Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 24. Papa Ingkar


__ADS_3

Happy Reading!


"Sebenarnya aku anak papa atau nggak sih? Kenapa aku selalu ditekan? Kenapa ia tak pernah mendengarkan apa yang ku mau, apa yang menjadi kesukaan ku dan bagaimana perasaan ku. Tak pernah sekalipun papa bertanya aku senang atau nggak."


Nata menghela napasnya dengan kasar. Sungguh ia lelah hidup seperti ini. Tidak seperti anak lain yang bisa bebas kemanapun yang ia mau, memilih kemana ia akan sekolah, menceritakan semua keluh kesahnya kepada orang tuanya.


"Ma, Nata capek. Nata lelah. Apakah Nata sanggup, ma? Bisakah Nata seperti ini sampai dewasa kelak?" tanya Nata. Kepalanya mendongak ke langit. Menatap bintang yang bertaburan malam ini, ditemani oleh awan yang menghitam.


"Kalau aku lari, sama saja aku seperti laki-laki pengecut di luar sana. Yang lari dari masalah. Kalau aku bertahan, maka batinku yang akan tersiksa. Kapan aku bisa menikmati hidup, ma?"


Dinginnya angin malam menembus sampai ke tulang lengan Nata yang sedang berdiri di balkon. Warna-warni lampu kota memberi keindahan pada kota Medan di malam hari itu. Ia menyedekapkan tangannya di dada.


"I Miss you, mom," bisiknya pada langit yang gelap bersama dengan gemintang yang menatapnya dari ketinggian.


"Kalau boleh aku minta satu hal, ma. Datang lah ke mimpi aku walau sejenak saja. Aku ingin memeluk mu dan berbagi kisah ku padamu. Bisakah, ma?"


"Wahai langit, tolong sampaikan pesanku ini pada mama. Kalau boleh, turunkan semua pesan apa saja yang ingin mama sampaikan ke Nata."


...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...


Hari ini, Niki sangat senang. Karena Papa Darwish akan pulang dan berjanji untuk jalan-jalan bersama keluarga kecilnya. Rasanya ia sudah tidak sabar untuk bertemu papa Darwish. Berbulan-bulan sudah mereka ditinggalkan.


Sedang sibuk dengan hayalan dan pikirannya, memikirkan berbagai banyak hal yang akan ia lakukan kelak bersama papa dan mamanya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Pasti papa. Yes, papa udah pulang."

__ADS_1


Bagai anak kecil yang menanti baju princess dibelikan oleh orangtuanya, Niki segera beranjak dari bibir kursi belajarnya. Melompat karena kegirangan. Orang yang ia tunggu-tunggu akhirnya datang juga.


Dengan tak sabaran ia segera membuka pintu kamarnya.


"Papa! Akhirnya pa-"


"Mama? Papa mana?"


Seketika raut wajah Niki berubah murung. Kebahagiaan yang sempat menyala-nyala tadi, padam pada akhirnya. Kecewa ia karena bukan papa Darwish yang datang dan mengetuk pintu kamarnya. Tak seperti yang ia perkirakan. Di luar ekspektasinya.


"Kamu kok gitu sih? Lalu kalau mama yang mengetuk pintu kamarmu, kamu nggak suka?"


"Bukan gitu, ma. tapi tadi Niki pikirnya papa yang datang. Ternyata mama."


Saudaranya terdengar lemah. Ia benar-benar merindukan sosok cinta pertamanya itu.


"Cie cie.... Ada yang ngambek nih," ujar Niki, balik menggoda mama Lidia.


Like mother like dougther. Buah memang tak pernah jauh jatuh dari pohonnya. Kecuali ada yang melemparnya atau mengambilnya dengan gala lalu dijual ke pasar.


"Mama mau bilang kalau papa...."


Ada keraguan di hati mama Lidia. Ingin menyampaikan bahwa papa Darwish tidak jadi pulang. Tiba-tiba ada pekerjaan urgent yang tidak bisa ditinggalkan.


"Papa kenapa, ma?" tanya Niki panik. Tak terpikirkan olehnya jika papa Darwish tidak datang. Meski sudah biasa ia dikasih harapan dan ternyata harapannya hanya sia-sia.

__ADS_1


Namun, sebagai gadis kecil cinta pertamanya papa Darwish, tak pernah Niki mengingat itu. Ketidakhadiran papa Darwish beberapa kali hilang terkikis perlahan dengan kebersamaan mereka yang mengukir banyak kenangan.


"Papa baik-baik saja kan? Papa nggak kenapa-kenapa kan, ma?"


"Papa baik-baik saja, sayang."


Dengan cepat mama Lidia menjawab, sebelum kemana-mana berkelana pikiran putrinya itu.


"Oh syukurlah kalau papa baik-baik saja. Lalu papa kenapa ma? Ayo, teruskan!"


Niki sudah tidak sabar. Ia ingin tau apa yang terjadi kepada sang papa.


"Papa Darwish nggak jadi pulang, sayang. Baru saja telpon mama."


"Lho, kenapa, ma?"


Dalam sekejap, wajah Niki bisa berubah-ubah mimiknya. Yang tadinya panik, penasaran, takut, kini terlihat kecewa.


"Papa tiba-tiba ada urusan kerjaan lagi. Yang nggak bisa ditinggalkan. Jadi, papa sudah transfer uang untuk kita pergi jalan-jalan. Berdua. Mau kan sayang?"


Niki berjalan lesu, masuk kembali ke dalam kamarnya. Ia mendudukkan dirinya di bibir ranjang hello Kitty-nya itu Nampak sekali ia kecewa.


"Maafin papa ya, nak. Papa nggak bisa menemanimu hari ini. Lain kali, kita akan mengganti hari ini ya, sayang "


Begitu mama Lidia membujuk serta menghibur putrinya itu. Mengikuti jejak Niki, masuk ke dalam kamar yang serba pink itu.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2