
Umi Risma terus mengusapi punggung Riska yang masih saja bergetar menahan sesak tangisannya.
Sejak semalam calon ibu itu tidak bisa memejamkan kedua bola mata nya. Sejak sejam yang lalu sang suami tidak memberikan kabar tentang sang Mama yang nekat terjun dari lantai 5 Rumah Sakit yang menjadi rujukan para tahanan negara.
Berkali kali Riska menghubungi nomor suami nya namun tak di angkat juga. Padahal jarak dari rumah ke Rumah sakit
Sakit hanya sekitar 30 menit, dan seharusnya sang suami bisa menerima panggilan telepon dari nya.
" Sabar sayang ". Ucap Umi Risma yang di angguki oleh Riska dengan pelan.
Sementara itu, Ardi yang di temani oleh Bagas sudah tiba di Rumah Sakit, untuk melihat kondisi Amanda yang di nyatakan sempat kritis.
" Bu Amanda mengeluh sakit di lambung nya Pak, karena itulah Kami membawa nya ke rumah sakit, dan ternyata setelah di periksa dengan seksama lambung Bu Amanda tidak ada masalah. Namun, pada saat kami akan kembali ke RuTan Bu Amanda mengamuk dan kemudian berlari ke lantai 5 Rumah Sakit dan langsung terjun ". Itu lah laporan yang di sampaikan kepala sipir Rutan kepada Ardi saat pria itu tiba di Rumah Sakit pada tengah malam.
Pihak Rutan mengabarkan kejadian tersebut kepada Ardi beberapa saat setelah Amanda terjun bebas dari lantai 5, hingga membuat pria itu harus terjaga dari mimpi nya.
" Maafkan atas kelalaian Kami Pak ". Ardi hanya bisa mengangguk pasrah, saat melihat Amanda yang sudah terbujur kaku di atas bangkar dengan seluruh tubuh nya tertutup kain putih.
__ADS_1
" Mungkin ini jalan yang sudah Amanda pilih Ar ". Ardi mengangguk saat Bagas berucap dan menepuk punggung kanan nya.
" Udah kabari Riska? ". Ardi menggeleng, Pria yang 3 bulan lagi itu akan menjadi seorang ayah itu tengah kebingungan untuk memberitahu sang istri mengenai kondisi Mama nya.
" Kabari, biar bagaimana pun juga Riska harus tahu, kalau Amanda sudah berpulang ". Lagi lagi Ardi mengangguk menanggapi ucapan Bagas.
" Hallo, Assalamu'alaikum Sayang ". Sapa Ardi yang akhir nya mau menerima panggilan Riska setelah lebih dari 30 kali memanggil.
Ardi dan Bagas pun keluar dari ruang mayat rumah sakit, untuk mengabari istri mereka masing masing.
🌷
🌷
🌷
" Nggak baik buat ibu hamil ikut ke kuburan ". Kali ini Mama Rani yang berfatwa melarang Riska dan Reina yang di angguki oleh kedua wanita hamil yang hanya berbeda 2 bulan itu.
__ADS_1
" Kasian Rafa, Bisma juga Kandi kalau kalian ikut ke penguburan ". Kali ini Arsy dan Lia yang mengangguk mendengar titah Mama Rani.
Kedua wanita paruh baya itu memang sudah mereka anggap sebagai ibu mereka sendiri. Tak jarang para calon nenek itu memberikan nasehat juga omelan kepada ke empat sahabat itu.
" Lo harus ikhlas Ris, ini adalah jalan yang Tante Amanda pilih ". Riska mengangguk menanggapi ucapan Arsy.
" Maafin Mama Gue ya Chika, Dia udah bikin Lo jadi anak yatim piatu juga kehilangan semua harta peninggalan Om Rahmat ". Arsy menggangguk.
" Gue udah maafin juga ikhlasin semua nya kok. Jadi Lo jangan punya pikiran macem macem ya. Lo tetep saudara Gue satu satu nya ". Arsy memeluk tubuh Riska dengan erat dan saling menagis satu sama lain.
" Ehm... ". Suara sejam Umi dan yang lain nya, membuat Arsy dan Riska melepaskan pelukan dan menghentikan tangis mereka.
" Ini kenapa si Kandi bisa plek keplek Si Juwono, terus Si Bisma malah mirip Babe Kamu ya Lia? ". Umi Risma mencairkan suasana yang tampak kaku tadi.
" Itu nggak seberapa dengan dibandingkan nama mereka yang udah kaya lakon para wayang Umi ". Ucap Riska menimpali ucapan ibu mertua nya.
" Bisma Putra Juwono dan Srikandi Putri Juwono. Nggak usah di kasih tambahan Putra Putri Juwono juga orang udah pada tau, kalau si kembar ini made in nya Kang Juwon ". Celoteh Arsy membuat Riska bisa mengurai senyum dan tawa tipis.
__ADS_1
" Sirik aja Lo, kaya laki lo kagak gitu aja. Nggak sadar apa kalau nama anak Lo tuh Rafasya Ananda Bagaskara. Lebih nggak kreatif, Bapak nya ngasih nama emak nya juga ". Tawa pun pecah saat Lia mengomentari nama lengkap putra pertama Bagas dan Arsy.
Kamar pun menjadi ramah dengan beragam celotehan yang terlontar dari mulut keempat sahabat yang saling mengejek satu sama lain. Sementara kedua orang wanita paruh baya yang berada di dalam kamar itu hanya menyunggingkan senyuman menanggapi aksi para ibu dan calon ibu muda itu.