Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 22. Jin Tomat


__ADS_3

Happy Reading!


"Kamu dari mana, Nik?" tanya Sandra dengan berbisik saat Niki sudah duduk di kursinya.


Nampak ibu Mega sedang berdiri di depan kelas, mengamati siswa yang sedang serius mengerjakan tugas yang ia berikan.


Dapat ia lihat bahwa guru kesenian memberi mereka tugas untuk membuat not balok. Menentukan harga not mulai dari not penuh, not setengah sampai seterusnya dan bagaimana simbolnya. Bagaimana ketukannya saat not penuh, not setengah dan seterusnya.


Niki melihat buku yang ada simbol togenya terpampang jelas di depannya. Seingatnya tadi ia tidak membuka buku itu.


"Aku pinjam. Hehe. Aku nggak bawa buku," ucap Sandra nyengir. Mengerti tatapan serta tanda tanya yang bersarang di hati Niki.


"Oh ya, kamu dari mana tadi?"


Sandra mengulang kembali pertanyaannya karena tak kunjung dijawab oleh Niki.


"Dari toilet."


"Lama amat," protes Sandra. "Kamu sengaja kan mengindari toge-toge ini?" Sambil bibirnya ia monyongkan demi menunjuk toge-toge yang terpampang rapi di buku itu.


Entah kenapa, seorang Niki yang tergolong pintar dan cerdas tidak menyukai materi yang satu ini. Beda hal nya dengan Sandra, ia suka malah. Suara dan vokalnya pun bagus. Tapi tidak pada materi melukis dan menggambar. Niki lah pemenangnya.


Pertanyaan Sandra tepat menuju sasaran. Tebakannya benar. BESTie memang begitu. Selalu bisa menebak apa yang dipikirkan BESTienya meski ia belum mengungkapkannya.


"Tau aja kamu."


"BESTie gitu lho," sahut Sandra bangga. Ia meletakkan penanya diatas buku karena telah selesai dengan tugasnya.


"Ada yang sudah selesai?" tanya ibu Mega tiba-tiba. Mengejutkan seisi kelas. Baru setengah jam yang lalu diberi tugas, masa sekarang sudah bertanya sudah selesai atau belum? Karena sebagian atau mungkin hampir semuanya, belum ada yang menyelesaikan tugasnya. Tapi tidak dengan Sandra.


"Saya sudah, bu," seru Sandra. Ia mengacungkan tangannya ke atas. Sontak, perhatian murid-murid lain teralihkan pada Sandra. Serentak pula mereka menoleh ke bangku di mana Sandra duduk.


"Cepat banget "


"Iya. Tungguin napa. Kenapa main duluan aja?"

__ADS_1


"Padahal aku belum selesai lagi. Masih banyak malah "


Begitulah protes teman-teman yang bisa direkam oleh Niki di indera pendengarannya. Ternyata ia sama dengan mereka, belum selesai. Bahkan belum memulai. Ia juga baru tau kalau ada tugas diberikan oleh Bu Mega.


Terdengar suara langkah sepatu bu Mega, semakin lama semakin nyaring terdengar di telinga. Hingga akhirnya tiba tepat dimana Sandra duduk. Ibu Mega pun berdiri diantara kedua siswi itu, Niki dan Sandra.


"Niki, dari mana kamu?"


Yang diajak bicara bukannya Sandra, tapi Niki. Tadinya bu Mega sudah hampir saja menghampiri meja Sandra, tapi ia urungkan. Seperti ada sesuatu yang membisikkan padanya untuk menanyakan Niki terlebih dahulu.


Bu Mega pun teringat jadinya saat Niki tadi ijin hampir setengah jam lamanya.


Niki tersentak dengan pertanyaan bu Mega. Tadinya ia sudah lega karena ternyata bu Mega tidak mempertanyakan dari mana dirinya sedari tadi. Tapi apa, kelegaan ini pun memudar sudah. Sudah waktunya ia bangun dan berpikir dengan jernih. Alasan apa yang akan ia sampaikan pada bu Mega saat ia keluar kelas dengan durasi yang lama.


"Niki! Dari mana kamu?" tanya ibu Mega lagi, mengulang pertanyaannya.


"Dari kamar mandi, Bu," jawab Niki asal. Karena dia pun tak punya ide untuk menjawab yang lain. Yang lebih masuk di akal.


"Jawab yang benar! Lihat ke arah ibu, jangan ke bawah meja. Saya bukan di bawah meja," cerca ibu Mega tegas.


"Niki tadi ke ... ke .... aku, bu "


"Kemana?" tanya ibu Mega lagi.


Dicerca dan ditatap seperti itu oleh sang guru membuat Niki gugup. Blank sudah isi kepalanya. Tak tau ia mau jawab apa. Mau jujur takut dihukum. Mau bohong nggak ada alasan yang logis.


Entah sejak kapan Niki tidak siap dihukum. Apakah petuah panjang lebar dari guru kelasnya tadi sudah berlaku sejak saat ini? Atau ada sesuatu yang lain yang membuat ia hingga takut dihukum?


"Ke ruangan pak Andrew, bu karena ada urusan. Bapak itu manggil saya jadi saya ke sana. Saya sengaja me ... me..... me....."


"Niki, kalau kamu tidak suka mata pelajaran saya ya sudah. Saya tidak memaksa. Tapi jangan pernah keluar dari kelas saat pelajaran sedang berlangsung. Kecuali sudah kebelet dan urgent. Selain dari itu, saya tidak ijinkan. Karena saya merasa tidak dihargai di sini. Mengerti kamu?"


"Mengerti, Bu," jawab Niki dengan kepala yang tertunduk. Menatap lantai keramik berwarna putih itu.


"Duduk saja di sana! Kerjakan apa yang saya minta. Tidak usah harus caper tampil ke depan. Karena saya tidak suka siswa dan siswi saya caper. Lebih suka yang apa adanya. Natural," imbuh bu Mega lagi.

__ADS_1


"Sekarang kerjakan yang saya minta. Tanya sama teman kamu. Sandra tuh, dia lebih baik dari semuanya."


Bu Mega mengakhiri omelannya terhadap Niki. Ia juga tidak mau dibenci oleh murid karena terlalu cerewet. Teguran sedikit saja sudah cukup baginya. Karena di rumah pasti ditegur oleh orangtuanya dengan caranya sendiri.


Nata, sedari tadi dia menatap Niki tanpa berkedip. Salut ia dengan keberanian yang dimiliki gadis sepertinya. Bukan tipe yang menye-menye. Bukan pula gadis yang bisa ditindas. Bukan pula gadis yang munafik.


Natural dan apa adanya. Bukan pula alay dengan tingkah hang di buat-buat seperti gadis oada umumnya. Bukan pula gadis yang suka bergaya dengan outfit yang berlebihan.


Tanpa sadar, ia tersenyum melihat interaksi antar ibu Mega dengan gadis tersebut.


"Sssst, lihat kiri," bisik Tito pada Salim. Gerak-gerik keduanya di sadari oleh Agus. Ia juga ikut menoleh.


"Mana?" Agus malah yang sibuk bertanya karena penasaran. Di sebelah kiri dia tidak ada yang aneh menurutnya. Semua berjalan lancar, ya semestinya.


"Sebelah kanan kau lho. Gimana sih," protes Salim.


"Oh iya."


Agus pun memperbaiki posisinya. Melihat ke arah yang ditunjuk oleh Salim.


"Kenapa?" tanya Agus dengan gerakan kedua telapak tangan tangan menengadah ke atas.


"Tuh, ada yang senyum-senyum sendiri," ucap Tito sambil memonyongkan bibir ke arah lelaki yang sedang tersenyum itu.


"Iya, benar. Nggak ada hujan nggak ada angin, senyum tuh si kulkas," sahut Agus.


"Kesambet apa dia? Buto ijo?" Sela Tito lagi bertanya.


"Kesambet jin tomat dia," celetuk Salim asal.


Tito dan Agus sontak menikah pada Salim.


"Ketemu dimana kau istilah jin tomat. Emang ada?" tanya keduanya serentak.


"Kan kau yang ngajarin," sahut Salim cepat.

__ADS_1


To be continue....


__ADS_2