Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 11. Diskusi


__ADS_3

Happy Reading!


"Kamu tuh perempuan nggak punya malu apa? Dimana harga diri kamu sebagai cewek?"


"Kenapa? Ada yang salah? Apa salah bila aku suka sama cowok kayak kamu?"


"Salah. Karena saya tidak suka kamu. Jadi berhentilah membuat asumsi kalau kita itu pacaran. Orang disebut pacaran karena adanya Salin cinta dan suka. Lalu mereka memutuskan untuk menjalin hubungan. Lalu kamu dan saya? Tidak ada hubungan semacam itu."


"Tidak apa-apa kalau ayang Nata nggak menganggap aku pacar. Tapi yang pasti, suatu saat nanti ayang Nata pasti akan sadar nggak bisa hidup tanpa Niki."


"Nih, aku bawa bekal. Mama aku baru pulang dari Bali. Dibawain ini sebagai oleh-oleh. Enak lho. Tahan selama dua minggu," ucap Niki, masih tetap berusaha membujuk agar Nata mau menerima bek darinya.


"Hahhh. " Niki menarik napas panjang.


"Ternyata gini ya berduaan sama kamu di dalam satu ruangan. Rasanya itu adeeeeem banget. Kalau boleh Niki meminta, ingin rasanya seperti ini. Tapi Niki sadar, nggak semua yang kita inginkan itu harus terwujud."


Nata tertohok dengan kalimat yang baru saja diucapkan Niki. Karena memang kenyataannya seperti itu. Tetapi ia, mengubur lagi dalam hatinya bahwa ia terusik dengan ucapan Niki tersebut.


Contohnya ke dirinya sendiri. Ia ingin sekali bergelut dalam dunia pemotretan. Tetapi, apalah daya. Pengaruh papanya sangatlah kuat. Menuntut ia harus menurut semua perkataan sang papa. Sebagai anak ia harus menurut. Bila ia melawan, maka sama saja dia dengan anak durhaka.


Selalu almarhum mamanya yang menjadi alasan Nata melakukan semua itu. Karena memang selalu almarhum sang mama yang dijadikan papa Tirta sebagai alat agar Nata mau melakukan apa yang ia harapkan. Tak pernah ia bertanya Nata suka apa. Nanti kuliahnya bagaimana dan jurusan apa.


"Eh eh, mau kemana kamu?"


Kehaluan Niki buyar karena kepergian Nata. Ia meninggalkan Niki yang sedang sibuk sendiri dengan khayalannya. Sontak, Niki pun buru-buru bangun, mengikuti kemana Nata pergi.


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...


"Setiap sore, kalian sudah bisa mulai bergerak. Membahas soal di sekolah sebelum tiba waktu olimpiade. Gimana?"

__ADS_1


Pak Andrew mulai bertanya kepada ketiga muridnya itu. Ya, usai pelajaran terakhir, seperti biasa pak Andrew meminta Niki, Nata, Sandra dan Salim untuk datang menghadap ke ruangan pak Andrew.


Mereka di sini untuk membahas langkah selanjutnya. Yaitu, berdiskusi, membahas soal, selama dua jam di sekolah sesudah pelajaran usai. Dimana kak Andrew lah sebagai mentor mereka nantinya.


Maka saat ini, pak Andrew meminta kesepakatan bersama bagaimana ke depannya.


"Gimana kalau kita mulai besok?"


"Hah?" ucap mereka berempat.


"Ya jangan dong, pak. Kecepatan itu mah," protes Niki.


"Iya, pak. Cepat banget. Mendadak lagi jadi kita nggak sempat kasih kabar ke orang tua," timpal Salim.


"Iya, pak. Aku juga belum bilang ke mama, buat nitipin kucing selama aku nggak ada," imbuh Salim lagi.


Mereka semua tidak terima keputusan yang diucapkan oleh pak Andrew. Tapi tidak dengan Nata. Ia memilih diam dan membiarkan teman-temannya yang memutuskan. Dia, kapan pun bisa.


Sandra menoel lengan Niki.


"Sibuk apa kamu?" bisiknya pada Niki.


"Sibuk nge-date lah."


"Sama siapa?" Sandra heran. Sejak kapan Niki nge-date. Apa ia dia sudah punya pacar dan Sandra tak tau?


"Sama ayang Nata."


Mau minta rasanya Sandra melihat Niki yang super super percaya diri sekali. Sejak kapan coba dia jadian sama makhluk yang bernama Nata itu. Masa taruhan mereka saja belum berakhir.

__ADS_1


"Udah ngehalunya?" tanya Sandra sekaligus menyindir.


"Sandra Mahalina, yang ngehalu itu siapa? Ini fakta, sayang. Bukan halu."


Tanpa sadar, Niki bersuara kuat. Membuat Nata, Salim dan pak Andrew menoleh ke arahnya.


"Niki, sedang bahas apa kamu disitu?" tanya pak Andrew dengan nada tegas.


"Pacar, pak," jawab Niki tanpa sadar.


Lagi lagi, Sandra menyenggol sang sahabat. Memberitahukan bahwa pak Andrew yang bertanya padanya. Bukan dirinya.


Segera Niki memperbaiki duduknya. Ia malu sekali. Tapi ia mahir menyimpan rasa malu itu dan membuatnya menjadi sesuatu yang bisa membuat orang tertawa.


"Dasar jago akting memang," cibir Sandra di dalam hatinya.


"Mak-maksud saya kita lagi bahas pacar kucingnya Salim. Iya kan, Lim?"


Niki main mata kepada Tito, berharap bantuan dari Tito, agar pak andrew tak bertanya itu lagi.


"I-iya, pak. Kucing saya yang di rumah sudah mulai puber, pak. Jadi sudah suka ngehalu sama kucing perempuan," sahut Salim Netranya menatap Nata dengan tajam.


Rasanya ingin sekali Tito meneriakkan ke orang-orang, termasuk Niki bahwa Nata adalah lelaki yang pencemburu, pengecut, sok cool, sok pintar. Tak mau mengakui kelemahannya. Ia tak terlihat seperti yang orang-orang bicarakan.


"Baiklah. Minggu depan kita mulai. Saya anggap pertemuan kita siang ini selesai. Besok bapak akan memberikan banyak soal untuk kalian bahas bersama-sama."


"Tapi mulai besok, pak," protes Salim lagi.


"Iya nih si bapak. Semangat banget," tambah Niki.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2