
Sekali lagi jangan lupa follow :) sebentar lagi Opwn Your Eyes akan tamat. Aku difollow alhamdulillah dan terima kasih :)
Jangan lupa tingglakan jejak dan kalian akan digantung kalau jejaknya gak ada 😂😂
***
Hari-hari yang Zeza alami berubah. Ini sudah seminggu tetapi suaminya belum pulang, persaannya kacau. Saat ini dia berada di rumahnya. Heseok membuktikan ucapannya, dia bahkan tak mengizinkan Zeza pulang ke rumah Levin.
Kegiatan Zeza hanya duduk termenung atau menatap di balkom berharap Levin datang dan menjemputnya. Zeza yang terkenal tegar kini menjadi Zeza yang lemah. Dia selalu menangis, bahkan kantung matanya terlihat jelas.
Bagaimana rasanya jika kamu mencintai suamimu tetapi justru kamu harus berpisah dengannya secara paksa? Zeza kembali menumpahkan tangisnya saat dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia bahkan kurusan tidak sesuai dengan rencananya membuat Levin terkejut melihatnya gemuk.
“Hikss levin,” isaknya pilu.
Zeza POV
Aku merindukan suamiku yang sampai saat ini aku tidak tahu kabarnya. Aku sering bermimpi jika dia terus memanggil namaku. Rasa kahwatirku kepadanya semakin menjadi-jadi. Aku ingin menghbunginya tetapi ponselku di sita.
Aku tahu Levin memang mafia, tetapi dia itu baik. Dia melakukan itu semua karena Ric memang pantas mendapatkannya. Tidak ada yang tahu kebusukan Ric. Semua mengira jika aku hanya mengada-ngada karena ingin membela suamiku.
“Vin,” isakku. Aku semakin merindukan tiap menyebut namanya.
Aku ingin lari dari sini dan memeluk Levin. Aku seperti berada di bawah lautan, berteriak pun dia tidak akan mendengarnya. Aku ingin menyising sore dan bergerak bersamanya agar kumenemukan dia. Namun, aku sadar hingga waktu bergerak cepat, aku akan kehilangan segalanya.
Aku menginta pertemuanku dengan Levin, saat dia hanya menantapku tajam. Berkata kasar dan ketus. Hingga aku mengingat saat dia ingin ke Miami, memelukku erat.
“Hiksss kamu membunuhku dengan rindu ini, Vin hikss. Pulanglah Sayang hikss rengkuh aku hikss,” isakku.
Aku melangkah masuk ke dalam kamar. Berbaring dengan tangis yang tak ada habisnya. Aku ingin Levin, angin tolong sampaikan padanya, jika aku membutuhkannya.
“Hiksss Vin,” lirihku.
Dia pria yang berhasil membuka mataku untuk melihat cinta tulusnya. Dia memang mafia tetapi dia punya cinta yang besar untukku. Kuyakin Levin tidak akan pernah menyakitiku. Aku harap aku, suamiku dan anak-anakku kelak hidup berbahagia.
Cklek. Pintu terbuka dn kalian tahu aku dikurung dalam kamar. Daddy tidak mengizinkanku keluar sama sekali. Tangisku pecah kembali saat Mommy memelukku.
“Hiks Mommy,” isakku.
“Sayang kamu harus tahu jika bukan hanya kamu, tetapi ada bayi kamu,” ujar Mommy. Maafkan mommy sayang. Mommy terlalu memikirkan daddy. Aku merasa egois dengan anakku sendiri. Jika bukan mommy mengingatkanku aku akan egois.
“Daddy hanya takut kamu terluka,” ujar mommy. Demi Tuhan Levinlah pelindungku, disaat aku disakiti laki-laki dia yang mengobati lukaku.
“Dia mencintaiku, Mom,” lirihku.
__ADS_1
“Kamu janji sama Mommy untuk tetap tegar. Kamu harus buktikan kalau kalian memang pantas bersama,” ujar mommy membuatku mengusap air mataku. Aku mengangguk.
“Mommy bagaimana dengan Levin, aku tidak tahu keadaannya?” tanyaku pada Mommy.
“Mommy tidak tahu, Nak.” Aku kecewa mendengar jawaban mommy. Aku sangat khawatir.
“Bisakah aku meminta ponselku, Mom?” tanyaku memelas.
“Baiklah.” Mommy memang yang terbaik.
“Pake ponsel Mommy saja,” ujarnya dan aku menghafal nomor Levin segera mendialnya. Aku menunggu nada tersambung. Hingga suara laki-laki terdengar, ini bukan Levin sama sekali bukan Levin.
“Halo,” sapa seseorang di sana.
“H—halo, di mana Levin?” tanyaku cemas.
“Siapa?” tanya.
“Aku Zeza-istrinya.”
“Jangan tunggu Levin pulang,” ujarnya membuat jantungku terasa di remas kuat. Dunaiku serasa berhenti berputar. Semua kosong dan hampa.
Jangan tunggu Levin pulang, bagaimana bisa aku tidak menunggu dia pulang? Jangan terlalu kejam untuk melarangku menunggu kepulangan suamiku. Mulai sekarang aku benci dengan semua hal yang ingin memisahkanku dengan suamiku.
“Mommy,” lirihku.
“Aku mohon cari kabar tentang Levin. Suamiku sedang tidak baik-baik saja,” lirihku dengan napas tersedak.
“Kamu jangan menangis, Nak. Mommy akan membantumu.” Aku memeluk Mommy dengan hati resah.
***
Di Rumah Sakir Miami
Seorang pria terbaring dengan alat-alat penunjang hidupnya. Setiap hari tangannya digenggam erat wanita di sampingnya. Wanita itu tak lelah berdoa untuk kesalamatannya.
“Hiks bangun, Sayang,” isaknya.
“Mommy,” lirih denganlirih bahkan hampir menyerupai bisikan.
“Nak,” lirih Aeri bahagia. Dia memeluk putranya dan memanggil Dokter.
“Uhuk Mommy,” lirihnya.
__ADS_1
“Sayang hikss.” Aeri tidak sanggup melihat Levin dalam keadaan sakit.
“Maafkan hiks aku Mommy uhukk Mommy pasti uhukk kecewa dan marah,” lirihnya. Aeri menggelengkan kepalanya.
“Mommy gak marah, Nak. Hikss Mommy sayang sama kamu hikss Mommy gak marah, Mommy sayang kamu, Nak. Hikss Daddy juga sayang sama kamu,” ujar Aeri tersedu-sedu.
“Hiks Aku mohon bertahanlah hiks, Nuna menyayangimu,” ujar Echa yang sama sakitnya dengan ibunya melihat Levin sakit. Ryung tidak kuasa menahan air matanya. Levin adalah teman, sahabat dan kakak untuknya.
“Vin lo harus kuat,” ujar Ryung.
“Uhukkk ....” Pecahlah tangis Aeri bersama keluarganya saat Levin batuk berdarah. Jungkook memeluk istrinya erat. Tangan Levin sudah dingin dan napasnya sudah tidak teratur.
“Hikss Zeza membutuhkanmu, dia hamil,” ujar Eunbi kepada Levin.
“Uncel hiks, bangunlah,” lirih Gata dan Gita.
Tiiittttttttttt ....
“LEVIN HIKSSSSS!”
Aeri meronta dan mengecup kening putranya dengan mata sembabnya. Dia memeluk tubuh Levin, dia tidak pernah menyangka. Beberapa kali Aeri menggucang tubuh Levin. Dia menangis pilu sama seperti Taehyung pergi.
“Hikssss LEVIN BANGUN HIKSS KAMU TIDAK BISA HIKS MENINGGALKAN MOMMY HIKSS ....” Aeri tahu Levin tidak tahu rasanya disayangi orang tua. Dia tahu alasan putranya jadi mafia, itu semua karena putranya kurang kasih sayang.
“Hikss Levin,” lirih Aeri. Dia meronta minta dilepaskan oelh suaminya saat dia di bawa keluar. Ray, Ryung dan Ray menatap nanar Levin. Echa menangis dipelukan V. Dia terpukul.
Di tempat lain seorang wanita beteriak keras.
“LEVIN TIDAKK HIKS JANGAN PERGI!” teriaknya da terbangun dari mimpi buruknya. Dia terenggah-enggah dan mimpi itu terasa nyata. Air matanya jatuh tanpa komando. Pintu kamarnya di buka dan melihat ibunya menangis.
Tatapannya menjadi kosong. Dia merasa jantungnya berhenti berdetak saat ini juga.
“Levin meninggal hiks.”
Seseorang tolong katakan bahwa ini hanya mimpi buruk. Dia tidak sanggup jika ini menjadi nyata.
“Mommy bilang hikss ini bohong!” teriaknya.
Yuna menggelengkan kepala membuat tubuh Zeza terkulai lemas. Dia menangis tanpa suara. Kenapa Tuhan mengambil suaminya? Kenapa Tuhan membuat dia merasakan kehilangan. Tubuhnya begetar hebat. Dia menepuk dadanya kuat. Pelukan Yuna yang erat membuat dia sadar bahwa ini—nyata.
“HIKSS LEVIN HIKSSS AKU HIKSS SAYANG SAMA KAMU HIKSS AKU CINTA SAMA KAMU HIKSS. KENAPA HIKSS KAMU SETEGA INI HIKS KENAPA KAMU MENINGGALKAN AKU HIKSSS ?!”
Bukan kabar ini yang Zeza inginkan. Dingin malam tak sedingin hatinya saat tahu suami tercintanya telah pergi.
__ADS_1
TBC
Tinggal beberapa part ( kalau mau di next komentar yang benar dan tinggalkan jejak, bentar lagi kita pisah karena OYE bakal tamat.