
Happy Reading!
"Berapa kali papa udah bilang, kamu nggak boleh pacaran. Kamu harus bisa lulus SMA dengan nilai tertinggi. Kamu harus memenangkan olimpiade itu. Agar kamu kelak masuk universitas luar negeri. Dengan beasiswa lagi. Paham kamu?"
Papa Tirta mengomeli Nata di luar rumah sakit. Tepatnya di halaman rumah sakit itu Sampai semua orang yang berlalu lalang di depan rumah sakit itu, melihat bapak dan anak itu sedang berdebat. Bukan berdebat sih, tapi papa Tirta yang lebih mendominasi. Tak ia beri sedikit pun kesempatan kepada Nata untuk menjawab.
Niki, yang mendengar semua itu menyunggingkan sebuah senyum. Kenyataan bahwa Nata bukan tidak mau berpacaran. Tetapi karena Nata tak diperbolehkan oleh sang papa untuk berpacaran.
Didikte anaknya untuk mengikuti semua apa yang ia mau. Sebagai anak tunggal dari mama Lidia, Niki merasa bersyukur. Punya orang tua yang memberinya kebebasan untuk melakukan apa yang ia mau tanpa harus dipaksa untuk melakukan apa yang ia tidak mau bahkan tidak bisa.
Ada juga timbul rasa iba di hati Niki kepada Nata. Ia diperlakukan layaknya seorang pekerja, yang dipaksa melakukan apa yang ia tidak mau. Yang ia tidak kuasai. Yang ia tidak bisa. Nata diminta harus berjuang, meski hal itu bukanlah bidangnya.
"Aku kecewa sama papa," tutur Nata dengan nada putus asa. Raut wajahnya sudah pasrah sempurna. Sampai detik ini, tak ada guna ia mengutarakan apa yang ia mau. Percuma. Karena tak akan didengar.
Dengan langkah yang teratur, Nata meninggalkan papa Tirta yang masih mengomel. Dapat ia lihat, tatapan orang-orang yang ia lewati sungguh tak bisa diterjemahkan dengan kata-kata. Entah apa yang mereka pikirkan tentang Nata sekarang.
Tak peduli ia, Nata mengabaikan tatapan itu dan meninggalkan mereka dengan segala kekesalannya terhadap papa Tirta.
Sementara papa Tirta, belum menyadari kalau orang ia omeli telah pergi meninggalkan dirinya.
"Dari tadi papa ngomong panjang lebar kamu nggak de-"
Papa Tirta baru menyadari bahwa Nata sudah tidak ada di sana lagi. Entah kemana dia pergi. Dan kenapa pula ia bisa kecolongan.
"Aaaah, sial! Nata memang keterlaluan. Dia tak pernah menghargai orang tua. Kemana sih dia?" gerutu papa Tirta.
Sementara Niki, ia sudah bergegas menuju ruangannya setelah mendengar semua kalimat yang dilontarkan papa Tirta pada Nata.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=\=...
__ADS_1
Sementara pak Andrew, beliau sudah keluar dari ruangan dokter. Baru saja. Ia membawa langkahnya dengan perlahan. Masih terngiang-ngiang jelas di ingatannya tentang apa yang disampaikan dokter terhadapnya tentang apa yang dialami Niki.
"Pak Andrew!" seru Nata. Hampir saja mereka bertubrukan. Karena sibuk dengan pikirannya sehingga pak Andrew tidak memperhatikan jalannya.
"Dimana Sandra dan Salim?" tanya pak Andrew. Ia ingin mengalihkan perhatian Nata agar tidak bertanya tentang Niki. Pak Andrew sudah bisa menebak dengan pasti, apa yang akan Nata tanyakan padanya.
"Saya tidak tau, pak. Saya tidak ada bertemu dengan mereka. Mungkin mereka sedang mencari makan sekarang," jawab Nata ragu-ragu. Ia mencoba menerka-nerka kemana perginya Sandra dan Salim.
"Kalau begitu, bantu saya untuk menjaga Niki. Bapak akan mencari kedua anak itu. Kita akan kembali. Kesehatan Niki jauh lebih penting dari pada olimpiade. Lagian, kita hanya menunggu hasil pengumuman selanjutnya."
"Baik, pak." Nata mengangguk. Tak ada lagi terlintas dalam benaknya untuk menanyakan perihal kondisi kesehatan Niki.
Gegas Nata berlari meninggalkan pak Andrew yang masih mematung. Ia ingin tau apakah gadis yang bernama Niki itu sudah siuman. Apakah dia sudah baik-baik saja. Sungguh Nata ingin tau yang sebenarnya. Penasaran ia.
Suara pintu yang dibuka dari luar dapat Niki dengar dengan jelas. Berpura-pura ia tak tau apa-apa. Ia menutup mata. Memainkan sandiwaranya dengan apik. Ia ingin tau siapa yang masuk ke dalam kamarnya. Apakah pak Andrew atau Nata. Atau malah Sandra dan Salim.
Langkah yang pelan dan pasti itu perlahan mulai mendekati ranjang pasien yang ditempati oleh Niki. Niki berusaha menajamkan indera pendengarannya.
"Sudah selama ini dia belum bangun? Kenapa dia sebenarnya?" gumam lelaki itu di dalam hatinya. Mertuanya menatap lurus ke depan, perempuan yang sedang terbaring dengan masih menutup matanya.
"Niki, bangun kamu. Betah sekali kamu menutup mata. Apa kamu tidak lelah? Apa kamu tidak ingin pulang dan berjumpa dengan orang tua mu?" tanya Nata dengan pelan. Takut ia bila bersuara kuat, Niki akan terbangun.
Bukannya ia mau Niki bangun? Kenapa sekarang malah takut? Entahlah. Semuanya itu reflek Nata lakukan.
"Niki, bangunlah. Jika kau bangun, kita akan kembali. Aku berharap, semoga kamu baik-baik saja. Semoga saja tidak ada masalah yang serius." Masih bergumam Nata di dalam hati. Mendoakan kebaikan Niki.
Sementara Niki, ingin ia membuka mata. Penasaran ia akan apa yang dilakukan oleh Nata. Tapi ia takut ketahuan, berpura-pura tidur. Berpura-pura bahwa ia masih tidak sadarkan diri.
Dengan lembut, Niki merasakan selimut rumah sakit yang bergeser menutupi tubuhnya. Ia baru sadar kalau selimut itu ia lupa kenakan. Berdoa dalam hati agar Nata tidak curiga.
__ADS_1
"Selimut nya kok berubah ya? Perasaan tadi nggak begini," gumam Nata. Dapat Niki dengar dengan baik. Niki pun semakin gugup.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"Suster!" sapa Nata pada perawat yang masuk ke ruangan Niki. Berjalan menghampiri ranjang Niki dengan map yang ia pegang.
"Maaf, saya periksa sebentar ya," ucap perawat itu dengan sopan.
Nata mengangguk memberi jawaban. Bahkan refleks, ia memberi ruang - melangkah sedikit, agar sang perawat bisa leluasa memeriksa Niki.
Nata pun memberi waktu dan ruang kepada perawat itu. Ia lebih memilih diam. Jika ada kesempatan, ia berniat untuk menanyakan kondisi Niki. Semoga saja bisa. Itu doa Nata dalam hati.
Melihat perawat yang sudah selesai dengan tugasnya, segera Nata bertanya. Tak mau ia kehilangan kesempatan emas ini.
"Bagaimana teman saya, sus?" tanya Nata sopan.
"Semuanya baik-baik saja. Bila nanti teman kamu sudah siuman, dia sudah bis pulang. Ingat, banyak istirahat dan jangan terlalu lelah. Kalau lelah, istirahat. Tolong ingatkan kepada teman kamu ya."
"Iya, sus." Nata menjawab sembari mengangguk.
"Seharusnya, sesuai dengan penjelasan dokter kemarin, harusnya dia sudah bangun. Tali entahlah, saya gak bisa menebak atau memastikan kapan di akan siuman. Yang jelas, kamu harus bersabar. Berusaha mengucapkan sesuatu yang bisa mengembalikan kesadarannya."
Sang perawat berkata panjang lebar. Sedang Nata, manggut-manggut mendengar penjelasan sang perawat. Berusaha mencerna apa yang ia dengarkan.
"Kalau begitu, saya permisi ya "
"Iya, sus. Trimakasih banyak. "
To be continue...
__ADS_1