
Happy Reading!
Salim, Agus dan Tito ternganga atas jawaban Nata. Agak lain memang ia kali ini. Bisa bicara panjang kali lebar, sepanjang dan selebar sungai ular. Bukan selebar daun kelor ya. Tapi, sungai ular.
Sungai ular, adalah sungai panjang yang ada di Sumatera Utara. Tepatnya di perbatasan antara kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Serdang Bedagai.
Setiap sore, di sungai yang mengalir di sepanjang garis demarkasi antara Kabupaten Serdang Bedagai dan Deli Serdang itu, puluhan anak-anak, juga yang beranjak remaja dan dewasa, ramai-ramai menjadi saksi tenggelamnya matahari.
Dari tebing (pinggir) sungai ini, tepatnya dari satu titik di Desa Citaman Jernih, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai, orang dapat menyaksikan matahari terbit (sunrise) dan juga matahari terbenam (sunset).
Sama sekali tak ada gedung-gedung yang menghalangi mata untuk memandang.
Yang ada adalah hamparan pohon ubi kayu yang terpapar sinar dan membentang dengan merdeka, tumbuh subur bersama gelagah yang mirip tebu, pisang liar, petai cina, dan jagung. Juga jembatan rel kereta api yang melengkung di atasnya.
Tak ayal, sungai yang konon merupakan tempat pembantaian orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI) ini, sering dimanfaatkan untuk mengabadikan foto pra-pernikahan, berfoto-foto atau berselfie, hingga syuting film.
Salah satu film terkenal yang berlatarkan sungai ini tentu saja adalah The Act of Killing (Jagal), karya sutradara Joshua Oppenheimer.
Nah kan, jadi bahas pelajaran sejarah. Padahal hari ini itu di kelas XI Fisika satu ya pelajaran Kewarganegaraan.
...\=\=\=ooo0ooo\=\=\=...
"Mimpi apa aku semalam, woy," ucap Salim.
"Ada angin apa kamu hari ini, Ya?" tanya Agus, tak kalah herannya.
"Tumben nyerocos panjang lebar," timpal Tito.
Ya, ada dua hal yang membuat Nata bisa bicara panjang lebar. Pertama, ia lagi happy. Kedua, ia bermimpi bertemu dengan mamanya. Entah ada yang ketiga nantinya. Yang jelas, hanya dua hal itu yang bisa membuat Nata seperti sekarang ini. Bicara panjang lebar, itu pun hanya kepada ketiga teman dekatnya itu.
Dan, ini semua hanya berlaku kepada ketiga sahabatnya. Tidak untuk yang lain. Terutama perempuan. Di samping papa Tirta melarang dia untuk berpacaran, entah kenapa ia bisa menghindari makhluk racun dunia tersebut.
"Kamu lagi sakit?" tanya Tito kemudian. Ia menempelkan telapak tangannya di kening Nata. Dan Nata langsung menyingkirkan tangan itu.
"Apaan sih?" omelnya.
__ADS_1
"Kesambet kali kayak yang sering dibilang Agus." Salim menyahuti.
"Iya, ya. Bisa jadi," sahut Agus, setuju dengan ucapan Salim. "Coba, aku semedi dulu, mencari tau kenapa ini orang. Semoga aja nenek moyang aku kasih petunjuk," sambung Agus.
Agus bahkan berlagak hendak duduk bersila, gaya bersemedi betulan. Membuat teman-temannya geleng-geleng kepala.
"Eh, ****** mau ngapain?" tanya Tito pada Agus yang sudah duduk di bawah. Duduk di lantai, sementara yang lain duduk di kursi mereka masing-masing.
"Mau semedi lah," jawab Agus polos. Polos banget.
"Selamat pagi anak-anak!"
Seorang guru wanita masuk ke dalam kelas XI Fisika 1. Tepatnya, guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Hari ini hari Rabu. Di jam pertama adalah pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Jam yang paling membosankan bagi sebagian murid.
Entah kenapa jadwal mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan harus jatuh pada les pertama. Pasti disuruh menghapal dan menghapal oleh ibu yang satu ini.
Beliau adalah ibu Regina. Beliau sudah umur 51 tahun. Mengampu mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah tersebut. Pengalamannya tentu saja sudah melanglang buana. Namun, diusianya yang sudah menginjak kepala lima, mengharuskan ia untuk berdamai dengan teknologi yang semakin hari semakin berkembang.
Akan tergilas memang bila kita tidak mau tau tentang teknologi. Apalagi di jaman sekarang ini, segalanya menjadi mudah. Tetapi, kita akan semakin terlihat bodoh bila kita tak bisa mengikutinya.
Menginterupsi ketua kelas dan yang lainnya untuk memasang infokus pada tempatnya, sesuai kenyamanan mata memandang.
"Selamat pagi, bu," sahut anak-anak serentak. Seketika kelas menjadi hening.
Obrolan yang tadi masih menggantung pun terpaksa mereka tunda. Duduk di kursi masing-masing dengan posisi siaga, menerima pelajaran dari ibu Regina.
Seperti biasa, diawal pelajaran, ibu Regina akan memanggil nama muridnya satu persatu untuk mengisi absen. Model lama memang, tapi ini tetap ada dari jaman ke jaman. Karena kalau nggak diabsen, sang guru tak tau apakah ada murid yang tercecer, melipir ke kantin atau bolos.
Rasanya, seluruh bumi Nusantara masih memakainya. Mengabsen setiap murid dan memberi keterangan S apabila sakit, I apabila ijin dan A apabila tidak ada keterangan dari yang bersangkutan. Dulu, itu bisa lewat surat. Memberitahukan kepada bapak atau ibu guru kelas bahwa mereka tidak dapat hadir.
Akan tetapi tidak di jaman sekarang. Itulah tadi yang namanya perkembangan digital. Murid-murid bisa menghubungi guru lewat telepon biasa atau panggilan WhatsApp, bisa chating lewat WhatsApp atau kirim pesan biasa. Tak repot memang tangan untuk menulis, karena sudah digantikan oleh teknologi.
"Anak-anak, masih ingat pelajaran kita minggu lalu?" tanya bu Regina, mengawali proses belajar mengajar.
"Masih, bu." Lagi dan lagi mereka serentak menjawabnya.
__ADS_1
Mereka pun mengulas kembali, sekilas pelajaran minggu lalu. Dengan begitu, harapnya mereka ingat tentang pelajaran sebelumnya, karena masih berkaitan dengan pelajaran hari ini.
Di layar infokus tertulis 'Menapaki Jalan Terjal Penegakan Hak Asasi Manusia di Indonesia' diberi warna dan hiasan yang bisa menarik perhatian murid.
"Ada yang tau kepanjangan dari HAM?" tanya bu Regina. Menelaah, sejauh mana pengetahuan murid-muridnya tersebut.
Tidak ada yang menjawab. Mereka semua diam. Diam karena benar-benar tak tau atau tak mau menjawab. Entahlah, hanya mereka yang tau semuanya.
"Salim, apa kepanjangan dari HAM?"
Ibu Regina pun menunjuk Salim.
"Hak Anak Memiliki, bu," jawab Salim asal.
Sontak, jawaban Salim membuat kelas menjadi ramai.
"Memiliki apa?"
"Entah. Asal aja kau menjawab."
"Dari pada kau, nggak menjawab. Pilih mana coba," jawab Salim. Cukup bisa membungkam teman-temannya yang meledek dia.
"Dari mana kamu tau itu kepanjangan HAM?" tanya ibu Regina. Beliau adalah tipe guru yang setia duduk di kursinya. Umurnya yang sudah senj dan bobot tubuh yang lebih juga, yang banyak ombak-ombaknya, lebih memilih duduk diam di kursi memerintah murid-muridnya.
Salim diam. Ia menyesal telah memberi jawaban nyeleneh. Seharusnya ia menjawab yang sebenarnya. Tetapi apa mau dikata, sudah terlanjur terucap.
"Berdiri kamu!" titah ibu Regina.
"Saya, bu?"
"Ya kamu. Ada murid lain yang bernama Salim selain kamu?"
"Nggak ada, bu," jawab seisi kelas.
To be continue....
__ADS_1