukan. Tetapi sahabatnya itu tak mau tau. Terlihat cuek dan tak peduli.
"Itu cowok kenapa dianggurin?" tanya Sandra lagi, sembari memainkan matanya kepada Niki. Berharap Niki terusik dan membalas guyonannya.
"San, kamu jangan hancurkan benteng pertahanan yang udah aku bangun dong," pinta Niki berbisik.
"Maksudnya? Benteng pertahanan? Kayak lagi perang aja? Kan negara kita udah merdeka? Kamu mau perang dengan negara apa?"
"Ih, kamu lupa? Kamu sendiri yang nyuruh aku buat cuek kepada ayang Nata. Kamu sendiri yang bilang untuk agar tidak peduli aku pada ayang Nata. Kamu mau itu hancur? Kamu mau aku disakiti lagu?"
Niki mengingatkan Sandra. Ya, dia sendiri yang bilang untuk berpura-pura tidak peduli dengan Nata. Untuk mengabaikan Nata apapun yang terjadi.
Awalnya Niki menolak. Tapi dengan segala yang diucapkan Sandra ia pun luluh. Mau bekerja sama dengan Sandra untuk mengabadikan Nata. Niki juga ingin lihat dan dengar sendiri sekali lagi dengan mata dan telinganya sendiri bahwa Nata tidak nyaman berada di dekat Niki.
"Oh iya. Aku lupa," batin Sandra menepuk jidatnya sendiri.
"Wah, ini baru sahabat aku. Menahan diri demi kebaikannya. Ini baru aku suka. Baiklah baiklah. Aku akan mendukung mu sampai titik darah penghabisan. Haha."
"Sore ini, pak," jawab Niki, mengagetkan Salim dan Nata.
"Apa? Sore ini? Cepat banget?" protes Salim.
Sementara Nata diam saja. Pertanyaan Salim seperti mewakili isi hatinya.
"Iya, pak. Lebih cepat lebih baik. Supaya kita menang, pak. Sandra yakin kita pasti menang. Soalnya di sini pakar semua. Tambah lagi mentornya pak Andre, guru kece dan cool abis," celetuk Sandra sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya ia memuji lak Andrew secara terang-terangan.
"Waktu juga udah mepet, pak. Jadi buat apa kita menunda," tambah Sandra lagi.
__ADS_1
Tentu pak Andrew sangat senang dengan respon Sandra juga Niki. Ia tersenyum meski tipis. Senyum yang begitu mahal dan jarang terlihat.
"Benar tuh, pak. Bila perlu kita sampai lembur, pak. Kita bahas semua soal fisika yang ada di penjuru Nusantara. Yang penting bapak bersedia mengajari kami. Bapak semangat, kami pun semangat," timpal Sandra lagi.
"Bagaimana Nata, Salim, siap?" tanya kak Andrew pada kedua murid laki-laki itu. Mereka terlihat tidak bersemangat.
"Siap, pak," jawab keduanya dengan lesu. Seperti orang yang tidak makan selama seminggu.
"Lho, kalian kok lesu banget jawabannya? Kenapa nggak semangat gitu? Masa mau kalah sama kaum hawa? Siap jadi pecundang?"
Pak Andrew mencoba memprovokatori kedua lelaki itu. Agar semangat mereka bangkit. Dan mau sama-sama berjuang untuk olimpiade ini. Yang semakin dekat waktunya.
"Baik, pak. Saya siap." Salim menjawab dengan lantang. Tidak terima ia dikata lelaki pecundang.
"Bagus. Itu baru murid bapak. Yang kayak gini nih yang buat bapak semangat. Kamu Nata?"
"Nata siap, pak," jawab Nata pasrah. Tiga lawan satu, jelas dia kalah. Maka dengan terpaksa ia pun mengiyakan.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=\=...
"Pa, sore ini kita akan mulai bedah soal di sekolah. Kita jadi ikut andil dalam olimpiade itu, pa."
Nata memecah keheningan kala mereka sedang menikmati makan siang bersama.
"Bagus," sahut papa Tirta sembari mengunyah nasi yang masih penuh di dalam mulutnya.
Usai ia menelan makanan yang ada dalam mulutnya ia pun melanjutkan bicaranya lagi.
__ADS_1
"Ingat, kamu harus menang. Tim kalian harus menang. Kalau kamu menang itu sebagai peluang agar kamu bisa melanjutkan kuliah di luar negeri karena rekomendasi. Papa yakin, pasti banyak dosen-dosen nanti yang akan menjadi juri. Mereka akan melirik kamu. Dan kamu harus melakukannya secara maksimal."
To be continue....