Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
28


__ADS_3

Ada yang baca tapi gak follow? 🙄


Jangan jadi penikmat gelap 🙃 tekan follow gak akan mengambil sepersen uang kalian. Apa salahnya mendukung penulis?


Selamat pago (


Title : Open Your Eyes


Part : 28


Wattpad : @Kim_Aretha


“Syyyuuttt, jangan menangis karena kamu terlalu sering menangis untukku, Sayang,” lirihnya.


“Hiksss aku takut hikss aku takut,” ujarku. Aku benar-benar takut kehilangan. Kini rumahku kembali, tempatku mengeluarkan keluh-kesahku. Aku menangis sejadi-jadinya, tak peduli jika bajunya basah.


*


Dua jam telah berlalu tetapi pelukan hangat pada pinggang wanita itu tidak pernah lepas. Bahkan terasa erat dan wanita itu juga tidak keberatan sama sekali. Ia dengan nyaman malah membalas pelukan prianya.


“Pulanglah, Sayang. Kamu di sini nanti kecapean, kasihan anak kita,” ujarnya lembut sambil mengelus perut istrinya.


“Aku gak mau pulang, aku mau di sini temanin kamu,” tolaknya keras kepala. Terdengar helaan napas berat dari pria itu. Dia mendaratkan kecupan di kening sang istri.


“Kamu harus menurut padaku,” ujarnya membuat wanitanya mendongak menatapnya dengan mata berkca-kaca. Astaga sejak kapan wanitanya yang galak dan arogan ini berubah jadi cengeng? Dia mengusap pipinya lembut, penuh hati-hati.


“Aku mencintaimu, dan cukup aku yang sakit. Aku tidak ingin kamu merasakan sakit,” ujarnya lembut. Dia tahu huroma kehamilan wanitanya memang tidak stabil.


“Kata Dokter  ... kondisi kamu sudah baik, tetapi ... aku tetap takut,” ujar Zeza kepada suaminya. Tangannya memegan erat baju suaminya.


“Aku baik-baik saja, istriku yang cantik ini telah membawaku kembali.”


“Tidak bisakah aku tinggal di sini dan memelukmu sampai aku terjaga kembali dari tidurku?” Mata bulatnya menatap memelas. Hati Levin tergunggah melihat istrinya begitu ngotot ingin di sini.


“Baiklah  ... baiklah, lalu sekarang katakan, Di mana pipi tembem yang kamu janjikan?” tanya Levin membuat Zeza gugup. Dia memang kurusan, apalagi beban pikirannya terlalu banyak.

__ADS_1


“Ak—aku  ....”


“Syyyuuttt, jangan menangis karena kamu terlalu sering menangis untukku, Sayang,” lirihnya.


“Hiksss aku takut hikss aku takut,” ujarku. Aku benar-benar takut kehilangan. Kini rumahku kembali, tempatku mengeluarkan keluh-kesahku. Aku menangis sejadi-jadinya, tak peduli jika bajunya basah.


CUP. Zeza terbalalak mendapat ciuman tidak terduga dari suaminya. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tersenyum malu-malu, membuat Levin tertawa pelan.


“Tidurlah, dan besok aku tidak mau mendengar suara tangis lagi.” Zeza mengangguk dan terlelap dalam dekapan suaminya.


***


Levin POV


Aku menatap istriku yang terlelap dengan nyaman. Sebenarnya aku sudah sadar tadi malam, tetapi, Zeza sudah pulang. Kata mommy Zeza banyak melamun dan murung. Gadis itu bahkan memakai topeng untuk menutupi kerapuhannya. Aku tahu Zeza wanita kuat.


Dia meringkuk dalam dekapaku seperti bayi. Ah bayi, astaga aku bahagia sekali. Aku sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Aku merasa seperti orang terbahagia di dunia ini. Di dalam perut istriku ada hasil buah cinta kami.


Aku memang sangat mencintai wanita keras kepala dalam dekapanku. Kalian tahu ... saat Bared dan Ric menebakku dan mengenai dada kiriku, aku hanya memikirkan satu nama—Zeza ... yah hanya dia yang terlintas dalam benakku.


Tapi semua terbayar karena keduanya juga telah mati. Malamnya ketika aku sadar, Mommy menangis dan memelukku. Dia mengatakan aku boleh melakukan apapun. Garis bawahi apapun, padahal mommyku ini paling tidak suka jika aku menjalani bisnis gelapku. Bahkan Daddy juga mengatakan terserah aku ingin melakukan apapun, asal aku tidak mati. Sungguh mendapat orang tua sebaik mereka adalah keberuntungan untukku.


Aku tidak menyangka jika Amel memberiku obat yang membuatku terlihat mati. Jantungku berhenti berdetak dan tidak terdeteksi. Untung saja aku masih bisa selamat, hampir istriku jadi janda.


Aku teriris sekali saat dia menangis selama ini. Suaranya menemaniku di suatu tempat yang gelap dan jauh. Jertiannya dan ungkapan cintanya bagikan bujur lintang yang aku cari. Aku menata[ dari segala arah, tetapi aku tidak menamukan cahaya.


Dalam kegelapan yang membuat kakiku berjalan tampan arah, aku mengikuti suara merdunya. Ungkapan cintanya membuatku berusaha menemukan jalan untuk pulang. Hingga setitik cahaya membuatku berlari. Aku mengejarnya dan melihat bujur bintang itu.


Saat di sana ... aku menemukan sebuah taman yang sangat indah. Aku belum pernah melihat taman seindah ini. Hingga aku memutuskan masuk dan mecium harum bunga tulip. Ada begitu banyak warna, lambang cinta yang sempurna.


Netraku terpaku pada  gadis berbaju putih. Kulitnya putih pucat. Matanya sembab dan hidungnya memerah. Dia duduk di bangku dengan jerit tangis pilunya yang menikam dadaku. Aku berjalan ke arahnya dan dia seolah tidak melihat kehadiranku.


Dia Zezaku  ....


Dia menangis  ....

__ADS_1


Dia mengucapkan beribu kata cinta  ....


Aku mencoba meraih tangannya tapi tidak bisa ....


Aku berteriak dan dia hanya meletakkan bunga tulip itu di atas kursi.


Dia menghilang, membuatku gusar.


Aku tidak akan pernah kembali jika bukan karena cinta istriku. Aku akan menyayanginya sebagaimana dia menyayangiku. Aku menggantikan air matanya yang jatuh dengan tawa bahagia. Im promise.


“Enghhh,” lengguhnya dan semakin merapatkan tubuhnya.


Ckleak.


Aku menolah dan melihat Gerald masuk bersama Amel. Gadis itu menunduk takut. Aku menghela napas melihatnya, untung saja dia anak Jimin. Gerald berdehem mencairkan suasana.


“Apakah kami menganggu?” tanya Gerald. Aku menggelengkan kepala.


“Amel ingin bicara denganmu,” ujarnya. Aku menatap Amel yang mengangkat kepalanya. Matanya bengkak dan terlihat menyesal sekali.


“Maafkan aku, Uncel,” lirihnya. Anak Jimin memang polos sekali, pikirannya sudah diracuni oleh Ric.


“Aku akan memaafkanmu jika kamu berjanji, jangan melakukan kesalahan yang sama lagi.” Dia mengangguk cepat.


“Aku memaafkanmu.” Aku melihat dia tersenyum. Aku membalasnya dengan senyum tipis.


“Maka pulanglah gadis keras kepala, sekarang kamu harus tidur,” ujar Gerald dengan nada paksaan. Aku mengangkat alis melihat Gerald. Ada yang terlewatkan? Sepertinya ada bau-bau gosong antara mereka.


“Baiklah,” lirih Amel tidak semangat. Dia menatap Zeza dengan pandangan bersalah.


“Dia akan memaafkanmu. Dia menyayangimu.” Ujarku mengerti isi pikirannya.


“Baiklah, Uncel. Aku akan pulang dengan Tuan Pemaksa ini,” gerutunya dan berjalan pergi. Gerald merangkul pundah Amel dan tentu gadsi itu tidak bisa melawan karena Gerald lebih tinggi darinya.


“Sejak kapan Gerald menyukai Amel?” gumamku. Biarlah, supaya dia ada yang mengurusnya. Aku menatap Zeza lama. Dia sangat cantik bahkan tidur sekalipun. Aku memajukan wajahku dan mengecup lembut bibirnya. Bibir ini adalah candu untukku melebih narokoba yang sering kupakai. Dia membuakku mabuk melebih alhokhol yang sering kuminum dan dia melebih tima panas tima yang menembus kulitku—dia menggairahkan membuatku selalu ingin menyentuhnya.

__ADS_1


TBC


Jejak (:


__ADS_2