Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
22


__ADS_3

Follow yang belum follow :)


Zeza POV


Aku baru saja ditinggal Levin sehari dan rasanya seperti bertahun-tahun. Aku terlalu berlebihan dalam mendefinisikannya tetapi aku benar-benar merindukannya saat ini. Kini aku berada di kantorku dengan tumpukan berkas-berkas yang tidak kesentuh, padahal itulah tujuanku datang awal ke kantor.


Kira-kira bagiamana pekerjaan Levin di sana? Saat aku melamun tiba-tiba pintu ruanganku di buka kasar di susul oleh sekertarisku tergopoh-gopoh masuk. Wajah marah dan kilatan membunuh menatapku—gadis itu adalah Park Amel. Untuk apa dia ke sini?


“Maaf, Miss ... saya berusaha menghalanginya,” ujar Yeri takut. Dia takut jika Bosnya mengamuk dan mengcaukan ruangan ini. Siapa yang bisa menyelmatakannya dari amarah wanita cantik itu?


“Tidak apa-apa.” Yeri mohon undur pamit dan menutup rapat pintu ruangan. Tinggallah aku dan amel.


“Untuk apa kau kemari?” tanyaku tenang sambil beranjak dari kursi kebesarannya. Amel berdecih melihat wajahku. Dia berjalan dengan angkuh.


“Kau—“ Amel menunjukku dengan tangannya. Lancang sekali.


“Aku sangat yakin, Oppa sudah mengajarimu cara sopan santaun. Kau yang keras kepala dan kau akan tahu akibatnya,” ujarku santai. Aku duduk di sofa hitam ruanganku dengan kaki menyilang.


“Kalaua Ric merenggang nyawa, akan kupastikan kau mengalami hal yang sama,” ujarnya mengancamku. Aku hanya mengangkat alis sebelah.


“Aku tidak menyentuh kekasih bodohmu,” ujarku disertai kekehan ringan.


“Kau tidak menyentuhnya, tetapi kau menyuruh suamimu,” ujarnya dengan tatapan beringasnya.


“Aku sama sekali tidak melibatkan suamiku hal ini. Kau yang terlalu bodoh ... Ric memang memiliki masalah dengan suamiku. Jika dia mati  ... itu takdirnya,” ujarku membuat dia mengepalkan tangan kuat.


“Perlu kau tahu Zeza, kau akan menyesal,” ujar Amel penuh dengan rasa percaya diri. Sepertinya dia memiliki rencana untukku.


“Lakukanlah semaumu,” ujarku tenang.


“Yah, aku harus melakukannya. Hidupmu akan menderita dan akan kubiarkan kamu merasa kehilangan,” ujar Amel dan pergi. Sial, sebenarnya apa rencananya?


Aku mengembuskan napas lelah. Amel sebenarnya terlalu bodoh masuk ke dalam perangkap Ric. Aku menyayangi tentu saja. Dia keponakanku dan aku tidak akan membiarkan Ric mengelabuinya.


“Begitu rindukah kamu dengannya, Baby?” tanya seseorang membuatku terkejut. Dia Guar—sahabatku.


“Aku hampir melayangkan protes jika itu bukan kamu,” ujarku membuat dia tertawa.


“Aku bertemu dengan Amel di Lobi,” ujarnya.


“Dia datang ke sini dan mengancamku,” ujarku membuat Guar menatpku serius.

__ADS_1


“Nyawa kakakmu terancam melayang. Dia akan mati di tangan suamiku,” ujarku membuat dia menyandarkan tubuhnya di sofa.


“Aku tahu cepat atau lambat dia akan mati,” gumamnya. Aku tahu kedua orang tua mereka telah tiada. Keluarga Guar hanya mementingkan harta. Kalau dipikir-pikir Guar ini lama sendiri. Ide berlian seketika muncul di kepalaku.


“Guar, aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang,” ujarku.


“Siapa?” Aku menatapnya penuh makna.


***


Panti Asuhan.


“Silakan masuk, Nak,” ujar Ibu panti. Wanita itu tersenyum dan menarik sahabatnya masuk ke dalam. Gadis yang tengah menyulam terbalalak melihat wanita yang membuat dia harus menelam perasannya kepada pria yang ia cintai.


“Du—duduk dulu,” ujar Sasa terbata-bata.


“Apa kamu mengenalku?” tanya Zeza membuat gadis remaja itu mengangguk. Kerutan dan pergulatan pertanyaan di benak lelaki di samping Zeza masih berlanjut. Dia bingung untuk apa sahabatnya mengajak dia ke panti asuhan dan siapa gadis itu?


“Aku ke sini untuk menemuimu.” Sasa heran karena dia tahu Zeza tidak menyukainya.


“Ada apa?” tanya Sasa.


“Tinggallah di rumahku,” ujar Zeza membuat gadis itu semakin dilanda rasa bingung. Zeza mengibaskan tangannya.


“Dan kenalkan ini sahabatku Guar,” ujar Zeza membuat Sasa mengulurkan tangan polos. Guar dibuat kegegalapan dan mengulurkan tangan juga.


“Sasa.”


“Guar.”


Setelah perkenalan singkat mereka, Sasa diajak Zeza untuk ikut dengannya. Gadis itu menurut karena ingin patuh kepada Levin. Dia menganggap Levin sebagai kakaknya sekarang walau awalnya dia sulit.


“Guar, turunkan aku di cafe sana,” ujar Zeza.


“Kenapa?” tanya Guar.


“Aku dan Yumi ingin bertemu di sana. Ada pekerjaan yang harus aku bahas dengan mangerku,” ujar Zeza. Dia akan memberikan ruang kepada Sasa dan Guar.


“Lalu bagaimana dengan Sasa?” tanya Guar.


“Antar dia ke rumahku atau kau ingin mengajaknya jalan-jalan terlebih dahulu. Aku punya urusan penting, tolong jaga dia baik-baik,” ujar Zeza dengan mengedipkan mata kepada Guar. Guar akhirnya tahu maksud Zeza dan dia berdecak kesal.

__ADS_1


“Ternyata Zeza orang baik di balik wajah dinginnya,” batin Sasa.


Zeza meninggalkan Guar bersama Sasa dalam keadaan canggung. Guar beredehem dan menatap Sasa di belakang.


“Pindahlah ke depan supaya aku tidak terlihat seperti supirmu,” ujar Guar.


“Baiklah, Uncel,” ujar Sasa sambil turun dan pindah ke depan. Guar tidak keberatan diapnggil Om oleh Sasa karena Sasa masih remaja SMA sedangkan dia? Sudah mapam dan bekerja. Usia mereka terpaut 12 tahun, jadi sudah tepatutnya Sasa memanggilnya Uncel.


“Kamu ingin jalan-jalan dulu atau langsung ke rumah Zeza?” tanya Guar. Guar memang orangnya humble dan lembut.


“Aku ingin pulang saja, Uncel. Mataku juga tidak bisa diajak kompromi, hehehe,” ujar Sasa sambil menyengir. Guar ikut tersenyum melihat betapa polosnya gadis di sampingnya. Dia menggelengkan kepala mengingat Zeza yang curhat kepadanya ingin melenyapkan Sasa karena dianggap pengangggu. Dia tahu Zeza tidak akan setega itu.


“Tidurlah, nanti ketika sampai di rumah Zeza, akan kubangunkan,” ujar Guar.


“Tidak, Uncel. Aku akan menemani Uncel menyetir,” ujar Sasa sambil menguap.


“Hahaha aku tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menyetir sendiri dan kamu tidak perlu menahan kantukmu,” ujar Guar.


“Tidak Uncel, biarkan aku menemanimu hoaaam.” Ekspresi menguap Sasa terlihat lucu di mata Guar. Gadis itu melawan kantuknya untuk menemani Guar.


“Kamu kelas berapa?” tanya Guar.


“Aku kelas 3 SMA, Uncel.” Guar menagut-mangut.


“Rencananya kuliah di mana?” tanya Guar membuat tatapan Sasa menjadi sendu.


“Aku sekolah karena dibiyai Levin Oppa dan aku tidak ingin dia membiyai kuliahku juuga. Aku cukup menyusahkannya selama ini,” ujar Sasa mengingat betapa baiknya Levin.


“Aku rasa Levin tidak akan jatuh miskin hanya membiayai kuliahmu,” ujar Guar yang benar adanya.


“Aku tidak enak dengan istrinya.” Guar meringis dalam hati. Ekspresi marah Zeza memang membuat orang getar-getir menatapnya.


“Kalau bagitu biar aku saja yang membiyaimu,” ujar Guar disambut gelak tawa Sasa. Guar terpanah melihat Sasa yang tertawa.


“Cantik,” batin Guar.


“Aku akan bekerja Uncel,” ujar Sasa serius. Dia semakin menguap.


“Aku tidak keberatan mengantikan Levin untuk membiayai kuliahmu. Kamu tidak perlu sungkan, mengerti?” Tidak ada respons, Guar menoleh dan ternyata Sasa yang katanya ingin menemaninya sudah terlelap. Guar menepikan mobilnya karena kepa Sasa terbentur di pintu mobil. Dengan hati-hati dia memindahkan kepala Sasa.


“Kamu sangat manis,” lirih Guar dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


TBC


Jejak :)


__ADS_2