
Kini, pak Andrew, Nata, Sandra dan Salim sedang mematung di depan kamar rawat Niki. Mereka sedang menunggu dokter memeriksa Niki, demi kenyamanan mereka nantinya saat kembali. Mereka juga sedang menunggu mama Lidia. Ya, mama Lidia sedang di jalan sekarang.
Pak Andrew sudah mengatakan bahwa mereka akan membawa Niki kembali. Tapi, mama Lidia ngotot. Ia tidak tenang. Ia ingin segera bertemu dengan putrinya itu. Sedari ia mendengar bahwa Niki pingsan saat di olimpiade, mama Lidia sudah panik.
Di tengah kebungkaman mereka, terdengar suara pintu yang dibuka. Seorang pria memakai baju warna putih diikuti oleh seorang perempuan dengan caping di kepalanya keluar dari kamar itu.
"Dokter!" seru pak Andrew. Ia segera bergegas menghampiri sang dokter. Diekori oleh Nata, Sandra dan Salim.
Sebagai sahabat, Sandra tentu khawatir dengan Niki sekarang. Terlebih ia tidak tau bagaimana kondisi Niki yang sebenarnya. Penjelasan dari pak Andrew mengatakan bahwa Niki hanya kelelahan. Tapi, Sandra tidak percaya akan hal itu. Entah kenapa ia merasa ada yang tidak beres dengan Niki.
Tapi jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia berharap Niki baik-baik saja. Sudah ia anggap Niki sebagai saudara perempuannya. Dimana hanya Niki lah yang mau berteman dekat dengannya. Yang lainnya mementingkan status, harta dan kekayaan.
Pun sama dengan Niki, Sandra tak ingin memiliki teman yang banyak. Cukup satu, tapi berkualitas. Dimana ia bisa jadikan tempat berbagi baik dalam suka maupun duka.
"Apakah Niki bisa untuk perjalanan jauh dengan kondisinya yang seperti itu?" tanya pak Andrew kemudian.
"Berapa jam perjalanan, pak?" tanya dokter tersebut.
"Kira-kira tiga jam, dok."
"Saya rasa bisa. Saya sudah memeriksanya. Keadaannya sudah membaik untuk perjalanan durasi selama itu. Silakan jika bapak ingin pulang!" Dokter tersebut menjelaskan dengan ramah. Tak lupa, senyumnya ia ukir.
Apakah semua dokter seperti itu? Jika iya, anak-anak pun tidak akan pernah merasa takut jika bertemu dengan mereka yang memakai jubah putih itu.
"Firasat aku benar. Pasti ada apa-apa dengan Niki. Pak Andrew pasti senagaja menyembunyikannya. Tapi, kenapa ya?" batin Sandra. Ia mendengar dengan sangat jelas obrolan gurunya itu dan dokter yang menangani Niki.
"Tekanan darahnya juga normal, pak. Niki juga tidak menolak untuk makan. Saya rasa, ia sudah jauh lebih kuat sekarang," tutur perawat menambahi. Untuk meyakinkan pak Andrew agar segera membawa Niki pulang dan melakukan perawatan di tempat yang lebih bagus dengan pengawasan orang tuanya.
"Heh," ucap Salim berbisik. Ia menyenggol lengan Nata yang dari tadi hanya bisu.
Kesal dengan senggolan siku yang tak seringan kapas itu, Nata menatap tajam Salim. Bola matanya nyaris keluar.
__ADS_1
"Busyet, besar amat itu biji mata. Si amat aja biji matanya sekecil biji semangka. Nah kau, Segede biji alpukat," celetuk Salim asal. Tak takut ia dengan ekspresi Nata yang seperti ingin menelan manusia saja.
"Emangnya Niki kenapa sih, Nat?" tanya Salim berbisik pula. Meneruskan pertanyaannya yang belum memiliki jawaban.
"Kok sampai gitu kali dokternya ngomong? Kenapa, Nat?"
"Kau pasti tau kan ada sesuatu dengan Niki?"
Salim bertanya panjang lebar kepada Nata. Satu belum dijawab sudah muncul lagi pertanyaan lain. Sampai beranak. Tidak sampai bercucu.
"Aku nggak tau," ucap Nata menjawab. Ia menekankan setiap kata yang ia ucapkan. Masih kesal ia dengan keusilan temannya yang satu itu.
Ya, ketiganya bukan anak SD yang masih polos yang tidak mengerti apa-apa. Yang bisa dikibulin hanya dengan alasan-alasan tertentu. Walau masuk akal sih, tapi nalar mereka sudah menerawang kemana-mana. Tak semudah itu mereka akan percaya bahwa Niki baik-baik saja.
"Oh iya benar. Batu nyadar aku. Kau kan nggak pernah peduli dengan Niki. Jadi hal yang mustahil kalau kau tau. Bodo kali aku nanya samamu," ucap Salim lagi. Ia menepuk jidatnya sendiri. Menyalahkan dirinya atas semua pertanyaan yang telah ia lontarkan kepada Nata.
"Sialan kau!" ujar Nata. Semakin memuncak lah kekesalannya. Bisa-bisanya temannya yang satu itu mengatai dirinya seperti itu. Bagai manusia besi yang tak punya hati dan perasaan disaat salah satu temannya sedang sakit.
"Apa maumu?" tanya Nata geram.
"Kau kira aku manusia besi? Kau menuduh ku seolah aku manusia sadis."
"Memang benar," celetuk Salim asal.
"Coba kau ingat. Bagaimana kau dulu memperlakukan Niki. Bahkan kau pernah mempermalukan ia di depan banyak orang. Masih ingat? Atau sudah pikun?"
"Apa salahnya bicara baik-baik, nggak usah ngegas. Dan nggak usah pula menghina," ucap Salim lagi. Mengingat kan Nata akan sikapnya kepada Niki selama ini.
"Sekarang Niki sakit. Wajar kau nggak peduli. Wajar kau nggak tau dia sakit apa. Seandainya kau tau, itu berarti aura manusia besi mu sudah mulai terkikis."
Tak ada hentinya Salim berkata. Ia ingin membuka mata Nata. Menyadarkan Nata bahwa apa yang dilakukannya selama ini tidak benar. Salim berharap, kelak Nata akan menyesali perbuatannya terhadap Niki.
__ADS_1
"Kok kalian berdua malah berdebat?" tanya Sandra. Sedari tadi ia mengikuti perdebatan mereka. Dari yang semula berbisik hingga suara yang kuat. Pak Andrew pun mendengar perdebatan mereka.
Awalnya Sandra ingin membiarkan saja. Karena jujur, ia pun ingin Nata menyesali perbuatannya terhadap Niki selama ini. Jadi ia biarkan saja Salim mengatai Mata seperti yang ia harapkan. Tapi ternyata perdebatan itu malah semakin panjang.
"Ingat! Ini di rumah sakit. Bukan di lapangan. Kalau mau debat jangan di sini! Di luar. Kalian berdua nggak kasihan sama Niki apa?" ujar Sandra lagi.
Kedua temannya itu terdiam akhirnya. Salim dengan ekspresi santai, sementara Nata sudah terbakar api amarah. Namun ia harus menahannya dengan geram dan mengepalkan tangannya.
Pak Andrew diam saja. Ia ingin membiarkan anak didiknya itu mandiri dalam hal menyelesaikan masalah sepele seperti ini. Agar mereka semakin dewasa ke depannya. Semakin peduli terhadap temannya.
"Kalau begitu, saya permisi, pak." Sang dokter berpamitan kepada pak Andrew. Masih ia sematkan senyum ramahnya itu kepada mereka.
Sebagai seorang dokter, ia tau bahwa mereka yang seusia Nata, Salim dan Sandra pasti suka berdebat. Usia yang masih muda, emosi yang masih labil. Makanya dokter itu memilih diam saja. Ingin menyaksikan bagaimana selanjutnya. Bahwa ternyata mereka tidak sampai adu fisik.
"Niki!" seru seroang wanita sambil berlari menghampiri rombongan pak Andrew.
"Tante Lidia!" ujar Sandra kemudian.
"Sandra, Niki mana? Niki kenapa?" tanya mama Lidia dengan napas masih ngos-ngosan.
"Tante, tante tenang dulu ya. Tante tarik napas dulu. Kenapa tante harus lari-lari? Niki baik-baik saja kok, tante. Dia lagi istirahat di dalam," ucap Sandra ramah dan lembut.
"Ibu ini....." Dokter yang hampir saja pergi itu bertanya kepada pak Andrew.
"Ibu ini mamanya Niki, dok," jawab pak Andrew. Diangguki oleh Salim, Sandra dan Nata.
"Saya dokter yang menangani Niki," ucap dokter tersebut memberi tahu. Ia menjabat tangan mama Lidia.
"Anak saya bagaimana, dokter?" tanya mama Lidia to the poin. Tujuannya bergegas ke sini hanya satu, yaitu Niki. Putri tunggalnya.
"Sebaiknya kita bahas di ruangan saya, Bu. Mari!" ajak sang dokter. Mama Lidia segera mengikuti langkah sang dokter. Sandra yang ingin ikut, segera dihentikan pak Andrew.
__ADS_1
"Sandra, temani Niki! Dan persiapkan semuanya karena kita akan kembali!" titah pak Andrew dan tak mau dibantah.
Sandra langsung menghentikan langkahnya. "Baik, pak," jawabnya tertunduk.