Oh My Dosen

Oh My Dosen
Bonchap 3


__ADS_3

" Kenapa masalah Alea nggak di rundingin dulu Yah? ". Ayah Bagas melipat kedua lengan di dada nya, saat mendengar protes anak sulung nya selepas selesai acara kajian.


" Bukankah Ayah sudah telepon Kamu, tapi Kamu nggak angkat? ". Pertanyaan Ayah Bagas di balas helaan nafas Rafa.


Ya Rafa menyadari pada sejak pagi HP nya memang sengaja di mode silent, karena Amara sejak semalam selalu menelpon dan mengajak nya bertemu, untuk membahas kelanjutan hubungan mereka.


Padahal dia hari yang lalu Rafa sudah dengan tegas mengakhiri hubungan mereka. Karena memang sejak awal Amara lah yang selalu mengaku sebagai kekasih Rafa.


Walau pun tak pernah mengiyakan bahkan menerima perasaan Amara, namun karena Amara yang selalu mengejar Rafa pun akhir nya membuat Rafa terpaksa mengiyakan penyataan Amara.


Namun semakin lama sikap Amara semakin menyebalkan hingga membuat Rafa pun menjadi jengah dan pada akhir nya memutuskan untuk mengakhiri sandiwara nya.


Namun lagi lagi, Amara menolak keputusan Rafa yang memutuskan nya tiba tiba. Bahkan gadis itu menyebarkan fitnah kalau Dia dan Rafa pernah menginap di hotel dan melakukan One Night Stand.


Hal itu membuat Rafa marah dan terpaksa menemui gadis menyebalkan itu, dan pada akhir nya membuat Rafa harus ketinggalan perundingan tentang Alea.


" Tapi kan nggak harus mengangkat Alea sebagian anak juga Yah ". Protes Rafa yang di balas Ayah Bagas dengan menatap malas anak sulung nya.


" Kasih Bunda alasan, kenapa Kamu menolak Zahra sebagai bagian dari keluarga kita? ". Rafa menghela nafas pelan, mana kala mendapati Bunda nya masuk kedalam ruang kerja Ayah nya dan ikut serta dalam percakapan nya dengan sang Ayah.


" Maksud Abang, nggak harus secepat itu untuk menjadikan Alea sebagai bagian dari keluarga kita Bunda ". Bunda Arsy memutar malas kedua bola mata, dan memilih untuk duduk di samping Ayah Bagas.


" Keputusan Ayah juga Bunda untuk menjadikan Zahra bagian dari keluarga Kita sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat ". Lagi lagi Rafa menghela nafas pelan.


Pria muda itu menatap penuh harap kepada sang Bunda, namun Bunda Arsy justru terlihat santai menanggapi tatapan nya.

__ADS_1


" Tapi Bunda... ".


" Kalau begitu, Bunda ulangi bertanya Bunda tadi ". Bunda Arsy memotong pernyataan Rafa dan kini menatap tajam kepada anak sulung nya tersebut.


" Berikan Ayah dan Bunda alasan kenapa Abang menolak Zahra menjadi bagian dari keluarga kita? ". Rafa terdiam mendengar pertanyaan Bunda Arsy.


Pria muda itu menutup rapat rapat mulut nya, walau pun dalam hati nya Dia mengucapkan alasan menolak Alea menjadi anak angkat kedua orang tua nya.


Yang otomatis membuat Alea menjadi adik nya. Dan hal itu membuat Rafa harus mengubur perasaan nya dalam dalam. Karena bisa di pastikan kedua orang tua nya kelak tidak akan merestui hubungan nya dengan Alea.


Itu pun dengan catatan Ales mempunyai perasaan yang sama terhadap nya.


" Ck. Ditanya malah diam. Pantas aja Si Amara itu udah kaya parasit. Orang Kamu sebagi lelaki cuma bisa nya diam doang. Ngomong doang dalam hati ". Ucap Ayah Bagas kesal melihat Rafa hanya terdiam tanpa memberikan alasan yang di minta kedua orang tua nya.


Rafa menghela nafa dan menghembuskan nya dengan cepat, lalu menatap penuh harap kepada kedua orang tua nya.


Prang


Ayah Bagas, Bunda Arsy dan Rafa mengalihkan pandangan mereka kearah pintu ruang kerja Ayah Bagas yang terbuka setelah terdengar suara benda pecah.


Tampak Alea menundukkan tubuh nya untuk mengambil pecahan kaca dari teko juga gelas yang tadi Alea bawa.


Memang sebelum Bunda Arsy masuk kedalam ruang kerja Ayah Bagas, Bunda meminta Alea untuk membawakan seteko teh hangat juga empat buat cangkir ke ruang kerja Bagas.


Namu teko juga cangkir itu terlepas dari kedua telapak tangan Alea, karena gadis itu terkejut dengan penolakan Rafa yang tidak setuju Alea menjadi anak angkat keluarga Bagaskara.

__ADS_1


" Zahra, jangan di... ".


" Nggak usah di pungut pakai tangan ". Protes Rafa yang memotong ucapan Bunda Arsy.


Pria itu langsung menepis tangan Alea yang sedang memunguti pecahan beling, dan kemudian mensejajarkan posisi nya di hadapan Alea guna menggantikan posisi Alea memunguti pecahan beling.


Alea mengusap lembut kedua pipi nya yang mulai meneteskan air mata.


" Maaf. Saya tidak sengaja... ". Gumam Alea yang masih bisa di dengar oleh Ayah Bagas dan Bunda Arsy.


" Sudah di bilang, Kamu jangan punguti ". Bentak Rafa kepada Alea, karena gadis itu kembali memunguti pecah beling.


Alea tersentak mendengar bentakan Rafa. Hal yang sama pun terjadi kepada Ayah Bagas dan Bunda Arsy yang terkejut mendengar suara bentakan Rafa.


" Rafasya Ananda Bagaskara ". Rafa menundukkan kepala nya dalam dalam mana kala mendengar suara kedua orang tua nya memanggil nama lengkap nya dengan nada tinggi.


" Maaf ". Ucap Rafa pelan.


" Zahra, ambil sapu dan sekop di belakang pintu ". Titah Bunda Arsy yang langsung di patuhi Alea.


Gadis itu bergegas mengambil sapu dan sekop yang berada di dalam ruang kerja Ayah Bagas, dan kemudian mulai membersihkan pecahan beling tang tersisa.


" Kak Rafa bisa bangun dulu, Ara mau bersihkan pecahan kaca nya ". Ucap Alea dengan nada sedikit terisak.


Rafa pun berdiri dari posisi nya, dan kemudian merampas sapu yang sedang di pegang oleh Alea dan kemudian mulia membersihkan pecahan beling yang tersisa hingga bersih.

__ADS_1


" Ck, nggak Ayah nggak Anak sama aja. Kalau suka tuh bilang bukan di pendam ". Gumam Arsy kesal melihat ulah putra semata wayang nya yang tampak malu malu menatap Alea yang masih menundukkan kepala nya karena sedang berhadapan dengan Rafa


" Eits, Itu mah Bunda. Kalau Ayah mah kan selalu To The Point. Langsung lamar malah ". Bela Ayah Bagas yang di hadiahi Bunda Arsy kerucutan bibir.


__ADS_2