Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
30-EXTRA PART


__ADS_3

Last part


12: 23 KST


9 month


~Open Your Eyes, Baby


Siapa sangka dua orang yang memiliki sikap sekeras batu bisa bersatu? Siapa sangka orang yang sama-sama memiliki ego setinggi langit bisa runtuh saling mencintai? Mereka yang bagiakan tom dan jarry kini bagaikan romeo dan juliet.


“Akhhh!” ringisan itu keluar dari bibir wanita yang sedang menyuapi suaminya. Mendadak wajah suaminya berubah jadi cemas.


“Kamu kenapa, Sayang?” Panik bukan main mendapati istrinya menggerang sakit. Dia menggendong istrinya.


“ASTAGA VIN, KETUBANKU PECAH!” jeritnya sukses membuat suaminya makin panik.


Levin membopong istrinya keluar dan melihat Gata. Levin memanggilnya.


“Gata bantuin Uncel!” teriaknya. Gata berlari ke arah uncelnya dan segera menyiapkan mobil melihat Zeza yang bentar lagi lahiran. Tentu mobil dengan sigap tersedia, Levin duduk di belakang kemudi, dia tahu keponakannya itu pembalap.


“Akhhh sakittt,” rintih Zeza. Dia mengcengkram kuat tangan suaminya. Beberapa kali Levin menghela napas berat. Mimik wajahnya berubah pucat pasi. Dia takut istrinya kenapa-napa.


Hanya butuh 30 menit mereka tiba di Park Hospital.


“Suster!” teriak Levin dan perawat dengan gesip menyidakan bangkar. Mereka membawa Zeza ke ruangan persalinan. Keluarga Levin sudah dikabari oleh Gata. Mereka menunggu di luar.


“Suami pasien bisa masuk ke dalam,” ujar suster membuat Levin beranjak dan masuk ke dalam. Dia melihat istrinya berjuang melahirkan anak mereka. Wajah kesakitan Zeza membuat dia tidak tega.


“Sayang kamu pukul aku, cakar aku atau apa pun yang mau kamu lakukan, lampiaskan rasa sakitmu sama aku,” ujar Levin membuat Zeza tersenyum lemah. Dia mengenggam tangan suaminya erat.


“Baiklah Bu ini pembukaan ke 10, terus mengejang, Bu,” intruksi dokter. Zeza merasa semakin sakit. Dia bercucuran keringat dan tangannya mengcengkram kuat suaminya.


“Akhhhhggghh  ... hufghhhhh akhhghhh!” Zeza sekuat tenang mengejang.


“Terus, Bu, tarik napas dan buang.” Zeza menarik napas dan membuangnya.


“Akhhhhh!” Zeza merasa tubuhnya lemas, tetapi dia selalu merasa ada dorongan untuk mengejang.


“ARGHHHHHHHHH!”


“Oekkk  ... oekkkk  ....” Levin tersenyum lega mendengar suara tangis anaknya. Dia melihat istrinya tersenyum lemah sebelum dia menutup mata karena kelelahan.


“Anda bisa menunggu di luar, kami akan memberishkan Nyonya Zeza dan juga anak kalian.” Levin mendekat dan mengecup kening istrinya dengan sayang. Dia membisik ke arah Zeza.

__ADS_1


“Terima kasih telah berjuang melahirkannya ke dunia ini, Sayang.”


“Ini putra anda, pak.” Levin tersenyum haru dan melihat putranya begitu tampan. Dia keluar membiarkan Dokter dan tim medis lainnya melanjutkan pekerjaannnya.


“Bagiamana?” tanya Aeri saat melihat putranya keluar. Keluarganya memang sudah kumpul di luar dan melihta senyum levin membuat mereka lega.


“Dia laki-laki, Mom, sangat tampan,” ujar Levin membuat keluarganya semakin bahagia.


“Aku tidak sabar melihatnya,” celutuk Echa.


“Tunggulah.”


***


Levin POV


Akhirnya Zeza dipindahkan di ruang inap. Aku masuk dan melihatnya yang menatapku sayu. Aku memeluk dan menciumnya. Dia wanita yang kuat.


“Bayi kita di mana?” tanya.


“Dia masih bersama perawat, Sayang. Anak kita laki-laki,” ujarku membuat dia tersenyum. Siapa sangka feelingku benar jika anak kami laki-laki. Aku akan mengajarinya cara melindungi istriku yang cantik ini.


Tiba-tiba keluarga kami masuk dan mereka menayakan keadaan Zeza. Mereka sangat menantikan bayi kami sampai masuk perawat membawa bayiku. Ah ini dia calon penerusku. Suster memberikan putraku kepada Zeza.


“Anda bisa memberinya asi pertama,” ujar suster itu. Yang lain keluar walau aku tahu mereka ingin sekali melihat putraku. Kini tinggal aku dan Zeza. Dia menyusui putra kami. Wah dia lahap sekali.


“Iya,” ujarku kagum melihat putraku. Matanya masih terpejam dan terlihat menikmati berada dalam dekapan ibunya. Aku menyentuh tangan mugilnya dan aku merasa persendiaku lamas, sungguh ini seperti keajaiban. Tangan lembutnya mengenggam jempol tanganku.


“Aku merasa merasakan sesuatu yang ajaib,” ujarku.


“Hehehe dia memang keajaiban untuk kita,” ujar Zeza. Dia membelai lembut pipi putra kami. Tapi anakku belum membuka matanya. Dia memilih terlelap dan tetap minum asi.


“Open your eyes, Boy,” lirihku. Sepertinya ikatanku dengan putraku sangat kuat. Dia membuka matanya dan terlihat mata hitam yang bersinar terang. Aku takjub bersama istriku.


“Wah,” decakku kagum. Wajahnya lebih banyak mewarisiku, kecuali bibirnya sangat mirip dengan Zeza. Alis, dagu, mata dan juga bentuk wajah lebih menyerupaiku. Akhirnya miniaturku dengan Zeza hadir di tengah-tengah kami. Aku tidak sabar menunggunya berlari dan membuat keadaan rumah menjadi ramai.


“Siapa namanya?” tanya Zeza kepadaku.


“Aku ingin kamu memberinya nama, aku ... merasa tidak adil. Kamu melahirkannya sekuat tenaga, mempertaruhkan nyawamu, Sayang,” ujarku. Dia menatapku dengan tatapan cintanya.


“Aku bersyukur bisa melahirkan anak darimu. Aku tidak merasa sakit setelah mendengar suara tangisnya. Kelahirannya di dunia ini adalah kebahagian untuk kita berdua, Sayang.” Ough manis sekali istriku. Aku jadi gemas langsung menciumnya. Pipinya memerah malu, aku tertawa melihat tingkahnya.


“Berhenti tertawa dan berikan nama untuk putra kita,” ujarnya.

__ADS_1


“Aku ing memberinya nama Jung Miracle Aldrick.” Pada akhirnya aku memberinya nama Miracle karena dia bagaikan keajaiban untukku. Dia dan Zeza alasanku untuk tetap jadi pria kuat. Tak akan ada habisnya aku menjelaskan ebatap berharganya mereka berdua.


“Nama yang bagus, tumbuhlah dengan sehat putra Mommy,” ujar Zeza.


“Siapa nama panggilannya?” tanya Zeza.


“Racle,” ujarku. Nama yang gagah untuk putraku.


“Terima kasih, Sayang atas hadiah terindahnya,” ujarku sambil memeluknya.


“Sama-sama, Sayang.” Kami memandang putra kami yang tersenyum. Dia manis sekali saat tersenyum.  Zeza menyudahi memberikan asi kepada putra kami. Aku memutuskan memanggil mommy karena dia sangat menantikan kehadirtan cucunya. Dia yang menreroku untuk memberinya cucu hingga aku terjebak perjodohan dengan Zeza.


“Wah cucu Mommy sangat tampan!” pekiknya sambil mengendong cucunya. Mommy Yuna tak kalah antusiasinya. Aku meringis melihat anakku terus berpindah tangan. Zeza hanya tertawa melihat keluarganya berebut menggedong Racle.


“Aku tidak sabar membuat adik untuknya,” ujarku mendapat cubitan dari Zeza. Ucapanku membuat keluargaku menoleh dan terbahak. Zeza memelukku menyembunyikan pipinya yang memerah malu.


“Aku mencintaimu.” Aku tidak pernah bosan mendengar dia mengucapkan kata cinta. Aku menyukai ucapannya karena bukan hanya ucapan, Zeza membuktikan melalui tindakan. Aku mencium bibir Zeza dan melupakan jika mereka tengah menatap kami dengan senyum menggodanya.


“Tahanlah, Levin, kamu harus berpuasa hingga 3 bulan,” ujar Ryung membuatku berdeka kesal.


“Hahahaha.” Mereka tergelak membuatku semakin kesal. Aku mememggalamkan wajahku di ceruk leher istriku.


“Dasar manja,” gumamnya yang kuhadiai dengan gigitan kecil di lehernya.


“Levin jangan mesum!” teriaknya membuat keluargaku semakin mengolok-ngolokku. Aku kesal dan membawa putraku di dekapanku.


“Hati-hati,” ujar Mommy. Dia mengajariku menimpang putraku. Kelak dia dewasa semoga dia menjadi kebangganku. Zeza memelukku dari samping, dan menatap putra kami dengan gemas.


“Kenapa hanya bibirnya yang sama denganku?” tanya protes.


“Jangan marah, nanti kita buat yang mirip denganku,” godaku membuat dia malu.


“Harus,” ujarnya malu-malu. Aku dibuat tergelak, sungguh Zeza mencairkan hatiku. Hanya dia wanita terakhir dalam hidupku hingga aku mengembuskan napas terakhirku.


ENDING


Bagi pict baby Racle 😂




__ADS_1


Squeelnya?


Terima kasih banyak semua. Sampai berjumpa di karyaku yang lainnya.


__ADS_2