
Aku hari ini akan double up, jangan tanya berapa part 😁
Follow guya 🤗
Zeza POV
Hari ini aku bangun lebih pagi dari Levin. Dia masih terlelap setelah pergulatan panas kami sampai subuh. Pipiku terus merona mengingat malam yang kami lewati. Levin tidak pernah membuatku bernapas lega barang sedetik saja.
Sejak kapan mafia ini pintar memujiku? Aku memindahkan tangannya yang membeli pinggangku. Sungguh tampan ciptaan Tuhan ini, mungkingkah Tuhan sedang tersenyum saat mengciptakannya. Aku bahkan harus mengakui jika dia mapan, tampan dan tentunya dia suamiku hehehe.
Oh ya, hari ini aku akan ke kantor. Detik Levin mengungkapkan cinta kepadaku, takkan kubiarkan Sasa mendekat kepadanya. Aku bukan posesif tetapi lebih baik aku mengcegah sebelum gadis itu merusak rumah tanggaku yang baru saja aku bangung bersama suamiku.
“Pagi-pagi sudah melamun,” tegur suamiku. Aku menoleh dan melihatnya merenggangkan ototnya. Matanya menyipit saat mengucap. Wajah bangung tidurnya terlihat seksi. Apakah aku mulai mesum? Kurasa otakku konslet.
“Cepatlah bangun, Vin. Kamu harus ke kantor,” ujarku sembari menariknya agar duduk. Dia menurut saja.
Cup.
“Morning kiss,” ujarnya dan dia berdiri tanpa rasa malu. Berjalan ke kamar mandi dengan tubuh polosnya. Sialan, mataku harus ternoadai, walau kuakui jika tubuh Levin sangat sempurna di mataku.
Aku meraih kimonoku dan berjalan keluar kamar. Aku menjalankan peranku sebagai istrinya, membuat sarapan. Aku tidak tahu Levin menyukai sarapan berat atau ringan saja. Namun, karena bingung aku menyiapka saja sandwicth untuknya.
“Aku lapar,” ujarnya dan aku menghampirinya sambil membawa sandwicth miliknya.
“Makanlah,” ujarku.
“Kamu tidak mau ikut makan?” tanya sambil menguyah. Aku menggelengkan kepalaku.
“Aku mau mandi.” Dia menghentikan kunyahannya. Meraih tanganku hingga duduk di atas pangkuannya. Aku merasa canggung sekaligus nyaman.
“Maknlah, nanti kamu mandi. Temani aku sarapan,” ujarnya.
“Aku belum mandi dan bau keringat,” ujarku dan bahkan aku tidak memakai pakaian dalam.
__ADS_1
“Aku tidak suka dibantah,” ujarnya yang mulai lagi ke mode menyebalkan. Aku ikut sarapan dengannya, meski rasanya susah bergerak karena duduk di atas pangkuannya. Aku tidak ingin terlalu protes dengan tingkahnya, karena apapun yang dia lakukan selain menyebalkan aku menyukainya.
“Aku memiliki urusan dengan sahabatku,” ujarnya tiba-tiba. Aku menatapnya menuntut penjelasan. Siapa sahabatnya? Jangan-jangan Sasa.
“Gerald Alvin.” Siapa dia? Apakah kalian mengenalnya? Mataku semakin memicing, aku takut dia melakukan pekerjaan gelapnya lagi.
“Dia pria yang kutemui di malam kita keluar hujan-hujan,” ujarnya membuatku mengingat moment dia terkena hipotermia. Aku mengangguk mengerti.
“Kamu jangan kerja jadi mafia,” pesanku membuat dia terkejut. Mungkin dia kaget jika aku mengatahuinya.
“Aku menjalankan bisnisku lewat Gerald.” Aku menghela napas berat. Jika begini bahaya bisa mengintai dirinya, bukan hanya dia tetapi aku juga.
Setelah saraan Levin pamit ke kantor. Dia menyepatkan mengecup kening dan bibirku. Sewaktu-waktu dia bisa menyenangkan. Aku mengiri kepergiannya dengan lambaian tangan.
Ok sekarang aku punya urusan lain. Hari aku ini tidak akan kulepaskan Amel dan Ric. Mereka membuatku marah dan Amel lihat saja apa yang akan kulakukan padamu. Anak yang bodoh.
***
Blaser warna putih dipadukan rok span selutut berwarna hitam memblatu tubuh seksi Zeza. Gadis itu mengenakan antin berbulu berwarna hitam. Kacama mata hitam bertengger manis di hidungnya. Dia menatap laki-laki di depannya dengan pandangan datar.
“Apakah Eonni Zia ada di sini?” tanya Zeza melah bertanya balik.
“Dia sedang melakukan operasi,” ujar pria itu yang tak lain adalah Jimin.
“Aku ingin memperingatkan satu hal padamu, Oppa. Anakmu ... Amel terlah diracuni pikirannya oleh Ric,” ujar Zeza tenang. Jimin memijat keningnya, putrinya kemarin datang dan mengadu jika Zeza sakit hati karena dia berpacaran dengan mantan kekasihnya.
“Apakah kamu tidak bisa mencintai Levin?” tanya Jimin membuat Zeza mendengus kesal.
“Aku mencintai suamiku,” ujar Zeza tegas.”Namun, aku tidak akan membuat keponakanku sendiri terjerumus pada hal buruk,” lanjutnya penuh penekanan.
“Atas dasar apa kamu menuduh Ric bukan lelakai baik?” Bukan, suara tu bukan suara Jimin, tetapi suara gadis yang yang menatap Zeza tajam. Seketika suana menjadi tegang, mereka bersitenggang.
“Kau itu bodoh, Ric hanya akan mengcampakkanmu,” ujar Zeza membuat Amel mendekat ke arahnya. Amel melayangkan tamparan dan tentu itu tidak mengenai permukaan wajah Zeza. Zeza menahan tangan Amel.
__ADS_1
“Jangan biarkan aku mematahkan tanganmu,” ujar Zeza tidak main-main. Dia menghempaskan tangan Amel membuat gadis itu meringgis sakit.
“Oppa sebaiknya kau atasi ini, aku pastikan nyawa Ric Argas akan melayang.” Jimin terkejut mendengar ucapan adiknya.
“Zeza! Kamu jangan main-main dengan nyawa!” bentak Jimin. Jimin seolah tersentak dengan memori yang merasuki pikirannya. Dia dulu bahkan membunuh dengan mudah, dia frustrasi melihat adik semata wayangnya.
“Kuharap kau tidak bersikap seperti Ah Moon. Dia memang mendidikmu keras ketika menculikmu, bukan berarti kamu harus bersikap sama dengannya,” ujar Zeza membuka memori lama. Dia diceritakan bagaimana Amel anak pertama Jimin diculik hingga menyebabkan perceraian Jimin dan Zia. Ah Moon—gadis itu direhabilitas dan kabarnya sudah keluar rumah sakit.
Sementara Ahin dan Seungri, mereka hidup bahagia, walau Ahin dipenuhi penyesalan termat dalam. Dia mendapat karma tidak bisa hamil. Akhirnya wanita itu mengadopsi anak dan beruntung Seungri termat mencintainya. Hanya kabar soal Ah Moon samar-samar jika wanita itu mengalami kebangkuratan. Entah dia hidup bersama Ahin atau malah hidup di jalanan.
“Zeza,” tegur Jimin sambil memijat keningnya. Anak dan adiknya tidak pernah akur.
“Jaga ucapanmu sialan!” teriak Amel marah. Matanya dipenuhi kilat marah. Zeza berang diteriaki, dan dia mengcengkram rahang Amel di depan Jimin. Sontak perlakuannya membuat Jimin kaget bukan main.
“ZEZA! Kamu menyakitinya!” teriak Jimin.
“Aku akan membunuhnya!” teriak Zeza marah. Tubuh Amel dan tubuhnya jatuh di lantai. Jimin berusaha melarinya tetapi tubuh Zeza bagai kesetanan. Dia membuat Amel kesakitan, dan mata gadis itu berkca-kaca. Kuku panjang Zeza menembus kulitnya.
“ZEZA!” teriak Zia melihat anaknya hampir mati di tangan Zeza.
“Uhukkk uhukkk.” Amel terbatuk parah dan pipinya berdarah. Zia memeluk putrinya erat. Jimin menatap marah adiknya.
“Dia keponakanmu Zeza!” bentak Jimin marah.
“Karena dia keponakanku akan kuajari dia sopan santun.” Zeza tidak takut sama sekali. Justru tatapannya terlihat marah saat Jimin membentaknya. Zeza tidak akan mundur, tidak ada yang bisa membuat kakinya bergetar takut selain suaminya.
“Atasi anak sialanmu, sebelum tanganku benar-benar menghancurkannya. Akan kutunggu kabar putusnya, jika masih pacaran dengan Ric ... jangan salahkan dia—“ Zeza menunjuk Amel dengan dagunya.”—Mati,” lanjutnya penuh ancaman.
“ZEZA!” Jimin semakin marah dengan adiknya.
“BERHENTI MEMBENTAKKU! AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN SIAPAPUN MEMBENTAKKU TERTUTAMA OPPA!” teriak Zeza marah. Dia melempar vas bunga di meja Jimin hingga pevcah saat terbanting di dinding.
“Camkan ucapanku.” Zeza keluar dari ruangan Jimin sambil membanting pintu. Kepergiaan Zeza ditatap tajam oleh Amel.
__ADS_1
TBC
Jejak