
Happy Reading!
Seminggu sudah berlalu. Waktu yang ditentukan pun telah tiba. Olimpiade yang sudah lama digadang-gadang akhirnya menemukan tanggalnya. Baik dari pelosok atau pun dari perkotaan, turut menyambut meriah kegiatan tersebut.
Dari sekolah favorit, hingga sekolah yang ada di pedesaan. Yang memang mempunyai kualifikasi dalam kegiatan olimpiade tersebut.
"Bagaimana? Sudah siap?" tanya pak Andrew kepada empat orang muridnya.
"Siap, pak!"
Mereka berempat menjawab begitu bersemangat. Mereka sudah memakai seragam kesayangan mereka, ciri khas dari sekolah yang mereka bawa. Jas warna hijau berbalut indah dan kokoh di tubuh mereka.
Yang perempuan terlihat anggun dan elegan sementara yang laki-laki terlihat berwibawa dan elegan.
Salim mencium logo jasnya tersebut, yang berada di sebelah kiri dadanya. Sementara Sandra, bersama dengan Niki, meletakkan tangannya di dada sebelah kiri mereka. Jangan tanya Nata, karena dia hanya diam saja. Hanya dia dan Allah lah yang tau apa yang ada di benaknya sekarang.
"Bagus. Jangan gugup. Harus kerjasama dan saling mendukung," ucap pak Andrew menasihati.
Ya, jika nanti sekolah Niki memenangkan olimpiade tingkat provinsi ini, maka mereka akan lanjut ke tahap berikutnya. Yaitu olimpiade tingkat nasional. Dimana mereka harus bersaing dengan sekolah-sekolah yang ada di seluruh Indonesia. Tentunya sesuai dengan kualifikasi masing-masing.
"Nanti, kalau kalian bisa memenangkan olimpiade kali ini, maka kalian akan lanjut ke tahan nasional. Tetapi tidak empat orang dalam satu tim. Tapi dua orang."
Bapak Andrew memberi penjelasan kepada keempat muridnya itu.
"Jangan khawatir. Nanti kita akan bicarakan itu. Sekarang fokuslah pada apa yang ada di depan mata," imbuh pak Andrew lagi.
"Semangat Thomas Alva Edison?"
"Go go go semangat!"
Mereka berempat menyambut tangan pak Andrew, menyatukan telapak tangan mereka, lalu mengangkat tinggi-tinggi. Lalu menyorakkan nama sekolah tersebut. Lalu menyanyikan iyel-iyel sekolah tersebut.
Terdengar bunyi MC, meminta kepada seluruh tim untuk memasuki tempat acara diadakannya perlombaan tersebut.
__ADS_1
"Ayo, kita sudah dipanggil. Bapak akan ada di barisan penonton. Kalian tetap fokus dan saling kerjasama. Paham?"
"Paham, pak," sahut keempatnya serentak.
Keempat murid itu pun berjalan memasuki ruangan. Ruangan itu begitu ramai. Terlihat siswa dan siswi berpakaian khas sekolahnya masing-masing. Dengan bangga, memperlihatkan senyum dan seragam sekolah masing-masing.
Salim, Nata, Niki dan Sandra, mengambil tempat. Begitu pun dengan pak Andrew. Beliau berada di deretan guru-guru pendamping serta penonton.
Setelah para peserta sudah duduk di bangku yang telah ditentukan, MC pun mengucapkan kata-kata pembukaan. Lalu dilanjutkan dengan menyanyikan lagi Indonesia sebagai lagu kebangsaan Indonesia untuk membuka acara tersebut.
Para peserta, juri dan undangan dipersilakan oleh MC untuk berdiri di tempat. Mereka menyanyikan lagu Indonesia dengan serentak dan penuh semangat.
"Hadirin dipersilakan duduk kembali!"
Begitu pembawa acara menginstruksikan dari depan. Suara dengan menggunakan pengeras suara itu, membuat seluruh yang hadir di sana mampu mendengar dengan jelas.
Usai menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia raya, MC membacakan peraturan pada olimpiade kali ini. Tak lupa pula ia menjelaskan mengenai alat yang akan mereka gunakan selama masa kegiatan berlangsung. Lalu, meminta mereka untuk menentukan siapa juru bicara.
"Nata saja yang juru bicara," ucap Salim memberi saran.
"Jangan. Niki saja," sahut Sandra.
"Nata saja. Suara laki-laki kan kuat. Sementara suara perempuan lembut," ucap Salim kekeh.
"Siapa bilang suara Niki lembek. Eh, asbun jangan asal ngomong kamu. Walau pun kita perempuan, tapi kita juga kok bersuara kuat. Nggak seperti yang kamu tuduhkan itu. Kita tidak lembek," sela Sandra. Ia tidak terima dengan alasan Salim barusan.
Mereka berdua berdebat terus. Tidak ada yang mau mengalah.
"Sudah sudah. Kalian kok malah berdebat?" Niki melerai keduanya.
"Sekarang kita tanya saja pada orangnya, bersedia nggak dia sebagai jubir?" Niki memberi usul.
"Kamu bersedia kan, Nat?" tanya Salim langsung pada intinya.
__ADS_1
"Niki saja. Aku lagi radang tenggorokan." Nata memberi alasan.
"Tuh kan. Nata saja nggak keberadaan. Dia malah mendukung Niki yang jadi jubir," celetuk Salim.
Setelah perdebatan yang alot, akhirnya mereka pun menemukan siapa yang akan bertugas sebagai juru bicara. Dan yang lainnya mengerjakan soal di kertas coretan masing-masing sebagaimana diperlukan nanti.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya pembawa acara dengan lantangnya.
"Siap!" sahut para peserta semangat.
Setelah semuanya siap, pemandu acara pun mengambil tempat. Berdiri dipanggang untuk membacakan soal. Meski soal tersebut sudah tertera di sana, di infokus yang telah disediakan.
Setiap soal, diberikan waktu dua puluh detik untuk menjawab. Siapa yang menekan bel terlebih dahulu, maka dia yang berhak untuk menjawab terlebih dahulu. Apabila jawaban salah maka diberi kesempatan kepada peserta lain untuk memberikan jawabannya dengan memencet bel pula.
Skor akan dihitung setiap jawaban yang benar. Kemudian nanti akan dikalkulasikan secara keseluruhan. Tim yang paling tinggi skor, dia berhak masuk ke babak semifinal. Begitu selanjutnya sampai ke final. Hingga sampai pada juara satu, dua dan tiga.
Soal yang pertama.
Sebuah roket dengan berat w diluncurkan secara vertikal dari permukaan bumi. Jika R merupakan jari-jari bumi, maka berat roket saat berada tepat di ketinggian R adalah … N.
Bel pun dibunyikan oleh sekolah yang berasal dari SMA soposurung Balige.
"0,23 W."
"Salah," sahut pemandu acara.
Segera tim Nata yahh membunyikan bel. Dan segera dipersilakan oleh pemandu acara. Sebenarnya dari tadi mereka sudah menekan bel. Hanya saja, mereka kalah cepat dengan SMA Soposurung Balige.
"Ya, tim TAE," ucap pemandu acara tersebut. ia sengaja menyingkat nama sekolah Nata dan kawan-kawan agar tidak memakan waktu dan hemat suara.
"0,25 W," jawab Nata dengan lantang.
To be continue.....
__ADS_1