
Saat aku up pasti double up 😂 jadi jangan heran kalau aku up 4 part hari ini. Follow guys karena jika ada cerita baru gak bakal ketinggalan.
Persendian Zeza terasa berhenti. Napasnya tercekat, apakah dia sudah mati? Dia merasa kini sudah meninggalkan dunia, tetapi ada yang beda, dia tidak merasakan sakit apapun. Bunyi letusan benda berwana hitam itu sangat menggema pada pendengarannya.
Dia takut membuka mata, dia merasa air matanya mengalir deras saat tubuhnya merasa dipeluk seseorang. Isak tangisnya lolos, entah dia menangis karena apa. Bahkan bahunya terguncang hebat, seolah menumpahkan semua kesdihannya selama ini.
“Syuuttt, ternyata selain ambekan, lo cengen banget, Za,” ujar Levin mengelus suarai hitam Zeza.
Akhirnya gadis angkuh bernama Zeza ini jatuh ke dalam pesona seorang Mafia yang dia tampar pada pertemuan pertama mereka. Pria yang membuat Zeza siap memuntahkan sejuta larva di bibirnya. Siapa sangka dia malah berada dalam dekapan pria itu. Pria yang tak pernah berhenti membuatnya naik pitam.
Benar kata pepatah, cinta datang karena terbiasa. Cinta tidak pernah menilaimu salah, justru dia akan menemukan celah untuk masuk ke dalam relung hatimu tanpa sebuah kata permisi. Perasaan yang sulit dijabarkan dengan kata-kata. Cinta yah karena cinta, tak perlud dipertanyakan sebab jika cinta yang memilih semua akan terliah sempurna.
“Hiks lo jahat banget,” isak Zeza. Levin tertawa dan menarik dirinya. Wajah sembab Zeza disertai tatapan sinis gadis ini membuatnya terlihat lucu. Levin semakin terbahak, sempat-sempatnya gadis ini melayangkan tatapan sinisnya saat menangis.
Levin menghapus air mata Zeza walau tak semua terhapus. Dia memegan bahu Zeza.
“Menurut lo gua tua?” tanya Levin tiba-tiba. Zeza yang kesal mengangguk tanpa ragu. Levin berdecih kesal.
“Aku menjawab dengan jujur,” ujar Zeza dengan suara paraunya. Dia menatap pistol Levin yang tergeletak di atas meja.
“Gak ada isinya,” ujar Levin membuat Zeza memukul paha pria itu keras.
“Lo penakut banget, gua pikir lo berani,” ujar Levin. Dia tidak tahu saja jika Zeza marah besar akan mengcekik orang.
“Gue gak tah, tetapi, gua bisa membunuh orang saat gue marah,” ujar Zeza membuat Levin tergelak kembali. Pria ini memang suka meremehkannya. Zeza menjulurkan tangan ingin mengcekik Levin, namun, Levin sengit malah membuat kedua tangan Zeza mengalung di lehernya.
Napas Zeza tercekat, pupil matanya membesar. Bibir kecilnya terbuka sedikit. Tentu saja dia syok, dia ingin mengcekik Levin tetapi malah tangannya bertengger manis di leher pria itu. Tatapan Levin begitu intes kepadanya.
“Lo kenapa sih, Za?” tanya Levin kalem.
“Gu-gue ngatuk,” ujar Zeza terbata-bata. Dia kembali bersembunyi pada perasaannya. Memilih berkata tidak ketimbang mengakui. Gensinya tinggi untuk berkata jujur. Biarkan dia menjadi wanita yang mencintai suaminya dalam diam.
Andai saja pertemuan mereka tidak seburuk itu, mungkin ceritanya takkan seperti ini. Andai saja dia dan Levin tidak pernah bertengkar dan ah kini hanya mampu berandai-andai.
Zeza POV
Apakah aku terlahir unutuk merasakan patah hati untuk kedua kalinya? Aku pernah mencintai pria begitu dalam hingga aku terlihat seperti orang bodoh yang begitu mempercainya. Duri yang kusangka Mawar indah ternyata menusukku bukan menjadi akhir yang indah untukku. Namun, bisaka kali ini Mawar yang indah ini benar-benar menjadi mawar yang akan membuat hatiku berbunga-bunga. Aku takut durinya menusukku, bisakah durinya menjadi sebagai pelindung untukku ketika ada orang yang ingin memetik kebahagiaan dalam hatiku?
__ADS_1
“Gue ngantuk Vin,” ujarku yang mengusirnya secara halus.
“Ke kamar aja,” lirihnya. Aku gak salah dengarkan? Levin yang mengusirku di malam pertama aku dan dia menikah, kini memintaku ke kamar. Aku tidak akan pernah berpikir jauh, ok.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Jangan banyak tanya,” ketusnya. Dia mengalihkan tatapannya. Egonya memang tinggi dan aku akan menurunkan egonya, tunggu saja.
“Gu—gue tidur di sofa aja,” ujarku menolak ajakannya.
“Gua gak bakal macam-macam,” ujarnya. Aku mengangguk, walau rasanya hatiku tercubit. Kenapa juga aku merasa sakit dia tidak ingin bermacam-macam padaku, ah otak kotorku mulai bereaksi.
“Lagian gua juga sudah lihat,” ujarnya membuat pipiku memerah malu.
“Lo mesum banget,” ujarku kesal.
“Panyudara lo gak be—“
Plak!
Aku menatap tanganku gemetaran. Aku tidak senagaja menamparnya, sumpah. Aku melihat wajah Levin mengeras dan matanya memejam. Aku takut ok Levin tidak pernah bercanda, tetapi dia kelewatan.
“Sebaiknya lo ke kamar,” ujarnya dan bangkit. Aku mengekor dengan pelan di belakangnya. Pipi Levin yang memerah membuatku merasa bersalah.
Di kamar kami tidur saling membelakangi. Dadaku berdentum keras dan aku takut jika Levin mendengarnya. Aku tadi mengantuk sekali tetapi sekarang sulit menutup mata. Aku membalikkan badan bersamaan dengan Levin.
“Za,” ujarnya membuatku meneguk ludah gugup.
“Ya,” sahutku pendek.
“Apa gua tua?” kenapa dia selalu bertanya dia tua atau tidak. Jujur, umur Levin memang sudah matang, tetapi wajahnya, dia bahkan mirip anak kuliahan. Wajahnya yang tampan tidak akan membuat orang menduga dia sudah cukup umur.
“Se—sejujurnya lo gak keliatan tua,” ujarku jujur. Bibirnya tersenyum tipis. Tiba-tiba tangannya memegang wajah gue dan blush—pipiku memanas.
“Vi—vin,” ujarku gugyp lebih dua kali lipat.
“Apa arti pernikahan ini untuk lo?” tanya. Aku dilanda rasa binugn, ingin jujur malu. Tak jujur aku takut semua menjadi runyam. Namun, bisakah dia yang memulai sebab aku wanita.
__ADS_1
“Apa arti penikahan ini, Vin?” tanyaku balik dengan pertanyaan yang sama.
“Kalau gak berarti apa-apa, kita pis—“ CUKUP! Aku tidak akan membiarkan dia mengeluarkan ucapan yang sangat kubenci dalam hidupku.
Aku memotong ucapnnya dengan cepat.”Sangat berarti,” ujarku membuat dia mengikis jarak di atara kami. Napas levin mengenerpa wajahku, harum tubuhnya benar-benar membuatku merasa nyaman dan tenang.
“Apa gua lo liat sebagai suami?” tanyanya membuatku mengangguk.”lo yang menganggap gue pembantu,” lirihku dihadiahi kekehannya.
“Itu karena lo menyebalkan, dua kali lo nampar gue,” ujarnya galak. Kevin bunnglon, asli bunglon. Dasar pria plin-plan, abis manis, galak lagi, gitu aja terus. Jangan jadiikan aku sebagai layang-layang tarik-ulur nanti putus dikejar juga kan.
“Gua lihat wanita di depan gua saat ini adalah Nyonya. Levin,” ujarnya pelan. Aku semakin tidak berdaya dengan ucapannya. Bagikan mantra harry poters untuk ramuan cinta, aku begitu jatuh dan meluapkan semuanya.
“Vin,” lirihku dan dia meletakkan telunjuknya di atas bibirku.
“Kita tidak perlu mengucapkan kata cinta untuk sekarang. Dengarkan Zeza, istriku yang arogan, galak, judes dan jutek, bisakah kita menjalani hubungan perniakahan kita hingga menjadi keluarga bahagia? Kita berjalan dari huruf A hingga kita akan sampai pada Z, untuk itu ukirlah kisah ini bersamaku, jangan tanyakan kenapa, aku tidak punya alasan,” ujarnya panjang lebar. Aku akan mencatat tanggal malam ini, rekor pria ini berucap panjang lebar sekaligus sangat manis.
“A-aku—“ Bahkan kini hilang kata infomal yang kasar.”A—aku mau, Vin,” ujarku gugup. Dia tersenyum lembut dan aku akan memberi tahu kalian senyum Levin itu seperti gulali, manis banget.
“Waktunya tidur,’’ ujar Levin sambil menguap.
“Gua boleh peluk lo?” tanya to the point. Aku bersingut masuk ke dalam pelukannya. Oh Tuhan aku ingin teriak sekencang-kencangnya. Mafia the romance boy! Ternyata levin bisa manis juga, heehehe. Good nigth, Vin, semoga malam ini bukan hanya bunga tidur untukku.
TBC
Jejak :D
Follow akun Wattpad Tata dung 😁 Squeel dari era MYD sampai cicitnya ada 😂😂😂
Mampir kuy 😁 @Kim_Aretha
Yang gak punya WP bisa mampir di mbah google. Tahu ceritanya The Tripleks? Ryung dan Eunbi? Cerita anak-anaknya sudah up.
. Gata : Istri Di Atas Kertas (Tamat)
. Gita : Garis Finis (On going) ini ada di WP dan juga di blogku. arethaarthas@blogspot.com
Mampir-mampir di blogku.
__ADS_1
Ryuka : Anaknya Daddy Badboy