
Happy Reading!
Kejadian di perpustakaan itu, menggemparkan seluruh penghuni sekolah. Bahkan ada yang sampai menguploadnya ke media sosial. Dan papa Tirta, sebagai pebisnis, tentu ia tau. Apalagi saat di telpon kepala sekolah. Ia diminta untuk datang ke sekolah Nata, untuk menyelesaikan permasalahan yang ada.
Papa Tirta murka setelah menerima telpon dari bapak kepala sekolah. Yang menceritakan kronologi cerita yang sedang viral itu. Ia sangat marah kepada Nata.
"Ditanya kok malah diam aja. Apa yang sudah kamu lakukan sama teman kamu itu? Hah?"
Nata masih tetap memilih diam. Membuat papa Tirta semakin geram. Semakin murka ia. Beredar video di internet. Bagiamana arogannya Nata kepada temannya di sekolah.
"Mana handphone kamu? Mana kamera kamu?" hardik papa Tirta.
Namun tetap Nata masih saja diam. Tak mau ia menjawab satu pun pertanyaan sang papa. Ia sudah menduga ini akan terjadi. Jadi, ia sudah punya persiapan. Salah satunya adalah diam. Mungkin yang ia pikirkan sekarang, diam adalah sebuah solusi untuk menghadapi sang papa.
"Nata! Nata!" Papa Tirta sampai berseru beberapa kak memanggil nama anaknya itu. Tapi Nata tetap diam.
"Sekarang katakan, apa mau mu?"
"Bilang sama papa apa mau kamu! Bilang!"
"Nggak ada," jawab Nata singkat dan padat.
"Sini hp dan kamera kamu!"
"Nggak," jawab Nata lagi.
Dengan bringas, papa Tirta bergegas mengacak-acak apa saja demi menemukan ponsel dan kamera Nata.
"Dimana kamu simpan?"
Nata menjawab dengan mengangkat bahunya.
__ADS_1
"Kurang ajar kamu! Orang tua ngomong, kamu malah jawabnya nggak sopan."
Plak
Ini adalah tamparan ketiga yang didapat Nata hari ini. Tadi di sekolah dari Sandra dan sekarang di rumah dari papanya sendiri.
"Tampar lagi, pa! Tampar!" Nata memberikan pipinya sebelah kiri yang belum ditampar papa Tirta.
Papa Tirta terkejut dengan reaksi Nata. Bagaimana bisa seorang Nata bisa melawan seperti ini kepadanya? Selama ini ia adalah anak yang penurut. Tak pernah seperti ini. Menjawab dengan tidak sopannya pertanyaan orang taunya, bahkan menentang papa Tirta.
"Kamu...."
Hampir saja papa Tirta ingin menampar ia lagi saking geramnya. Tapi seketika papa Tirta tersadar. Nata, adalah anak satu-satunya. Darah dagingnya sendiri. Hanya dialah yang ia punya sekarang. Ada penyesalan dalam tatapannya itu kepada Nata.
"Apa yang ada dalam pikiran mu, Nata? Bagaimana bisa kamu melukai teman sekelas mu? Kamu nggak pernah papa ajarkan seperti itu. Kamu tau apa yang akan terjadi dengan karir papa? Seharusnya kamu berpikir dulu, baru bertindak."
"Kamu diam di rumah selama tiga hari ini. Tidak usah kemana-mana. Besok papa akan ke sekolah kamu untuk membereskan semuanya."
Percuma juga bila Nata menjelaskan semuanya kepada sang papa. Pasti dia yang akan disalahkan, tanpa mau mendengar apa penyebab semua itu terjadi.
Papa Tirta marah sekali kepada anaknya itu. Mau menyita ponsel Nata lagi, tapi rasanya percuma. Apalagi kameranya. Baru saja kemarin ia bebas dari hukuman, sudah membuat kesalahan lagi. Belum lagi ia tak tau keman rimbanya ponsel dan kamera itu sekarang.b
"Haaaah, sudahlah. Papa malas debat."
Papa Tirta pun segera keluar dari kamar Nata. Ia sampai menutup pintu kembali dengan tenaga kuat hingga pintu itu mengeluarkan suara yang memecahkan gendang telinga.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
Pagi ini, papa Tirta siap-siap untuk berangkat ke sekolah Nata. Terpaksa ia korbankan waktunya satu hari ini tidak masuk kantor. Malu ia rasanya, saat ia sebagai alumni sekolah itu, akibat tindakan anaknya sendiri.
Beberapa saat kemudian.....
__ADS_1
Papa Tirta telah sampai di sekolah. Hanya dua seorang, orang tua murid yang ikut andil dana kejadian kemarin. Membuat ia bertanya-tanya. Kemanakah ibu dari korban yang sudah dipukul oleh Nata?
"Saya minta maaf atas tindakan anak saya, pak. Saya sebagai alumni sekolah ini merasa sangat malu. Begitulah kalau anak tidak tau berterimakasih kepada orang tuanya. Padahal saya sudah mendidiknya dengan sangat baik, pak. Saya sudah menyusun setiap aturan untuknya. Tapi tetap saja membuat saya malu."
Kepala sekolah diam saja mendengar ucapan-ucapan yang keluar dari mulut papa Tirta, orang tua dari Nata.
"Akibat perbuatan anak bapak, kami pihak sekolah memberikan hukuman dengan skorsing selama tiga hari. Tetapi si korban malah memberi keringanan. Dengan alasan, semua bisa dibicarakan baik-baik. Yang namanya anak muda wajar."
"Ibu si korban juga setuju atas permintaan putrinya itu. Jadi, kami mohon kepada bapak untuk lebih dekat lagi kepada Nata. Ajak ia untuk deeptalk. Siapa tau ada banyak hal yang ia pendam, yang orang tuanya tidak tau."
Kepala sekolah tersebut menasihati papa Tirta. Membuat papa Tirta jengkel. Tapi hanya ia simpan dalam hati. Tak mau ia sampai sikap arogansinya diketahui oleh kepala sekolah. Tak mau ia kalau sampai mulutnya keceplosan memberitahukan bagaimana ia mendidik Nata selama ini.
"Trimakasih, pak. Sampaikan juga trimakasih saya kepada orang tua korban."
"Baik, pak." Kepala sekolah menjawab, tak ingin bicara terlalu banyak lagi. Bapak kepala sekolah membaca, ada yang tidak beres dengan anak dan ayah itu, antara papa Tirta dan Nata.
"Kalau begitu saya permisi, pak. Saya akan ngomong sama Nata mengenai ini. Dia pasti senang sekali tak jadi di skors selama tiga hari. Syukurlah, ia pun tak ketinggalan pelajaran."
Ada rasa lega di hati sedikit, karena Nata bisa sekolah kembali. Itu artinya, mimpinya untuk membuat Nata kuliah di luar negeri semakin kuat. Semakin banyak Nata untuk belajar, maka ia akan semakin cerdas. Semakin pintar. Maka peluang untuk kuliah di luar negeri semakin terbuka.
Papa Tirta pun meninggalkan ruangan kepala sekolah dengan diam. Ia berjalan pelan, menelusuri setiap selasar. Baginya, datang ke sekolah ini adalah suatu nostalgia. Mengenang masa-masa ia sekolah dulu di sini.
Terkadang ia tersenyum tanpa ia sadari saat menatap kelas-kelas, lapangan basket, lapangan upacara, dan gedung-gedung lainnya.
Sudah banyak perubahan di sekolah ini. Sudah banyak gedung yang baru. Ruang kelasnya pun semakin banyak. Sepertinya murid di sekolah ini setiap tahun bertambah banyak.
Laboratorium pun sudah ada beberapa. Banyak hal yang menarik di sekolah itu. Yang membuat papa Tirta betah. Hampir saja ia lupa kalau ia sudah terlalu lama di sini. Sampai ia tak menyadari kalau ia sudah jauh berkeliling, sendirian tanpa ada yang menemani.
Papa Tirta berharap, sekolah ini bisa memberi masa depan yang cerah untuk Nata. Bisa membuat Nata untuk menemukan jati dirinya. Bisa membuat Nata menjadi anak yang penurut, yang melakukan semua apa yang ia mau. Apa yang papa Tirta inginkan. Karena baginya, itu semua untuk kebaikan Nata. Untuk masa depan Nata kelak saat ia sudah tak lagi ada di bumi ini.
Papa Tirta harus membekali Nata semua yang ia anggap penting untuk masa depan anaknya itu kelak.
__ADS_1
To be continue....