
Kicauan burung di pagi hari mengusik tidur lelap gadis yang bisa dipastikan badannya termat sakit. Dia merenggakan ototnya dan menoleh ke kasur. Suaminya masih terlelap. Dia memutuskan untuk ke kamar mandi.
Setelahnya dia turun ke bawah dan mendapati Aeri bersama Jungkook. Zeza tersenyum tipis melihat Aeri dan Jungkook tetap mesra di usianya yang tak mudah lagi. Rambut mereka berdua yang tak lagi memutih menandakan betapa awetnya pernikahan mereka.
“Zeza,” panggil Aeri lembut. Zeza bahkan hampir tidak pernah melihat wanita itu marah. Beruntung sekali Jungkook mendapat pendamping hidup seperti Aeri. Dia juga merasa Aeri beruntung medapat Jungkook.
“Meskipun Duda, dia sangat pengertian kepada istrinya,” ujar Zeza dalam hati. Dia melangkah ke arah Aeri.
Zeza POV
Aku membantu ibu mertuaku memasak. Suara di luar mulai ramai dan ternyata mereka sudah memberi kabar kepada keluarga besar. Dapur yang hanya kuisi dengan mom tadi kini bertambah banyak.
“Grandama sepertinya harus memask banyak,” celutuk Avy. Dia gadis yang doyang makan banyak.
“Tentu, Nak. Di mana Mommymu?” tanya mom kepada Avy.
“Mommy sedang bersama daddy,” ujar Avy sambil mencomot kue buatan Aeri.
“Em, Aunty ... di mana Uncel?” tanya kepadaku.
“Dia di kamarnya,” ujarku sekenanya. Dia manggut-mangut dan terus makan. Tiba-tiba suara gaduh terdengar di luar. Aku hanya memasang wajah datarku, memang akan heboh jika keluarga besarku berkumpul.
“Jadi, Eyang tidak ikut?” tanyaku kepada Avy. Jeneni biasanya aku panggil Eyang, usianya sudah sangt tua dan dia bersama Eyang Rudiger lebih memlih menghabiskan sisa hidupnya di mansion besar milik mereka yang dekat dengan pemandangan.
“Tidak, Eyang tidak bisa.” Aku manggut mengerti. Aku juga merindukannya, mereka sering mengajakku dulu jajan hingga sekarang usia mereka membuatnya cepat lelah.
“Kamu bangunkan Levin, Nak. Kamu juga bersiap-siap,” ujar mommy. Aku mengangguk dan mencuci tanganku. Aku dan Levin belum mempersiapkan pakaian dan harus kembali ke rumah yang hanya di pishkan rumah Ryung.
Di kamar benar saja, Levin masih tidur. Aku mendekat ke arahnya dan mengguncang badannya. Dia menggeliat dan menutup wajahnya dengan selimut. Aku menatapnya jengah. Betapa tersentaknya aku saat dia membuka selimutnya tiba-tiba.
__ADS_1
“Ck,” decaknya dan melangkah pergi ke kamar mandi. Pria aneh.
Aku meninggalkannya karena dia punya baju di sini sementara baju ada di rumahnya. Aku tidak mungkin mengatakan ini rumahku, pria itu bahkan mengingatkanku tiap menit untuk tahu abhwa aku hanya menumpang di rumahnya.
Aku sudah mandi dan memasukkan beberapa bajuku dan bajunya di koper kecil. Saat aku menyusun baju Levin masuk dengan wajah segar miliknya.
“Kalau sudah cepetan,” ujarnya ketus.
Aku mengabaikannya dan menarik koper keluar. Dia memasukkan koper kami di begasi. Aku naik di mobilnya dan memasang sabuk pengamanku. Mobil keluargaku juga berjejeran, hingga kami berangkat menuju Villa Jeju I’Ve Resort. Mereka memang memilih liburan di Jeju.
***
Levin dan Zeza sama-sama terdiam di dalam mobil. Bahkan teramat hening karena tiada alunan musik menemani perjalanan mereka. Zeza menatap pemandangan yang mereka lewati. Ponselnya bergetar dan mendapat chat dari Guar.
~Kamu tidak mengatakan jika kita liburan di Jeju. Kalau aku tahu akan membawa hanbok.
Itulah isi pesan Guar membuat Zeza tersenyum tipis. Kebiasaan pria itu suka memasang hanbok ketika pergi berliburan tak pernah berubah. Pasti Levin mengira liburan ini dihabiskan dengan tempat wisa yang di sediakan resort itu saja.
Levin menoleh sebentar melihat Zeza. Dia menatap ke depan dan mulai mengalungkan musik. Dia sengaja memasang musik kencang, terbukti Zeza menggeliat dari tidurnya. Dia menatap tajam Levin yang terlihat cuek.
Klik.
Zeza mematikan musik yang diputar Levin.
Klik.
Levin kembali menyalakannya dan Zeza memberenggut tidak suka. Dia menguap dan menatap Levin jengkel.
“Gue ngantuk banget, bisa gak sih lo gak ganggu gue sehari aja?” tanya Zeza dingin.
__ADS_1
“Gua gak merasa ganggu lo.” Levin menampilkan raut wajahnya yang acuh. Persetan jika Zeza marah.
“Lo kekanakan banget,” gerutu Zeza di dengar Levin.
“Terserah gua,” ketus Levin yang membuat Zeza memandang keluar jendela. Menatap wajah Levin membuatnya muak banget.
Selama di perjalanan Zeza benar-benar tersiksa dengan kantuknya. Dia bernapas lega setibanya di pulau Jeju. Dia menatap penginapan yang menjulang tinggi di hadapannya.
“Indah.” Satu kata mewakili perasaan Zeza saat menatap penginapan itu.
Levin menarik kopernya diikuti Zeza dan yang lainnya. Guar dan Levin menatap satu sama lain. Smapai Guar melempar senyum kepada Zeza. Zeza membalas senyum Guar.
“Cepetan,” ketus Levin membuat Zeza kesal. Dia mengikuti langkah lebar Levin. Pria itu seolah sengaja membuatnya susah menyamai langkahnya.
Levin menatap kamarnya yang akan ia tempati bersama Zeza. Kamar yang mewah dan jendela menghadap pemadangan. Zeza mengucap syukur dalam hati saat melihat dua kasur ukuran sedang dan besar di sana.
Dia melempar dirinya di kasur ukuran sedang miliknya. Wajahnya terlihat lega saat menyentuh bantal. Zeza memejamkan mata dan terlelap sekali.
Levin menaruh koper mereka asal dan dia berjalan ke balkom. Angin sejuk menyambut kedatangannya. Pemandangan dari sini emang memanjakan mata. Fasilitas yang disediakn juga lengkap. Ada kolam renang luas dan jangan lupa pohon-pohon yang mengelilingi jalanan setapak.
Levin menoleh dan melihat Guar memandang hamparan pemandangan juga sama sepertinya. Wajah Levin lebih dingin dari sejuk angin saat ini. Guar menatapnya datar. Levin tahu jika Guar dan Zeza memiliki hubungan lebih dari sekadar sahabat. Gadis itu hanya akal-akalan saja mengatas namakan sahabat. Di mata Levin Zeza memang gadis buruk.
Levin memutuskan untuk masuk dan mandi. Malam ini mereka akan makan bersama. Levin juga membawa laptopnya diam-diam. Ada pekerjaan penting yang harus ia kerjakan. Sudah dikatakan dulu, bisnis gelap Levin tetap berjalan tetapi yang menjalankannya orang kepercayaannya. Dia masih ikut andil untuk bisnisnya.
Masalah berat akan membuat ia ikut membantu. Bisnis itu juga memiliki kesan untuknya sendiri. Setelah mandi Levin melihat Zeza mengucek matanya baru bangun tidur. Gadis itu beranjak dari kasur dan melepas hig helsnya.
Zeza melirik Levin yang sedang mengerjakan sesuatu di laptop pria itu. Dia pikir hanya dirinya gila kerja ternyata pria itu lebih gila darinya. Zeza memutuskan untuk mandi dan keluar menggunakan bathrobe putih.
Kepalanya ia bungkus dengan handuk kecil berwarna putih juga. Memang bener kata orang, Zeza sangat cantik. Bahkan wajah tampa make upnya itu sangat cantik. Dia mengabaikan Levin yang menatapnya.
__ADS_1
TBC
Jejak heheh masih belum akur ya pengantin baru kita hahahaha. Follow guys, dan terimakasih jika sudah difollow :D