
Happy Reading!
Dengan berat hati, Sandra mulai membawa langkahnya yang berat pula meninggalkan rumah itu. Ia menoleh ke belakang. Berharap Niki mencegahnya. Tetapi ternyata harapan tinggal harapan.
Lalu Sandra akhirnya memutuskan untuk melangkah cepat demi bisa segera meninggalkan rumah itu. Ia tak mau, berlama-lama di rumah itu, membuat tangisnya akan semakin pecah.
Niki bisa mendengar suara langkah kaki yang cepat dan pintu hang ditutup kembali. Artinya, Sandra sudah pergi dari sana meninggalkan dia yang ternyata sedang menangis.
Dengan lembut, mama Lidia memang bahu putrinya. Membawa ia ke dalam dekapannya. Memeluknya dengan kasih sayang. Mengusap-usap surai panjang yang tergerai itu.
"Yakin, kamu mau kehilangan sahabat sebaik dia? Hmm?"
Pecah sudah tangis Niki mendengar pertanyaan sang mama. Baginya, Sandra adalah sahabat yang terbaik. Tak ada yang bisa menggantikan dia di dalam diri Niki. Yang selalu ada saat dia butuh, saat dia sedih, saat dia bahagia, saat ada yang menggangunya.
Sandra sendiri hidup sebatang kara. Dari kecil ia tinggal di panti asuhan. Setelah ia SMA, ia memutuskan untuk mandiri. Keluar dari panti asuhan dan tinggal di kost-kostan dan mencari uang untuk ia sendiri. Tak mau ia membebani lagi ibu panti karena biaya sekolahnya.
Apalagi, sekolah Sandra adalah sekolah swasta yang mahal biaya. Tak mau ia menambah beban ibu panti.
"Ayo, kejar dia!"
Niki bangkit dari duduknya, segera berlari mengejar sahabatnya itu.
"San, tunggu .. " Sampai-sampai ia berteriak, tak mau ditinggal.
Tapi sayang, hingga ia sampai di luar rumah, Sandra sudah tak ada lagi. Entah kemana perginya sahabat yang sudah ia lukai itu.
"Kok cepet banget ilangnya?" gumam Niki. Ia masih mencari-cari ke tempat yang bisa ia lihat. Setiap sudut ia cari. Siapa tau Sandra sembunyi. Tapi, hingga lama ia mencari yang dicari pun tak nampak.
"Maafin aku ya, San. Seharusnya aku nggak se-marah ini sama kamu," batinnya.
Kembali lagi ia masuk ke dalam rumah itu dan menceritakan kepada mama Lidia bahwa Sandra sudah tak ada lagi.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
Beberapa hari berlalu. Niki sudah kembali masuk ke sekolah. Suasana sekolah pun sama seperti sebelumnya. Kegiatan belajar mengajar terjadi seperti biasanya. Tetapi ada yang janggal. Ada yang berbeda bagi Niki.
Teman sebangkunya, Sandra tak ada.
"Sandra mana?" tanyanya pada teman sekelasnya. Dan orang itu hanya menjawab dengan menaikkan bahunya. Tanda ia tak tau.
__ADS_1
"Sandra mana?" tanyanya ke teman yang lainnya.
"Belum datang kali."
Sampai beberapa ia tanya teman sekelasnya, tapi tak ada yang tau Sandra kemana. Niki merasa ada yang hilang. Ada yang kurang, karena tak ada Sandra di dekatnya.
Saat jam istirahat, Niki masih mencoba mencari keberadaan Sandra yang ternyata tak kunjung datang. Ia tadi berharap Sandra terlambat datangnya. Tapi nyatanya tidak. Jelas tak terlihat batang hidungnya walau sedetikpun.
"Lim, kamu tau Sandra dimana?" tanyanya pada Salim yang sedang sibuk membenahi barangnya ke dalam tas.
"Nggak ada tuh. Beberapa hari ini dia juga nggak masuk sekolah. Nggak tau kenapa. Seharusnya kan masa hukuman dia sudah habis," jawab Salim.
"Yok ke kantin," ajak Salim pada Niki. Diekori oleh Tito dan Agus. Sedangkan Nata, seperti biasa. Pergi ke perpustakaan. Ia bahkan tak peduli akan keberadaan Niki.
Niki juga abai. Baginya, tidak ada yang lebih penting dari pada keberadaan Sandra sekarang. Ia harus menemukan Sandra, kemana pun. Dengan cara apapun. Ia kesepian sekarang.
Hingga jam pulang sekolah tiba, Sandra tak kunjung datang. Niki semakin sedih dan kesepian. Seluruh sekolah ia sudah jelajahi. Bahkan guru-guru juga sudah ia tanya.
Jawaban mereka sama. Tak ada yang tau dimana keberadaan Sandra sekarang. Semenjak kejadian di perpustakaan itu, ia benar-benar menghilang entah kemana.
"Aku tau satu hal," gumamnya kemudian, saat sesuatu muncul dalam benaknya.
Dengan menaiki taksi, ia bermaksud untuk mengunjungi tempat dibesarkannya Sandra. Dimana lagi kalau bukan di panti asuhan Harapan Bunda. Tempat Sandra mendapatkan keluarga baru. Tempat Sandra memperoleh kehangatan.
"Eh, ada nak Niki. Apa kabar, nak?"
Kebetulan, ibu panti yang sedang membersihkan halaman kala itu melihat seorang gadis turun dari dalam taksi. Ia kenal betul gadis itu. Gadis yang dulu sering menemani anak-anak panti bermain. Gadis yang membawa semangat dan keceriaan untuk mereka.
Bukanlah materi yang paling membuat anak-anak panti senang. Melainkan, adanya orang yang terbuka hatinya untuk bermain dengan mereka, menerima mereka dengan tulus. Memperlakukan mereka layaknya anak pada umumnya.
Segera Niki menghampiri ibu yang bernama Nining itu. Lalu, menyalami wanita paruh baya itu. Wanita kedua yang menjadi panutannya setelah mama Lidia.
"Niki baik, bu. Kabar ibu gimana?" tanyanya kemudian.
"Ibu baik. Alhamdulillah."
"Adek-adek mana, bu?"
"Ada di dalam. Mereka sepertinya lagi sibuk mengerjakan tugas sekolah."
__ADS_1
"Niki boleh masuk nggak, Bu?"
"Ya boleh dong, nak. Masuklah! Mereka pasti senang kamu datang."
Ibu panti itu meletakkan sementara sapunya, lalu membawa Niki pergi masuk ke dalam panci itu. Ia mengibaskan tangannya, seperti ada debu yang menempel tadi.
"Anak-anak, lihat siapa yang datang!" seru ibu Nining.
Anak-anak yang sedang sibuk dengan tugasnya, buyar sudah keseriusan mereka dengan seruan ibu Nining, mereka serentak menoleh.
Terlihat mereka begitu kompak. Dimana si kakak mengajari adiknya mengerjakan PR-nya, si adik serius mendengar si kakak.
"Kak Niki!" seru mereka serempak.
Mereka semua berebut, menghambur ke dalam pelukan Niki. Orang yang mereka rindukan. Rindu bermain bareng, rindu masam bareng, rindu makan bareng. Niki bukanlah anak yang sombong. Dia humble. Attitude-nya bagus. Membuat orang senang padanya.
Semua anak yang di panti senang padanya. Dari yang paling kecil hingga besar. Pribadinya yang ceria, memudarkan kesepian di hati mereka.
"Kak Niki bawa oleh-oleh nggak?" celetuk seorang anak yang paling kecil. Mungkin umurnya sekitar 5 tahun lebih sekarang.
Ucapan polos darinya mengundang tawa semuanya. Bukannya bertanya kabar eh malah menuntut oleh-oleh. Hal itu pula yang menempel di otak adik kecil itu. Kesan pertama yang ia tau saat Niki berkunjung.
Sontak, Niki langsung menggendongnya.
"Ada, dong. Tapi kiss dulu kakak."
Dengan gaya yang menggemaskan, adik kecil itu mencium pipi Niki kiri dan kanan.
"Lagi?" tanyanya polos.
Niki pun mengangguk. Cepat-cepat bocah kecil itu mencium kening Niki. Meninggalkan jejak di sana, basah.
"Good boy," puji Niki. Ia pun memeluk gemas bocah itu.
Mereka lalu duduk diatas tikar yang sudah di gelar di tengah-tengah ruangan itu. Menikmati oleh-oleh yang dibawa Niki.
"Sandra mana ya? Kok nggak ada? Kalau ia disini, kok nggak dengar suara aku?" batin Niki bertanya. Ia menilik setiap sudut ruangan itu. Berharap sahabatnya ada di sana.
"Kamu dimana, San? Apa kamu marah sama aku?" tanyanya lagi di hati.
__ADS_1
Tubuhnya memang disana, bersama anak-anak panti. Tapi hatinya dan pikirannya tidak. Sedang berkelana mencari dimana rimbanya sang sahabat.
To be continue....