
Happy Reading!
Kring kring kring
Ponsel Nata sedang berbunyi. Ia sedang berada di dalam kamar mandi. Bunyi ponsel yang berbunyi itu terdengar di telinga papa Tirta. Yang kebetulan ja sedang masuk ke dalam kamar anaknya itu.
Dengan perlahan, ia menuju ke arah ponsel yang sedang berdering sambil bergetar itu. Tangan kanannya ia ulur untuk meraih ponsel itu.
"Papa."
Suara panggilan Nata membuat papa Tirta tersentak kaget. Kepalanya sampai membentur dinding saking ia kaget.
"Papa mau ngapain ke kamar Nata?"
"Ng-nggak ada," jawab papa Tirta gugup. "Pa-pa-pa papa hanya.... papa mendengar ponsel kamu berdering terus. Mengganggu gendang telinga papa. Jadi papa bergegas kemari untuk mengangkat. Papa kira kamu entah kemana, makanya papa mau angkat," ucapnya panjang lebar beralibi.
Takut ia ketahuan oleh anaknya sendiri. Ketahuan karena menyelidiki apa yang dilakukan anaknya. Menyelidiki secara diam-diam. Dalam benaknya ia tadi sudah menduga bahwa Nata sedang melakukan sesuatu yang membuat ia murka. Salah satunya ya telponan.
Tetapi ia malah tertangkap basah oleh Nata hendak mengangkat ponselnya yang sedang berdering.
Mendengar penjelasan papa Tirta, Nata pun mendekati dimana ponselnya berada. Dimana ponselnya sedang tersambung dengan kabel karena sedang mengisi baterai.
"Pak Andrew, pa," ucap Nata. Menunjukkan nama si penelpon ke hadapan sang papa, sekaligus memberitahukan dengan jelas bahwa ia tidak menelpon siapa-siapa. Hanya guru fisika dia saja. Entah apa yang mau disampaikan pak Andrew. Hanya sekali memanggil saja.
"Sudah bagaimana persiapan olimpiade kamu?" tanya papa Tirta, mengalihkan topik. Tak mau ia sampai ketahuan sedang apa di kamar itu.
"Ya belum lah, pa. Baru juga kemarin diberitahu. Aku juga baru bicara dengan pak Andrew. Beliau menyerahkan kepercayaan sepenuhnya kepada tim kami mengenai yang papa bilang."
"Pokoknya harus kamu yang jadi juru bicaranya. Agar semua orang melihat kamu, menilai kamu, bahwa kamu kayak untuk menjadi juara. Ini adalah awal bagimu. Awal menunjukkan kebolehan kamu terhadap dewan juri. Supaya mereka melirik mu kelak."
__ADS_1
"Papa apaan sih? Kan yang bekerja tim kami, kenapa harus papa yang menentukan siapa kaptennya? Kalau gitu, papa saja yang ikut olimpiade. Biar papa bisa jadi juru bicaranya. Biar semua orang memandang papa."
Nata membalikan semua kata-kata yang disampaikan papa Tirta terhadapnya.
"Kamu melawan papa? Berani kamu sekarang sama papa?" hardik papa Tirta.
Nata langsung tertunduk. Ia pun heran. Entah dapat keberanian dari mana ia bisa mengatakan hal itu tadi.
"Mau papa sita lagi hape kamu? Mau papa kurung lagi kamu di kamar? Nggak usah ke sekolah, nggak usah ketemu teman-teman. Kamu hanya belajar belajar dan belajar di kamar sendirian. Mau kamu? Baiklah, ayo!"
Papa Tirta mulai berapi-api. Amarahnya sudah naik ke ubun-ubun. Hampir saja ia hilang kendali terhadap anak satu-satunya itu.
"Papa kenapa sih? Nata salah apa sama papa? Kenapa papa benci banget sama Nata? Kenapa, pa?" ucap Nata, tak kalah emosi.
"Semua yang papa minta, semua yang papa mau, semua yang papa perintahkan sudah Nata turuti. Lalu, Nata harus bagaimana sekarang, pa? Apa yang harus Nata lakuin agar papa puas? Apa yang harus Nata buat agar papa senang? Agar papa memandang Nata sebagai anak papa. Katakan dengan jelas, pa. Agar Nata bisa lakukan, selagi Nata masih bisa."
Lega sedikit. Ringan sedikit beban dan sesak yang Nata simpan selama ini di hati. Ada kepuasan tersendiri karena ia telah mengeluarkan sedikit uneg-uneg yang ada dalam hatinya selama ini.
"Kamu salah, Nata. Papa sayang sama kamu. Papa lakukan semua ini agar kelak kamu punya masa depan. Agar kamu bisa sekolah tinggi, mapan sehingga orang lain akan memandang kamu. Itu saja yang papa inginkan. Jangan mengira kalau papa menindas kamu. Ini papa lakukan demi kebaikan kamu."
"Tapi, pa Nata-"
"Sudahlah. Papa nggak mau berdebat. Ingat, kamu mau olimpiade. Jadi fokuslah akan hal itu. Jangan kau pikirkan masalah lain. Jangan sering telponan. Jangan pacaran. Jangan suka nongkrong. Gunakan waktumu untuk belajar. Nggak usah ikutan teman. Nggak ada artinya itu."
Mantap. Mantap sudah benteng yang sudah dibangun papa Tirta untuk anaknya. Membatasi Nata untuk bergerak, berbuat dan bergaul. Sudahlah. Pasrah sudah Nata sekarang. Terserah papanya mau bagaimana. Asal, kenangan tentang mamanya tidak dihancurkan.
"Mau kemana papa? Papa nggak makan?"
"Papa ada urusan. Kamu makan sendiri saja."
__ADS_1
Dengan kasar, ia menutup pintu kamar Nata. Suara pintu itu kuat sekali. Cukup membuat terkejut hingga mengelus dada.
Uneg-unegnya kali ini merasa sia-sia. Tak dapat jawaban atau respon sesuai harapan Nata. Sesak dalam dada jadinya tidak tersalurkan. Tetapi dengan sendirinya tersimpan kembali, terpendam jauh di hati.
Nata pun memutuskan untuk tidak kemana-mana semenjak kepergian papa Tirta dari kamarnya. Bahkan makan malam pun ia lewatkan. Tak ia pedulikan kalau ia adalah anak yang akan kambuh sakit mag nya bila telat makan.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
"Kayaknya anak mama lagi kasmaran nih," goda mama Lidia, mama Niki.
"Mama apaan sih. Ganggu aja deh," sahut Niki. Ia merasa keasikannya diusik oleh mama tercinta.
"Siapa tuh cowoknya? Ganteng, nggak? Mama kenal, nggak?"
"Ya elah si mama. Kepo maksimal."
"Ya kepo lah. Siapa sih cowok yang sudah mengalihkan dunia anak gadis mama. Pasti dia tampan. Dan.... pasti dia cool," terka mama Lidia.
."Mama, kok tau sih?"
"Ya taulah. Kau itu anak mama. Lahir dari dalam lahir mama. Walau keluarnya lewat jendela, tapi perjuangannya sama. Pengorbanannya sama. Sama-sama bertaruh nyawa."
"Dari jendela? Emangnya maling?" sela Niki. Ia tak mengerti kalimat yang diucapkan mamanya Terutama pada kata keluar lewat jendela.
"Tunggu tunggu tunggu. Maksudnya, mama papa maling hingga akhirnya melahirkan aku? Wah, parah nih."
"Bukan gitu, sayang. Dengerin orang tua dulu ngomong. Jangan nyela, sayang."
"Baiklah, orang tuaku," sahut Niki bercanda.
__ADS_1
To be continue....