
"Ma, jangan ngomel-ngomel dong. Entar skincare mama yang membahana itu nggak berfungsi. Kalau keriput gimana?" ucap Niki, menggoda sang mama.
Mereka sedang sedang berada di mobil, kembali menuju rumah masing-masing. Sedari keluar dari ruangan dokter hingga sekarang, wajah mama Lidia merengut saja. Mengoceh penuh kekesalannya.
"Mama kesal aja itu liat si dokter. Masa dia bilang kamu sakit. Ya nggak terimalah mama. Mama kan tau apa yang dimakan anak mama, bagaimana tidurnya, bagaimana kebersihannya. Enak saja dia bilang kamu sakit," sahut mama Lidia masih mengomel.
"Sudahlah, ma. Nggak ada gunanya mama mengomel terus. Entar cepat tua. Nggak jadi deh kayak kakak adik kita. Kayak yang dibilang orang-orang lho. Kalau mama cepat tua, berarti aku jauh lebih cantik dong," goda Niki lagi. Tak habis-habisnya ia menggoda, mengejek mamanya itu.
Bukannya Niki tak tau tentang apa yang dikatakan oleh dokter. Ia tau dengan jelas. Karena saat dokter Anrico berbicara dengan pak Andrew kala itu, ia menguping.
Niki lebih memilih menggoda sang mama agar mama Lidia tidak terlalu memikirkan penyakit sesuai yang dijelaskan dokter Anrico tadi. Tapi sepertinya mama Lidia tidak semudah itu bisa ditaklukkan.
__ADS_1
Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Niki takut itu kenyataan. Penyakit itu adalah penyakit yang sangat menakutkan baginya. Seperti di film-film yang pernah ia tonton. Dan endingnya, tokoh utama yang mengalami hal itu meninggal dunia. Meninggalkan orang-orang yang mencintainya dan yang ia cintai.
"Sayang, seandainya kamu tau apa kata dokter tadi, mungkin kamu akan merasa sedih," batin mama Lidia. Ia menatap sang putri dengan seksama. Hampir saja air matanya menetes. Tetapi segera ia menatap ke atas, agar air mata itu tertahan. Jangan sampai menetas walau setitik pun.
Segera mama Lidia tersenyum. Mengikuti ujaran sang anak. "Iya deh mama senyum. Yang penting kamu senang," celetuk mama Lidia. Senyum terpaksa ia tampilkan di depan Niki.
Ibu adalah seorang wanita yang begitu hebat dalam berbohong. Tetapi berbohong di sini adalah demi kebaikan, kebaikan terhadap anaknya, suaminya atau pun keluarganya. Sama halnya dengan mama Lidia sekarang. Sesungguhnya ia merisaukan dugaan dokter Anrico tadi. Tapi ia berpura-pura tersenyum demi menyembunyikan kegundahannya.
Jauh di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, mama Lidia berharap bahwa apa yang disimpulkan dokter Anrico tadi salah. Ia akan menuntut dokter itu apabila terjadi kekeliruan. Ia akan memeriksa ulang.
"Nah, gitu. Cantiknya kan nggak akan luntur kalau tersenyum. Malah tambah bersinar mama. Tambah growing," ucap Niki menghibur sang mama. Ia juga menghibur dirinya sendiri. Berharap dugaan sang dokter salah.
__ADS_1
"Oh ya, pak gimana dengan olimpiade?" tanya Niki. Ia teringat akan tujuan mereka datang ke kota ini.
"Niki, untuk olimpiade tidak perlu kamu pikirkan. Sekarang fokus dulu pada kesehatan kamu," jawab pak Andrew. Tak mau ia kalau fokus Niki harus terganggu.
"Lebih baik kamu banyak istirahat saja. Untuk hasilnya, kita tinggal menunggu pengumuman. Bapak sudah tidak mengharapkan lagi kita akan membawa kemenangan. Bagaimana pun, kesehatanmu jauh lebih penting," terang pak Andrew panjang lebar.
"Jadi kita...."
"Nanti kita akan bahas ini di sekolah," sela pak Andrew. Ia menghentikan ucapan Salim. Pak Andrew tak mau Niki semakin terbebani.
"Baik, pak." Salim menjawab akhirnya. Ia menelan kembali rasa penasarannya. Pun sama, Sandra hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Panitia akan menghubungi pihak sekolah nantinya, jadi kalian bersabar saja dan saling mendukung," pungkas pak Andrew.