Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
1


__ADS_3

Hidup berlimpah uang membuat hidup seorang Levin Aldric berbuat semaunya. Bisnis kotornya tak bisa diragukan. Jika kamu adalah musuhnya maka dalam sekali jentikan jari maka dia akan membuat kamu merenggan nyawa.


Levin tak pernah membuat siapun melukai harga dirinya. Selama hidup pada gelapnya jalan yang ia tempuh, Levin baru pertama kali berbaik hati kepada pria yang menyelamatkan nyawanya.


Pria itu tak jauh beda dengannya yang mencintai kebebasa, dia adalah Jung Aegie Ryung. Sejak saat itu keduanya bersahabat.


Hingga Levin merasa dapat keberuntungan melimpah, dia diangkat menjadi anak Jung Jungkook dan Aeri. Bahkan keluarga mereka menerima kehadirannya dengan tangan terbuka.


Levin membangun rumah di samping rumah Ryung. Tapi pria itu tetap tinggal di rumah Aeri.


"Levin!" tegur Aeri saat Levin malah duduk santai di dekat kolam dengan telanjang dada.


"Ya, Mom?" sahutnya. Dia menatap Aeri lewat sudut matanya.


"Kapan kamu menikah?" Pertanyaan yang sama lagi. Bahkan sepekan ini, dia bisa mendengarnya lima kali dalam sehari ibunya menanyakan pertanyaan itu berulang-ulang.


"Mom, aku akan menikah jika aku ingin."


"Kapan kamu ingin?Apa kamu menunggu Mommy mati dulu?"


"Mommy!" Levin menatap ibunya dengan raut tidak suka. Dia sangat menyanyangi Aeri.


"Aku akan menikah." Levin merasa kepalanya akan pecah.


"Ucapan kamu tidak bisa dipercaya. Dulu, kamu Mommy minta ke rumah  Yuna malah kabur." Levin meringgis dalam hati.


"Aku janji, Mom. Aku akan datang tapi dua hari ini aku sibuk dulu." Aeri memicingkan mata  dan duduk di hadapan Levin.


"Kamu gak pernah jalanin bisnis kamu lagi kan?" tanya Aeri.


"Mommy aku kan kerja sama Ryug. Lagipula aku kerja apa selain itu?" Bagus Levin, dia mulai berbohong demi kebaikan bersama heheh.


Levin memang tidak menjalankan bisnisnya tetapi dia memberi orang kepercayaannya. Sesekali dia akan meninjau langsung.


"Mommy, aku harus ke kantor dulu." Levin beranjak dari sana sebelum Aeri memberi rentetan pertanyaan yang banyak.


Levin bernapas lega setiba di kamarnya. Dia memakai pakaian kantornya dan bersiap-siap menunu kantornya bersama Ryung.


***


"Bahkan kau lebih murahan, Zeza."


Gadis yang dipanggil Zeza itu bukan matah justru tertawa menyeringai. Wajahnya sangat angkuh. Tangannya yang mulus tak semulus saat dia mengcengkram dagu gadis yang memakinya.


"Perlu belajar yang sopan untuk memanggilku." Gadis itu menatap tajam kepadanya.


"Ak  ... aku bahkan tak sudi sopan kepadamu." Gadis itu semakin menekan cengkramannya.  Hingga ia melepas kasar.


"Beruntung kamu putri dari Oppaku. Jika tidak  ... aku pasti sudah membuat perhitungan padamu."


Benar saja tak pernah ada kedamaian antara Zeza dan Amel. Mereka berdua sejak dulu bermusuhan. Entah apa alasannya, semua masih jadi rahasia keduanya.


Zeza melangkah dengan anggung meninggalkan Amel yang duduk di sofa menatapnya jengkel.


Zeza sangat modis dan menjaga penampilannya. Dia seorang model seperti Jena. Sudahkan Zeza katakan, jika dia mengangumi Jena. Makanya dia jadikan sebagai panutannya.


"Zeza," panggil Jimin kepada adiknya. Zeza menoleh dan menatap datar kakaknya.

__ADS_1


"Aku baru saja akan kembali, Oppa. Sampaikan saja salamku pada Eonni Zia." Jimin mengangguk dan menatap putrinya yang membuang muka.


Jimin juga tidak tahu kenapa Amel dan Zeza tidak bisa akur.


Zeza melangkah keluar dan ke parkiran. Dia mengambil mobil Laborigini merahnya dan meninggalkan pekarangan rumah mewah Jimin.


Rahang Zeza mengeras dan dia datang ke kantornya. Selain model Zeza adalah seorang CEO di Perusahan yang diberikan ayahnya.


Semua yang menatap Zeza datang dan merasa atmosfer berubah menengankan. Gadis itu tidak pernah tersenyum hangat kecuali senyum dinginnya.


Tapi di depan kamera, senyum Zeza membuat semua orang terhipnotis untuk menatapnya.


"Apa jadwal saya?" tanya Zeza to the point kepada sekertarisnya. Yeri sebagai sekertarisnya langsung terkejut saat Bosnya ada di depannya.


"Khm, jadwal anda bertemu dengan CEO 3R Company-Jung Aegie Ryung siang ini Miss."


Zeza mengangguk dan menatap jam tangan gold miliknya. Hampir menunjukkan waktu siang.


"Siapkan berkas saya." Yeri mengangguk dan menyiapkan berkas yang diminta Bosnya.


Zeza masuk ke dalam ruangannya dan duduk di kursi besar miliknya. Tatapan Zeza menerawang jauh.


"Bahkan hingga detik ini, akan aku pastikan 'kamu' tidak akan bahagia."


Wajah cantiknya begitu datar. Bibir manisnya hanya menyeringai kecil. Sungguh kecantikan Zeza tertutupi dengan sikap arogan gadis ini. Ditambah kehidupan pribadinya tak pernah disentuh publik.


Dua marga yang disandangnya membuat orang dua kali berpikir untuk berurusan dengannya. Sikap kejam gadis ini juga tidak main-main.


Tok-tok.


"Masuk." Suara dingin Zeza membuat Yeri yang sudah lama mengenalnya tetap degdegkan.


"Batalkan jadwal lainnya. Jika ada yang datang katakan saja saya sedang sibuk." Yeri mengangguk patuh. Dia pamit keluar dan Zeza meraih tas dan kunci mobilnya.


Dia berjalan santai meninggalkan perusahannya dan berjalan ke kantor Ryung.


***


Levin POV


Aku sekarang di kantor dan duduk bersama Ryung. Projek iklan produk brand akan kami bahas dengan seseorang. Dia tidak mengatakannya. Menurutnya model cantik.


"Pemisi, Sir. Ada yang ingin bertemu dengan Anda."


"Persilakan dia masuk."


"Baik, Sir."


Aku menatap pintu sampai terbuka. Seorang gadis dengan tubuh semampai. Kaki jenjangnya polos dan dia memakai rok sebatas paha.


"Aku harap tidak ada basa-basi, langsung ke intinya." Apa-apaan dia. Cih, siapa yang berharap berbasa-basi dengannya? Aku? Jangan harap.


"Aku suka memiliki client sepertimu Zeza." Ryung juga memujinya tapi wajahnya tidak asing.


"Produk apa yang akan aku promosikan?"


Mereka berdua terlibat pembahasan serius. Dari lagat wanita ini berbiacara, dia sangat angkuh sekaligus profesional.

__ADS_1


"Aku perl--" Aku memotong ucapannya yang sejak tadi mengatur. Memangnya dia siapa yang ini mengendalikan kami?


"Berhenti protes. Kamu hanya model yang dibayar, maka lakukan pekerjaanmu tanpa banyak tingkah." Aku menatapnya tajam dan tak aku sangka dia menyeringai.


"Perhatikan ucapanmu, Mr. Levin. Hanya model? Menurutmu barang murahan cocok untuk tubuhku?" Ryung meneguk ludahnya mendengar ucapan Zeza, menusuk banget.


"Pakaian itu akan terlihat murahan jika yang mengenakannya juga murahan." Aku membalas ucapannya tak kalah tajam.


"Hahaha, jadi kamu mengakui produkmu murahan?" Cih, sialan sekali dia. Ingatkan aku membawa pistol untuk menebak bibir sialannya.


Dia bahkan menyilankan kakinya dan menatapku santai. Bibir tipisnya terus menyeringai remeh.


"Saya baru saja mengakui jika kamu murahan Miss. Zeza."


Wajahnya berubah muram dan dia cepat sekali mengubah ekspresi wajahnya.


"Ryung, apa lelaki tua ini kurang piknik?" tanya pada Ryung. Ryung membasahi bibirnya saja.


"Lelaki tua? Apa kamu pikir aku lelaki tua?!" bentakku.


"Turunkan nada bicaramu, Mr. Levin. Tidak ada yang berani meninggikan ucapannya padaku selama ini," ujarnya penuh penekanan.


"Sayangnya, saya tidak akan menurut," ujarku menatapnta tajam. Dia tertawa dan bangkit.


"Maka terpaksa  ... Plak!"


Aku memegan pipiku. Ingatkan aku jika dia gadis kedua setelah Jena menamparku. Aku berdiri dan menatapnya tajam.


Dia menatapku tak kalah tajam. Gadis ini menentanku, sepertinya dia tidak tahu berurusan dengan siapa.


"Khm, sebaiknya kalian berdua duduk," ujar Ryung.


"Kamu akan menyesal terlahir di dunia ini."


"Dan lelaki tua sepertimu tidak pantas telahir di dunia ini."


Ryung berdiri dan melarai kami. Aku ingin menebaknya saat ini. Model murahan.


"Ryung  ... sebaiknya aku pergi. Berikan barang 'berkualitas' untukku." Dia menekan ucapannya dan berjalan mengambil tasnya.


"Shit," umpatku saat dia pergi.


"Ingatkan aku membawa pistol untuk menebak kepalanya."


Aku meninggalkan Ryung dalam keadaan marah. Aku merasa frustrasi saat mendapat sms dari mommy. Dia memaksaku malam ini ikut ke rumah Yuna.


"Baiklah, gua hanya perlu ke sana."


Aku meninggalkan kantor dan berjalan ke parkiran. Ternyata Zeza masih di sana dan mobil kami bersebelahan.


Tatapan kami beradu tajam. Gadis angkuh ini akan kubuat menyesal dan merasakan penderitaanya.


Blam!


Dia masuk ke dalam mobilnya dan membanting pintu mobilnya kesal setelah menerima telepon. Masa bodoh dengannya, aku akan membawa pistol ketika dia berkicau kembali.


"Awas kau."

__ADS_1


TBC


Jejak :)


__ADS_2