Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 25. Tarikan Telinga


__ADS_3

Happy Reading?


Kedua pasangan itu sedang sibuk dengan tugas masing-masing. Pembagian tugas telah dilakukan tadi saat pertemuan awal mereka. Dimana pak Andrew lah yang bertugas untuk membagi tugas kepada mereka.


"Yang sulit dulu di kerjakan baru yang mudah."


"Yang mudah dulu baru yang sulit."


"Nggak. Aku nggak setuju. Yang sulit dulu baru yang mudah."


"Nggak, yang mudah dulu baru yang sulit. Supaya sisa waktu yang masih banyak bisa digunakan untuk mengerjakan soal yang sulit."


"Aku tetap nggak setuju."


"Sama. Aku juga nggak setuju saranmu."


Begitulah Niki dan Nata saling beradu pendapat. Memperdebatkan hal metode pembahasan dan pengerjaan soal. Dimana Niki mengatakan lebih baik mengerjakan soal yang mudah terlebih dahulu, kemudian soal yang dianggap sulit.


Sementara Nata, lebih setuju bahwa mengerjakan soal yang lebih rumit terlebih dahulu, kemudian soal yang dianggap mudah.


Salim dan Sandra geleng-geleng kepala melihat sepasang sejoli itu. Yang bagai Tom dan Jerry jika sudah berjumpa. Apalagi yang sekarang dibahas adalah ilmu fisika sesuai jurusan mereka. Tapi tak sesuai dengan hati Nata. Karena paksaan papa Tirta lah, ia bisa berada di sini sekarang.


"Kalian berdua bisa akur nggak sih?" hardik Pak Andrew. Sedari tadi beliau sudah mencoba menahan amarah atas tingkah kedua muridnya itu.


"Kerjasama tidak akan berjalan dengan baik kalau dalam hal sepele seperti ini saja kalian harus adu mulut. Sekarang, kalian berdiri dari kursi kalian!"


Akhirnya pak Andrew murka. Ke-killerannya sebagai guru fisika terungkap sudah. Killer bukan karena tak ada sebab. Namun inilah sebab dan akibatnya. Sepasang muridnya bukannya mengerjakan apa yang sudah diperintahkan, malah sibuk memperdebatkan hal yang tak ada faedahnya.


Kedua murid itu pun menurut perintah sang guru dengan terpaksa. Meski mereka malas dan kesal, tapi mereka harus tetap menurut. Melakukan apa yang dititahkan guru fisika itu kepada keduanya.


Niki, menggeser kursinya ke belakang agar ia bisa berdiri dengan leluasa. Sementara Nata, ia hanya menggeser badannya tanpa menimbulkan suara kursi yang didorong. Kemudian, ia berdiri di samping kursinya sendiri. Sementara Niki, di depan kursinya sendiri.

__ADS_1


"Berdiri di depan kursi masing-masing!" titah pak Andrew tak mau dibantah.


Dengan manut pula keduanya mengikuti perintah sang guru. Walau hanya Nata yang melakukannya. Karena Niki sudah dari tadi. Akhirnya, suara kursi yang digeser oleh Nata menimbulkan suara yang memuat Salim, Sandra dan Niki menggerutu di hati. Bibir ketiganya maju sedikit ke depan.


"Kalian bertiga!" Pak Andrew mengejutkan ketiganya yang sedang sibuk dengan bibir mengerucutnya.


"Siap, pak!" jawab ketiganya serentak. Lalu, memperbaiki ekspresi mereka. Salim dan Sandra duduk manis sementara Niki berdiri dengan posisi siap.


"Sekarang, Niki pegang telinga Nata, kemudian sebaliknya. Nata pegang telinga Niki."


"Aaaa, kesempatan emas nih bisa bersentuhan dengan ayang Nata. Trimakasih pak Andrew. Bapak memang the best deh ah," ucap Niki dalam hati. Ia senyum-senyum sendiri.


"Gila si Niki, sudah dihukum malah masih bisa senyum-senyum," ucap Salim berbisik tapi Sandra mendengarnya dengan baik.


Sandra mencebik. Ia tak menanggapi ucapan Salim dengan kata. Ia lebih fokus pada Niki. Ia sudah tau betul apa yang sedang direncanakan Niki sekarang. Matanya sedetik pun tak berkedip demi bisa melihat apa yang akan Niki lakukan kepada lelaki yang ia cintai itu.


"Dasar bucin," batin Sandra.


"Niki, kenapa kamu senyum?" tanya pak Andrew, membuyarkan lamunan Niki.


Niki berpikir, mencari jawaban yang pas. Kepalanya yang tak gatal ia garuk-garuk.


"Karena bapak hari ini ganteng banget," sambung Niki. Menjawab dengan asal.


"Saya tidak bercanda. Dan saya tidak tertarik dengan kata-kata receh seperti itu. Lanjutkan apa yang saya perintahkan?" ucap pak Andrew.


Kulkasnya hampir sama dengan Nata. Sebelas dua belas. Bedanya, Nata kulkas delapan pintu, sedangkan pak Andrew sepuluh pintu. Lebih dingin.


"Nata, kamu tarik telinga Niki sesuka kamu kuatnya seperti apa. Dan kamu Niki, tarik telinga Nata semau kamu. Bagaimana kuatnya, kalian yang mengaturnya!"


Pak Andrew menatap kedua muridnya itu secara bergantian. Tatapan yang mengintimidasi dan tidak boleh dibantah.

__ADS_1


"Lalukan!" titahnya kemudian.


"Aku tarik kata-kata ku tadi, pak. Nggak jadi bapak the best. Hukumannya kok gitu sih. Mana tega aku narik kuping ayang Nata," omel Niki dalam hati.


Sementara Nata, tangannya kini sudah mendarat di telinga Niki. Ia tak mau melawan gurunya yang satu ini.


"Pak, jangan ditarik dong kupingnya. Sakit lho, pak," ucap Niki mencoba menawar.


Bukan ia tak mau ditarik Nata telinganya, tapi dia yang tidak tega menarik telinga Nata. Rela ia merasa sakit asal Nata yang menarik telinganya. Tapi ia tak tega menarik telinga Nata.


"Ini hukumannya karena kalian tidak bisa saya atur. Dan tidak ada tawar-menawar." Dengan tegas pak Andrew menolak tawaran Niki.


"Bukan kamu yang mengatur saya. Tapi sayalah yang mengatur kalian berempat! Paham?"


Niki menunduk. Tanduk yang tadinya milik pak Andrew hampir tenggelam, kini malah naik lagi lebih panjang dari biasanya. Beliau benar-benar sudah marah. Merasa dipermainkan oleh muridnya itu sendiri.


"Lalukan!" titah pak Andrew dengan suara keras. Tak mau lagi dia mengulur waktu. Karena waktu memang terus berjalan. Sementara olimpiade sudah di depan mata. Tinggal menghitung hari.


"Niki, bapak mohon serius! Lakukan segera agar kita lanjut membahas soal. Waktu kita tidaklah banyak. Kita harus mempersiapkan diri kita dengan baik," ucap pak Andrew. Ia sudah menurunkan nada bicaranya.


"Baik, pak," kata Niki kemudian. Lebih baik saat ini ia mengalah. Karena apa yang dikatakan pak Andrew itu benar.


Kini, Nata menarik telinga Niki dan Niki tidak. Ia hanya memegang telinga Nata dengan hati-hati. Takut ia akan memberi rasa sakit pada pujaan hatinya itu. Tak peduli ia dengan sakit yang dialaminya akibat tarikan kuat oleh Nata, sesuai titah pak Andrew.


"Kenapa dia tidak menarik telingaku?" batin Nata bertanya. "Dan kenapa dia tidak merasa kesakitan saat aku menarik telinganya? Kenapa dia malah senyum?" imbuh batin Nata.


"Bapak hitung sampai 10 menit. Selama sepuluh menit kalian harus menarik telinga orang yang di samping kamu. Paham?"


Nata menunduk. Niki juga menunduk. Lebih memilih mengikuti perintah guru fisika mereka tersebut.


Sandra sedari tadi memperhatikan Niki dengan seksama. Ia kasihan pada sahabatnya itu. Tapi ia tak bisa membantu. Sandra merasa ada yang tidak beres. Bisa ia lihat jika telinga Niki memerah. Mungkin akibat tarikan kuat dari Nata.

__ADS_1


"Pak, udah dong pak. Kasian Niki. Telinganya udah merah tuh," celetuk Salim tiba-tiba. Tak ada rasa takut sedikitpun dalam dirinya ketika bicara dengan pak Andrew.


To be continue.....


__ADS_2