Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
23


__ADS_3

Hari ini aku up gila-gilaan ya guys :) stay untuk dapat noticenya :)


Seorang laki-laki keluar dari Hotel Green VI. Dia akan mengunjungi sebuah pesta yang disungguhi oleh mitra Mathanan. Tebak dia di mana sekarang? Tentu saja dia Miami bersama tangan kanannya, Gerald.


Dengan langkah kaki tenang, dia masuk di Ruangan yang di dekor sedemikian rupa. Bibirnya menampilkan seringai licik. Tentu di balik jas mahalnya ada pistol yang siap menanti untuk dikeluarkan.


“Wow senang bertemu denganmu Levin Aldrick. Aku terkesan atas kehadiranmu di pesta Miami,” ujar Ric dengan tawa meremehkan.


“Tidak heran lagi, setiap yang bertemu denganku akan terkesan,” ujar Levin dingin.


“Hallo, Dude. Biarkan dia menikmati pesta ini.” Ini dia yang paling ditunggu Levin. Bared Antonio—paman Ric. Dia adalah dalang dari hilangnya senjata dan cocain miliknya. Biarkan dia merasakan akibatnya.


Beberapa tamu tentu terkesan melihat sosok Levin berada di Miami. Mereka tahu bisnis gelap pria itu dijalankan oleh Gerald. Namanya sangat berpengaruh dan mereka bukam mulut melihat Ric berani bermain-main dengan Mafia itu.


“Udara segar di Miami terlalu kau rindukan bukan?” tanya Bared kepada Levin. Levin berpura-pura tidak tahu jika laki-lkai tua di depannya yang mengambil miliknya.


“Tentu Bared. Aku sangat merindukan suasana di Miami.” Bared tertawa mendengar ucapan Levin. Dia bahkan menepuk pelan pundak Bared.


“Kudengar kau sudah menikah dengan gadis Korea. Aku pikir seleramu orang London atau Miami ternyata kau menikah dengan orang Korea.”


“Aku akan memilih yang terbaik untukku.” Levin mendengus. Dia meraih cairan merah yang dituangkan di gelas. Menenguknya sampai tandas.


Prang!


DOR!


DOR!


Suara tembakan itu membuat Bared segera mengeluarkan pistol sedangkan Levin di dekatnya langsung menendang tangan Bared. Pistol itu jatuh ke lantai, dengan sigap anak buah Bared mengarahkan pistol ke arah Levin.


“BEDEBAD!” teriak Bared.


“Itu aku!” Levin menyeringai.


Suasana di pesta memanas dan menengangkan. Smeua tamu mengangkat tangan saat melihat keadaan mulai tidak baik. Apalagi ini melibatkan mafia kelas Internasional seperti Levin. Pria itu terkenal kejam dan tidak punya hati.


“Kau akan mati,” ujar Levin tanpa eskpresi. Dia kembali menjadi Levin yang dulu, kejam dan tak tersentuh. Kedua matanya hanya menyorot penuh kebencian.


Zretttt!

__ADS_1


Levin meringis saat pisau kecil mengenai lengannya. Dia melirik melalui ekor matanya. Levin menggelungkin badannya ke depan saat tima panas mencoba mengenainya.


“Sial!” umpatnya.


Bared melarikan diri, sedangkan Ric masuk ke dalam mobilnya. Anak buah mereka mencoba menghalangi Levin. Bukan Levin namanya jika dia tidak bisa mengejar Ric. Mereka mengedarai mobil dengan kecepatan di atas.


Aksi kejar-kejaran mobil mereka di jalanan umum. Levin menggeram saat dia melihat Ric gesit menyalip mobil. Dia menancap pedal gasnya dan akan membabi buta Ric.


Citttttt!


Hampir saja dia menbrak kenadaraan lain. Kini mereka berada di jalan poros. Langit yang gelap semakin gelap saat mereka memasuki kawasan yang dipenuhi pohon-pohon hijau sepanjang jalan. Mata Levin tak pernah lengah memandnag mobil di depannya.


DOR!


Levin menatap kaca spionnya dan ternyata anak buahnya dan anak buah Ric ikut. Dia melajukan mobilnya kencan sampai menekan remnya. Mobil Ric berhenti ternyata Gerald di depan menghadang jalan mereka.


“Hahaha keluarlah Bajingan!” seru Gerald.


Ric dan Bared keluar dari mobil mereka. Mereka keluar tentu tida dengan tangan kosong.


“Apa maumu brengsek?!” teriak Ric. Rahangnya mengeras. Pistolnya mengrah kepada Levin.


Bukan takut Levin malah tertawa menyeramkan di heningnya malam. Dia maju ke depan tanpa rasa takut.


“Jangan heran aku tahu di mana, mitra kerjasamu dari Mathanan Welzi lebih bodoh dan mudah diperdaya. Kau pikir dia di mana?” tanya Levin. Seketika anak buahnya mendorong mayat Welzi yang berbujur kaku.


“Sialan!” umpat Ric.


“Sekarang kau akan mati, sama dengannya,” ujar Levin. Anak buah Ric dan Bared sudah rata di tanah.


“Apa motifmu melakukan ini?” tanya Ric marah.


“Pertama masalah senjata dan cocain, kedua kau berusaha mengusi klanku. Kau pikir aku tidak tahu. Dengar ... yang ketiga kau berani melecehkan istriku di depan mataku dan kau pikir aku membiarkan kau menghinanya?” Levin membuat wajah Ric memucat.


“Amel juga kau bodohi. Kau pikir kejahatanmu tidak tercium?”


“Hahahaha.” Ric tertawa keras. Dia menatap Levin tajam, entah di mana dia mendapat keberanian itu.


“Keluarga Park memang bodoh!” teriaknya membuat anak buah levin reload pistol mereka dan mengarahakan pada kedua orang itu.

__ADS_1


“Kau cemburu? Bahkan tubuh Zeza sudah kucicipi,” ujar Ric membuat amarah Levin di atas ubun-ubun.


“Amel terlalu bodoh dan tebak, Pulau Di LA menjadi milikku. Gadis itu mencuri sertifikat itu dari Daddynya sendiri.” Rahang Levin makin mengeras.


Bugh!


Dia akhirnya punya alasan lebih berat untuk membunuh pria itu. Dengan sekali tarikan dia menarik pelatuk walau Levin harus menerima palutk dari Bared dan juga Ric. Tubuh mereka tumbang ke tanah.


“levin!” teriak Gerald. Dia menembak kepala Ric hingga pria itu mengembuskan napas terakhirnya. Levin ditebak tepat di dadanya. Napasnya tersenggal. Gerald memerintahkan anak buahnya agar membantunya membawa Levin ke Rumah Sakit.


“Kau punya luka serius,” gumam Gerald melihat Levin menutup mata.


“CEPAT!” bentaknnya membuat anak buahnya gemetaran.


***


Prang!


Zeza, Sasa dan Guar kaget bukan main saat petir menyambar. Langit yang gelap mulai marah. Dia menumpahkan semua isinya. Sepertinya ada badai.


“Kamu menginaplah di sini Guar,” gumam Zeza. Hatinya mendadak tidak tenang.


“Aku juga tidak bisa pulang jika badainya besar,” ujar Guar.


Zeza tersenyum dan berdiri. Dia pamit ke kamar dan tatapannya jatuh pada foto pernikahannya dengan Levin. Bibir Zeza tersenyum melihat mereka berdua berpose dengan terpaksa.


“Aku khawatir denganmu. Sepertnya aku terlalu merindukanmu. Aku mohon baik-baik saja karena aku merasa cemas,” lirih Zeza.


Dia menatap ponselnya dan melihat jam 2 malam. Ini sudah terlalu larut malam, dia tersenyum melihat pesan dari suaminya. Seharian ini Levin tidak memberinya kabar. Pekerjaan pria itu membuat Zeza merasa diduakan.


~Jaga kesehatan dan ingat makan. Aku tidak mau pulang istriku kurusan dan jangan pernah menerima endors pakaian seksi.


Kira-kira itulah pesan Levin membuat Zeza tertawa. Sepertinya suaminya tidak bisa lupa kejadian dia memakai piyama seksi saat dia photoshop.


~Pulanglah dengan cepat, aku akan mekan banyak dan gemuk.


Zeza mengirim pesan kepada suaminya. Dia tertawa sendiri membayangkan dia jadi gemuk. Lima menit menunggu balasan Levin tidak ada, sepertinya suaminya tidur.


“Hm, aku akan tidur. Tapi, hatiku tidak tenang,” ujar Zeza.

__ADS_1


TBC


Jejak :)


__ADS_2