Niki Untuk Nata

Niki Untuk Nata
Bagian 13. Ungkapan Cinta dari Niki


__ADS_3

Happy Reading!


"Kamu bego ya? Nggak ngerti bahasa? Harus berapa kali aku bilang jangan pernah ganggu hidupku. Harus berapa kali juga aku bilang jangan pernah panggil aku dengan kata menjijikkan seperti itu!"


Nata begitu berapi-api. Tak peduli ia sekarang banyak orang yang menjadi saksi di ruangan itu. Menyaksikan kemarahan Nata dan menyaksikan Niki yang sedang dilanda rasa malu.


"Tapi ayang Nata, Niki kan sayang sama ayang Nata. Apa salah kalau Niki mencintai seseorang? Apa salah kalau Niki berjuang untuk mendapatkan cinta dari ayang Nata?"


"Salah. Salah besar. Karena kamu nggak berhak mencintai aku. Karena kamu nggak layak buat aku. Karena kamu perempuan murahan yang mencoba mengejar-ngejar cintaku dengan cara yang sangat menjijikkan. Karena kamu aku nggak mau masa depanku hancur. Karena kamu, nggak lebih dari sekedar sampah untukku."


Sandra, yang mendengar semua perkataan sarkasme Nata sungguh marah. Ia sangat kesal kepada Nata yang tak punya rasa kemanusiaan. Yang tak berperasaan menghina sahabatnya sebegitu jauh. Tangannya sudah terkepal sekarang.


"Hewan saja mengerti bahasa manusia? Lha kamu?" tambah Nata.


Tidak. Sandra tak bisa menahan diri lagi. Teganya Nata membandingkan Niki dengan hewan. Ini sudah sangat keterlaluan. Ia harus maju, membela Niki, menenangkan Niki. Membawa ia dari sana untuk menepis rasa malu. Menghapus air mata yang sedari tadi sahabatnya itu tahan.


Sandra tau itu. Niki sedang bertahan sekarang. Bertahan dari rasa malu, bertahan dari rasa marah, bertahan dari rasa ingin menangis. Ingin sekali ia memeluk sahabatnya itu sekarang. Tapi tidak, sebelum ia membeli pelajaran pada laki-laki seperti Nata.


Laki-laki yang tak tau bersyukur saat ada orang lain begitu mencintainya dengan tulus. Tanpa pernah memandang sisi buruknya diri Nata. Bahkan ia selalu terang-terangan mengungkapkan cintanya di hadapan seluruh umat tanpa rasa sungkan. Tanpa rasa segan.


Begitu tulusnya cinta itu. Tapi apa? Nata bahkan sampai berkata bahwa Niki tak berhak mencintai dirinya. Siapa Nata? Tuhan? Apakah dia berhak menentukan siapa yang akan mencintainya dengan tulus?;


Plak


Plak


Dua buah tamparan keras mendarat sudah di pipi Nata sebelah kiri dan kanan.


"Udah ngomongnya? Udah menghinanya? Puas kamu menyakiti sahabat aku? Senang kamu melihat sahabat saya terluka? Dasar cowok pengecut. Brengs*k."


"Cowok tak tau berterimakasih yang aku pernah kenal ya kamu. Cowok tergila dan terbanci yang pernah aku tau ya itu kamu. Siapa kamu yang berhak menentukan siapa yang harus mencintaimu? Siapa?"


Beberapa diantara mereka mencoba menenangkan Sandra yang sudah berapi-api. Bahkan ia masih berusaha menggapai Nata, ingin memukul dan menamparnya kembali.


Untung saja mereka berhasil menahan Sandra. Kalau tidak, pipi Nata akan bengkak jika sampai hal itu berhasil.


"Sandra, stop!" pekik Niki.

__ADS_1


"Jangan ikut campur urusan aku! Ini adalah cintaku dan hidupku. Aku hanya memperjuangkan cinta yang aku miliki. Apa salah? Dan kenapa kamu menamparnya, San?"


Niki mulai menangis. Dengan tulus ia berjalan ke arah Nata. Tak ada rasa sakit hati dalam dirinya walau lelaki itu telah menghinanya. Mengumpatnya dengan kata-kata tajam, begitu kejam.


"Mana yang sakit, ayang?"


Niki mengusap-usap wajah Nata yang ditampar oleh Sandra tadi dengan lembut dan hati-hati.


"Maafin sahabat aku ya, sayang. Dia pasti nggak sengaja tadi," ucapnya pula dengan lembut. Air matanya sudah berlimpah ruah jatuh membasahi pipinya yang mulus tanpa skincare.


"Menyingkir dari hadapan ku!" pekik Nata.


Niki abai. Ia tetap melakukan yang sesuai dengan isi hatinya katakan. Mengusap wajah Nata dengan tisu basah yang ia keluarkan dari kantong roknya.


"Singkirkan tangan kotormu itu!" sarkas Nata lagi.


Dan lagi lagi, Niki tak peduli. Ia tetap dengan kemajuannya, dengan perhatiannya. Hingga Nata bisa merasakan pipi kiri dan kanannya dingin akibat usapan tisu basah itu.


"Kubilang berhenti!"


"Aaah...." pekik Niki.


Niki sampai meringis, menahan sakit akibat lututnya yang terbentur ke lantai keramik itu. Saking kuatnya Nata mendorongnya, lutut Niki berdarah. Darah segar itu menetes perlahan. Lantai putih itu pun kini disirami tetes darah itu dengan perlahan.


"Dasar cowok kasar."


"Dasar cowok arogan."


"Cih, sok ganteng."


"Buat apa tampan kalau kasar."


"Jijik aku lihatnya."


Ada banyak lagi ucapan-ucapan yang tak sedap di dengar dari cewek-cewek yang mengagumi sosok Nata selama ini. Mereka mengira bahwa Nata adalah cowok yang dingin di luar hangat di dalam. Nyatanya mereka salah. Mereka menyesal pernah mengagumi lelaki itu.


"Ayo bangun, kak! Jangan mau diperlakukan seperti itu oleh cowok pengecut sepertinya!" pekik beberapa siswi yang duduk di kelas sepuluh.

__ADS_1


"Menjauh darinya kak. Dia itu virus. Kakak nggak pantas untuknya." tambah yang lainnya.


Sandra tak tinggal diam. Meski Niki marah kepadanya tapi ia tak peduli. Baginya, kesehatan Niki lebih penting daripada makian Niki kepadanya tadi. Ia harus segera membawa Niki dari hadapan laki-laki seperti Nata.


Sandra tidak akan membiarkan Nata begitu saja. Ia akan menuntut Nata. Atas kekerasan yang sudah Nata lakukan kepada sahabatnya itu. Atas rasa malu yang sudah diterima sahabatnya.


"Ayo, Nik kita obati luka kamu dulu!" ajak Sandra. Ia mengulurkan tangannya.


Niki pun berusaha meraih tangan Sandra. Dan berhasil. Namun, Niki tak bisa berdiri. Masih menempel darah di lututnya. Ia tak mau menatap darah itu. Ia takut hatinya terluka.


Orang yang ia sayang begitu tulus, ternyata tega berbuat kasar kepadanya. Tega melukainya, tega mempermalukan ia di depan orang banyak. Menolak cintanya dengan sarkas.


"Sudah, jangan menangis di sini. Aku tau sakit yang kamu rasakan. Sekarang, waktunya kamu berjuang untuk dirimu sendiri. Nanti kalau kamu sudah baik, baru kamu berjuang untuk orang lain," ucap Sandra lagi.


"Aku nggak bisa berdiri, San. Sakit banget," ucap Niki kemudian.


Sandra pun memutar otak.


"Tunggu di sini," ujarnya kemudian.


Dengan sigap Sandra berlari entah mau kemana. Niki tidak tau.


Sementara Salim, Tito dan Agus ada di sana. Melihat semua kejadian tersebut. Merasa tak percaya kepada Nata, sahabat mereka. Baru kali ini mereka melihat Nata seperti itu. Atau memang Nata aslinya begitu, mereka tau.


"Wah, keterlaluan Nata," celetuk Salim.


"Iya, benar. Aku nggak nyangka dia sekasar itu," timpal Agus.


"Aku, walau misalnya di posisi Nata, nggak tega rasanya aku kasar kepada perempuan. Walau aku nggak suka. Karena aku ingat mama dan adikku," sahut Tito.


Ketiganya menyayangkan perbuatan Nata hari ini.


Kejadian itu tidak lama berlangsung. Bahkan sebelum kepada sekolah tiba, semuanya sudah selesai. Banyak murid yang sudah kembali ke dalam kelas.


"Ada apa ini?" tanya kepala sekolah kepada penjaga perpustakaan yang tertunduk. Ia merasa malu dan bersalah. Seharusnya ia tak mengikuti maunya Niki. Karena ujungnya Niki yang jadi korban.


To be continue....

__ADS_1


__ADS_2