Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 21. Nasihat Pak Guru Andrew


__ADS_3

Happy Reading!


Pagi itu, saat pelajaran kesenian, tepatnya pada jam ketiga, Niki diminta oleh pak Andrew menghadap ke ruangannya. Kebetulan memang materi pelajaran mereka hari ini adalah not balok dan not angka serta harga not.


Pelajaran yang sangat membosankan bagi Niki. Kepalanya akan sepeti diputar-putar saat membaca not sepeti tauge itu Belum lagi garis enaknya itu Sering sekali garisnya miring saat guru kesenian tersebut meminta ia untuk menuliskan not balok


Lebih baik ia disuruh menghapal rumus, mengerjakan soal dengan berbagai rumus dan menghapal nama zat kimia dan mengerjakan soal kimia dari pada belajar bernyanyi, membaca not dan menuliskan not.


Suaranya saat bernyanyi bukan pasar-pasar atau bagus sepeti suara gadis pemenang Indonesian idol dua ribu dua puluh dua. Untuk yang satu ini ia mundur. Lebih baik ia duduk di belakang, chatting di grup bersama teman-teman gokilnya.


"Niki, tadi kan saya suruh kamu untuk datang ke ruangan saya pada saat jam istirahat." Pak Andrew mulai bertanya-tanya dengan sikap siswinya yang satu ini.


"Mau sampai kapan kamu dihukum terus? Kemarin kaus kaki kami belang-belang. Belum lagi kamu yang sering telat. Dan sekarang, kamu datang ke ruangan saya se-dini mungkin. Belum cukup dengan tingkah nakalmu itu?"


"Hehe."


Niki malah cengengesan saat guru kelasnya yang terkenal killer itu mengomeli dirinya. Ia beda dengan murid lain, yang takut pada pak Andrew. Niki tidak. Ia malah senang guru seperti itu. Tegas tapi mendidik. Meski ia sering kena hukuman.


"Ya sudah. Cepat!. Mau ngomong apa? Apa ada yang mau dibahas?"


"Lho? Bukannya bapak mau bahas sesuatu makanya panggil saya ke sini?" Niki malah membalikkan kata-kata pak Andrew.

__ADS_1


"Saya itu bukan hanya memanggil kamu. Saya juga memanggil teman-teman kamu yang lainnya."


"Oh gitu. Hehe. Jadi gimana, pak?" Santai sekali Niki bicara dengan pak Andrew. TK ada rasa takutnya sedikit pun. Walau ia memang bicara dengan kaidah yang disempurnakan dengan orang yang lebih tua darinya.


Niat hati ingin menghindar dari pelajaran kesenian malah gagal sepertinya. Karena memang pak Andrew ingin bicara dengan tim olimpiade yang sudah dibentuk waktu itu. Sementara deadline sudah mepet.


"Sekarang kamu kembali ke kelas, ikuti mata pelajaran yang sedang berlangsung!" titah pak Andrew dengan tegas tanpa mau dibantah. Niki bahkan ingin berbicara kembali, tapi dari isyarat tangan yang diberikan lak Andrew cukup membungkam mulut Niki yang nyaris saja mengeluarkan kata-kata.


"Niki, tau kan keluar kan?" Terdengar nada yang lebih serius dibandingkan yang tadi. Itu artinya, pak Andrew tidak main-main dengan perintahnya.


"Bapak akui kamu pintar. Tapi kepintaran yang kamu punya tidak akan berguna kalau kamu nggak punya attitude yang baik. Tidak mengikuti pelajaran di kelas sama saja kamu tidak mematuhi aturan sekolah. Kamu masih ingat tujuan kamu datang ke sekolah ini?"


Niki tertunduk. Tidak menjawab pertanyaan dari pak Andrew. Selama ini pak Andrew sebagai wali kelasnya, mencoba diam akan tingkah Niki. Lebih menyerahkan semuanya kepada guru bimbingan konseling.


Satu hal yang membuat guru-guru mempertahankan dia, karena memang dia cerdas, pintar. Tapi buat apa itu semua kalau attitude-nya tidak ada. Benar kata pak guru fisika, Andrew. Lama-kelamaan, orang tidak akan menyukainya kelak jika ia mempertahankan sikap yang seperti itu.


"Saya sebagai wali kelas kamu, bisa saja membuat kamu untuk tidak lulus sekolah nanti pabila kamu bertahan dengan sikapmu yang seperti ini. Karena nilai kamu, ada di ujung pena saya."


Kalimat terakhir dari pak guru fisika ini, cukup mengejutkan bagi Niki. Ia tak pernah menduga bahwa pak Andrew akan berkata seperti itu. Cukup mengusik hati dan pikirannya. Bahkan terngiang-ngiang dalam benaknya, ucapan pak Andrew itu bergema di dalam telinganya.


Benar, sebagai wali kelas berhak memberi nilai kepada muridnya. Tentunya sesuai dengan keadaan anak yang sebenarnya. Tetapi bukan memberi nilai karena ia menyukai murid tersebut. Tapi karena prestasi yang ia raih dan juga attitude dari anak itu sendiri lah yang membuat ia melewati tahan demi tahap hingga ia lulus dari sekolah tersebut.

__ADS_1


Bukan karena nepotisme, karena murid itu anak dari pejabat yang suka memberikan tips, bukan pula karena murid tersebut anak orang kaya karena donatur tetap di sekolah itu, bukan pula hanya karena ia menorehkan prestasi tanpa attitude yang baik pula.


Tapi karena mengikuti peraturan di sekolah dengan baik, attitude yang baik dan memberikan prestasi yang gemilang untung mengharumkan sekolah tersebut.


"Bapak minta sekarang juga, kamu masuk ke dalam kelas bergabung dengan teman-teman kamu yang lainnya untuk mengikuti pelajaran kesenian," ucap pak Andrew dengan tegasnya.


Dari tadi Niki hanya diam saja. Kesempatan untuk ia bicara sudah tidak ada. Karena memang pak Andrew ingin menasihati muridnya itu. Ia ingin menyadarkan muridnya yang satu ini. Terlalu sering ditegur pun akan membuat anak itu jenuh. Dia tidak akan nurut lagi karena sudah biasa ditegur dan dihukum.


Mungkin sudah jadi mainan baginya ketika keluar masuk ruang BP. Tetapi dengan nasihat panjang lebar dari pak Andrew tadi, membuat Niki termenung. Bercermin akan dirinya. Kali pertama pula pak Andrew bicara panjang lebar padanya secara personal.


"Suka atau tidak suka kamu mata pelajarannya, tetap ikuti. Kamu masih siswa yang butuh bimbingan, butuh pendidikan. Bukan orang tua yang bisa memilih mana yang harus kamu ikuti dan mana yang tidak. Kelak, saat kamu dewasa itu berguna buat kamu. Jangan sepelekan ilmu walau sedikit pun."


Lagi lagi Niki hanya bisa diam. Tak mau ia menjawab lagi. Tak mau ia berdebat lagi dengan wali kelasnya itu. Karena semua nasihat yang disampaikan pak Andrew tepat adanya.


Salah satu kriteria guru yang sukses adalah bukan karena ia bisa membuat anaknya jadi juara, berprestasi dimana-mana. Tapi karena ia sukses menjadikan murid itu sebagi murid yang sopan, yang ramah kepada setiap orang dan tentunya memiliki sikap sopan santun dan hormat kepada orang tua. Menciptakan murid yang memiliki akhlak yang baik di masyarakat.


"Kalau begitu, Niki balik ke kelas, pak. Trimakasih, pak. Dan.... permisi."


Sambil menunduk, setelah memberi hormat Niki meninggalkan ruang guru.


"Maafkan bapak, tapi ini yang terbaik untuk kamu, nak. Kamu pintar memang, cerdas tapi etika kurang. Akhlak kurang. Bapak ingin kamu jadi teladan nantinya kepada teman-temanmu dan adik-adik kelas mu nantinya," batin pak Andrew. Ia menatap kepergian Niki yang tentunya berbeda saat ia datang tadi.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2