
Happy Reading!
Kegiatan tersebut masih berlangsung. Akan tetapi, beberapa tim sudah ada yang gugur. Dan kini, mereka sedang di tahap semifinal. Dan tim Niki dan Nata masih bertahan hingga di tahap ini.
Terdengar pemandu acara memperbincangkan mengenai juru bicara. Apakah masih tetap orang yang sama atau diganti. Semuanya diserahkan sepenuhnya kepada tim.
Dan lagi lagi, tim TAE selalu saja berdebat. Mereka memperebutkan dua nama yang akan menjadi juru bicara. Tak lain Niki dan Nata.
"Udalah, San. Nata aja kenapa sih? Kenapa harus diganti coba?" celetuk Salim. Ia protes. Menurutnya semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Tetapi kenapa harus diusik dengan pergantian juru bicara.
"Gak apa-apa kali kalau ganti. Tadi aja kita hampir aja kalah," sahut Sandra masih tetap bersikeras dengan idenya.
Niki kali ini diam. Ingin ia mendengar dan menyaksikan reaksi dari pujaan hatinya itu. Tapi ternyata Nata juga diam.
"Liat tuh. Si Nata aja nggak protes. Dia malah anteng. Kenapa jadi kamu yang banyak ngomong? Dasar banci."
"Apa kamu bilang? Kamu bilang aku banci?"
Salim mulai kesal atas tudingan yang diberikan Sandra padanya. Nada suaranya mulai meninggi.
"Diaaaam!" pekik Niki. Ia sudah tak bisa lagi menahan diri untuk tetap bungkam. Salim dan Sandra masih saja tak kunjung menyudahi perdebatan mereka.
Pekikan dari Niki yang tiba-tiba, membuat orang-orang yang ada di dekat mereka terkejut. Reflek pandangan mata tertuju kepada Niki. Sama halnya dengan timnya. Terkejut atas suara Niki yang tiba-tiba menggelegar.
"Maaf semua," ucap Nata tanpa suara. Dengan isyarat bibir dan kepala yang tertunduk, ia menyesal karena telah mengusik ketenangan orang-orang yang ada di dekat mereka. Akibat ulah dari Niki. Orang yang selama ini selalu mengganggu hidupnya.
Tindakan dari Nata, membuat mereka maklum. Kemudian mereka kembali sibuk dengan apa yang mereka gelutkan sebelumnya.
"Kalian bisa nggak sih jangan bertengkar mulu?"
Nada suara Niki masih saja meninggi. Membuat Sandra bertekad, harus menghentikan aksi sahabatnya itu.
"Nik, suara kamu pelanin dikit. Semua orang lihat kamu," bisik Sandra dengan menggigit giginya. Berharap Niki mengerti atas apa yang Sandra maksud.
"Malu, Nik," timpal Sandra.
"Kamu nyuruh aku diam. Sementara kamu dengan si gemulai ini dari tadi berdebat. Hingga sekarang nggak ada ujungnya. Itu yang dinamakan nggak malu?"
Sandra terdiam. Ucapan Niki begitu menohok sampai ke lubuk hatinya. Sampai-sampai ia tak punya kata-kata untuk ia sampaikan. Sementara di depan sana, pemandu acara sudah memberitahukan bahwa kegiatan akan segera dilanjutkan kembali.
Pun Salim sebenarnya kesal. Tadi Sandra mengatakan ia banci. Dan sekarang ia pun dikatai gemulai oleh Niki. Kenapa kedua cewek itu mengatainya hal aneh hari ini.
"Dengar tub apa kata pembawa acara. Lebih baik kita fokus," ucap Salim akhirnya. Ia mengesampingkan kekesalannya. Baginya, masih banyak waktu yang nantinya ia bisa gunakan untuk mempertanyakan mengapa kedua gadis mengatainya hal yang tidak jelas.
__ADS_1
Fokus dengan lomba, itu yang jadi prioritas sekarang. Masalah sakit hati, kesal biarlah nanti urusan belakangan. Mereka membawa nama sekolah TAE sekarang. Jadi harus serius dan fokus.
"Baiklah, kita akan lanjutkan perlombaan ini. Apakah para peserta sudah siap kembali?"
Ke empat murid itu bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh pemandu acara. Untung saja Salim berkata. Hingga mereka bertiga diam, mereka bisa mendengar apa kata pemandu acara.
"Siaaaaap!" Seluruh peserta menyahut dengan sangat antusias.
"Baiklah, karena semuanya sudah siap, maka kita akan melanjutkan kembali."
Hening. Semua peserta fokus mendengar apa yang disampaikan oleh pemandu acara.
"Sama seperti sebelumnya, siapa yang terlebih dahulu menekan belnya, maka timnya berkesempatan untuk menjawab terlebih dahulu."
Pemandu acara mengulang kembali aturan mainnya. Dimana masih sama seperti tadi.
"Kita mulai ke soal yang pertama."
Baik telinga, mata, pikiran dan hati para peserta fokus semuanya pada perlombaan ini. Berlomba cepat dan berlomba menjawab dengan jawaban yang benar.
"Es bersuhu 0 derajat Celcius dan bermassa 10 kg ditambahkan pada 2 kg uap air bersuhu 100 derajat Celcius. Suhu akhir sistem adalah…"
"40 derajat Celcius." Sekolah lain memberikan jawabannya.
Sudah sampai pada soal ke empat, tetapi dari sekolah Nata dan Niki, belum ada menjawab pertanyaan tersebut.
Sandra kesal kepada Nata. Ia sudah memberikan jawaban, sementara Nata tidak langsung menjawab. Hampir saja ia mengambil alih pengeras suara dan bel itu. Agar ia yang jadi juru bicara.
"Kamu gimana sih, Nata? Kalau nggak niat, ya udah keluar dari perlombaan ini. Kesal lama-lama lihat kamu."
"Kamu saja yang jadi juru bicara kalau begitu. Aku malas," timpal Nata.
Sekarang malah mereka berdua berdebat di waktu yang sangat genting ini.
"Teman-teman, kita harus fokus. Tetap pada sebelumnya, Nata yang jadi juru bicara. Kita semua hang mengerjakan soalnya. Siapa yang selesai duluan, berikan jawabannya pada juru bicara. Bukan saatnya berdebat sekarang," ucap Niki. Mencoba melerai perdebatan Nata dan Sandra.
Sementara pemandu acara sudah bersiap akan membacakan soal selanjutnya.
"Pertanyaan ke lima."
"Sebuah partikel bergerak dari kondisi diam pada gerak lurus. Persamaan geraknya dinyatakan sebagai x \= t3 - 2t2+3, x dalam meter dan t dalam sekon. Kecepatan partikel pada t \= 5 sekon adalah…"
"55 m/s." Tim sekolah TAE yang memberikan jawaban. Dimana Nata sebagi juru bicaranya.
__ADS_1
Sampai pada pertanyaan ke delapan, tim TAE yang selalu memberikan jawaban. Dan semuanya benar. Dari tim TAE, Niki lah yang selalu menyodorkan jawabannya terlebih dahulu. Kalah cepat dengan Sandra dan Salim.
"Tampaknya tim TAE tak mau memberikan kesempatan pada tim lain. Tepuk tangan dulu untuk semua tim," ucap pemandu acara. Seperti mengulur waktu yang tinggal hitungan menit.
Para peserta yang tadinya tegang, kini mencoba melakukan apa yang diinstruksikan oleh pemandu acara tersebut. Mereka bertepuk tangan, menyemangati timnya sendiri.
"Kita akan ke soal nomor sembilan."
"Suatu gas bervolume 2 m3 dipanaskan perlahan-lahan pada tekanan tetap sampai volumenya berubah menjadi 4 m3. Jika tekanan gas 2 x 105 N/m2, maka usaha luar gas tersebut adalah…"
"1,0 x 105 J." Begitu semangatnya Nata menjawab. Karena Niki juga sudah menyodorkan jawabannya bahkan sebelum pemandu acara menyelesaikan pembacaan soalnya.
"Ya benar!" sahut pembawa acara.
Pak Andrew yang berada di area penonton terlihat tenang. Tapi tidak ada yang tau bagaimana hati dan perasaannya sekarang.
"Nik, kamu mimisan?" tanya Sandra. Ia melihat darah keluar dari hidung Niki. Usai Niki menyodorkan jawabannya pada Nata tadi.
"Nggak ah," jawab Niki. Karena ia memang tidak tau dan tidak sadar.
Salim langsung menoleh kepada Niki.
"Iya, Nik. Hidung kamu berdarah," timpal Salim panik.
"Masa sih?" sahut Niki santai.
Sementara Nata, ia terusik. Ia khawatir dengan temannya yang satu ini. Sementara waktu sangat genting.
"Kita keluar saja. Kita cari tim kesehatan." Salim memberi saran.
"Nggak usah. Aku nggak apa-apa kok," sahut Niki. Ia membersihkan darah yang keluar dari hidungnya dengan tisu yang diberikan Sandra.
"Teman-teman, fokus. Waktu tinggal sebentar lagi," ucap Nata tiba-tiba.
Salim langsung melotot pada temannya yang satu itu.
"Nata, kau nggak ada otak ya. Teman kau lagi kek gini, kau malah nggak kasian," sahut Salim. Ia kesal. Hingga keluarlah logat medannya.
"Egois kau. Nggak punya hati kau," sungutnya lagi.
Jangankan Salim dan Sandra. Nata sendiri bingung dengan pertanyaannya barusan. Kenapa malah kalimat itu yang terucap dari bibirnya.
To be continue...
__ADS_1