Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
24


__ADS_3

“Huekkkk huekkk  ....” Zeza berlari ke kamar mandi. Dia lemas sekali, sejak tadi dia muntah-muntah. Sasa dan Guar panik melihat wajah pucat Zeza. Mereka ingin mengantar Zeza ke rumah sakit tetapi wanita itu keras kepala sekali. Dia menolak dan menganggap sedang masuk angin.


“Sebaiknya aku antar kamu ke Rumah Sakit,” bujuk Guar kesekian kalinya. Zeza menggelengkan kepalanya menolak. Dia tidak ingin ke Rumah Sakit, toh dia hanya masuk angin.


“Sebaiknya kamu antar Sasa ke Sekolah,” lirih Zeza. Dengan berat hati mereka berdua meninggalkan Zeza. Guar sudah berpesan kepada Ryung saat dia berpapasan di depan rumah pria itu.


Zeza POV


Aku masih khawatir sekali dan terus memikirkan Levin. Dia sama sekali belum membalas pesanku semalam. Aku juga tidak tahu kenapa masuk angin tiba-tiba begini, mungkin karena semalam hujan deras.


Ckleat.


“Mommy,” lirihku.


“Kamu sakit, Nak. Kenapa gak bilang sama Mommy,” tanya Mommy Aeri dan meletakkan telapak tangannya di atas keningku. Aku tersenyum tipis melihat dia khawatir sekali kepadaku.


“Sebaiknya kamu di bawah ke Rumah Sakit,” ujarnya yang kutolak mentah-mentah. Aku merasa kembali mual. Aku beranjak dari kasur dan memuntahkan cairan bening. Tubuhku lemas dan untung Mommy Aeri menahanku jika tidak aku akan jatuh.


“Sebaiknya kamu  ke rumah sakit, Nak,” bujuknya yang kudengar samar-samar. Pandanganku berputar dan semua gelap. Aku tidak tahu selanjutnya apa yang terjadi.


***


Di rumah sakit keluarga Zeza berkumpul. Mereka semua khawatir apalagi Zeza orangnya tidak mudah sakit. Dokter keluar dari ruangan Zeza dengan senyum ramahnya.  Apalagi ini Park Hospital milik Jimin.


“Selamat pasien Hamil  baru menjelang seminggu,” ujar Dokter itu membuat raut khawatir di wajah mereka berubah jadi raut wajah bahagia. Setelah mengucapkan terima kasih mereka kepada dokter mereka masuk ke dalam ruangan Zeza.


Terlihat Zeza berbaring lemas. Dia menoleh saat pintu berdecik.


“Mom,” lirihnya saat melihat Yuna menghampirinya. Yuna mengelus kepala putrinya.


“Selamat Sayang, kamu hamil,” ujar Yuna senang. Zeza ikut senang dan tangannya meraba perut datarnya.


“Pasti Levin bahagia kalau mendengar aku hamil,” batin Zeza. Dia jadi tidak sabar menanti kepulangan suaminya. Dia akan memberikan Levin kejutan atau diakah yang akan menerima kejutan? Hanya Tuhan yang tahu.


“Kamu mau makan apa, Nak?” tanya Yuna antusiasi. Semua tertawa melihat Yuna begitu semangat melihat putrinya hamil.


“Aku tidak ingin makan apa-apa, Mom,” tolak Zeza. Dia mendapat banyak ucapan selamat sebelum keluarganya hendak keluar menyisahkan dia dengan ibunya.

__ADS_1


Brak!


Pintu terbuka kasar dan seorang gadis masuk berderai air mata. Dia berteriak histeris dan mendekati Zeza dengan tatapan kebencian.


“ARGHHHHHH!” teriaknya marah dan mecabut paksa infus Zeza. Entah apa yang merasukinya, dia menarik baju Zeza dan menampar keras Zeza. Semua tercengan melihat Zeza ditampr oleh Amel.


“AMEL!” teriak Jimin marah.


“HIKSSS KAU HARUS MATI!” teriak Amel mengcekik Zeza. Jika Zeza tidak lemas pasti dia membalas Amel. Namun, dia terlalu lemah untuk melawan.


“Akhh!”


Jimin menarik Ame, sedangkan Zeza terbatuk-batuk. Darah berceceran di lantai dan pakaiannya akibat jarum infusnya. Zeza merasa tubuhnya lemas sekali. Dia muraup udara dengan rakus.


“APA YANG KAU LAKUKAN?!” tanya Jimin marah kepada anaknya. Amel memberontak dan menangis tersedu-sedu. Dia menunjuk Zeza marah.


“HIKSS DIA DAN SUAMINYA HIKSS PEMBUNUH! DIA MEMBUNUH PACARKU DADDY HIKSS  ... DIA PEMBUNUH!” teriak Amel membuat kelurganya bingung. Zeza memejamkan mata dan bersikap tenang.


“Keluarkan dia, kondisi Amel sedang kacau,” ujar Heseok. Zia menarik putrinya keluar sebelum mengamuk kembali.


Dada Aeri berdegup kencang, perasaannya tidak tenang sejak semalam. Dia jadi cemas jika ucapan Amel benar, dia tidak percaya jika putranya kembali pada bisnis gelapnya. Dadanya mencolos jika itu benar terjadi.


“JAWAB ZEZA!” bentak Heseok.


Zeza menangis membuat dada Heseok mendidih. Tanpa Zeza jelaskan mereka tahu jika kematian Ric karena Levin. Heseok menjadi marah dan gusar. Dia tidak ingin putrinya bersama Mafia.


“Sialan!” umpatnya. Yuna sudah menangis melihat putrinya yang tersedu-sedu.


“Daddy ... Levin tidak akan melakukan ini tanpa alasan,” ujar Zeza membela suaminya.


“DIAM! Kamu dan Levin tidak akan bersama.” Heseok meninggalkan kamar inap Zeza. Tangis Zeza semakin pecah. Dia meronta-ronta dalam dekapan ibunya.


“TIDAK! AKU AKAN TETAP BERSAMA LEVIN! DIA TIDAK SALAH HIKSSS!” Zeza merasa dunianya hancur. Dia tidak mau dipisahkan dengan Levin, baru saja dia merasa kelarga kecilnya akan bahagia, justru hubungan mereka ditentang.


“Hiksss ....” Keluarga mereka keluar satu per satu.


“Mommy hiks,” lirih Zeza. Yuna mengelus punggung putrinya.

__ADS_1


“Mommy akan bicara sama Daddy, nak,” ujar Yuna.


Zeza tidak peduli lagi dengan kesehatannya. Bahkan ketika dokter dan suster memasang infusnya kembali. Dia hanya diam sejak tadi. Saat semua pergi di ruangannya tangisnya kembali pecah.


“Hikss Sayang, Mommy yakin kita akan selalu bersama Daddy,” lirih Zeza. Tangisnya makin kencang mengingat suaminya belum ada kabar sama sekali.


“Hikss ... hikss ... Vin,” lirihnya. Berharap Levin mendengar tangisannya. Zeza butuh Levin saat ini mendekapnya dan mengatakan bahwa mereka tidak akan berpisah kecuali maut yang memisahkan mereka.


Zeza merasa perutnya termat sakit. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Matanya terpejam saat dia meringgis.


“Zeza!” Yuna menghampiri putrinya yang kesekitan.


“Dokter!” teriak Yuna.


“Hiksss Mommy sakit,” rintih Zeza.


Dokter masuk dan panik melihat Zeza. Mereka memeriksa keadaan Zeza dan Yuna keluar di ruangan. Dia tahu kesedihan putrinya tetapi dia tidak bisa melawan suaminya. Sulit membujuk suaminya untuk saat ini.


“Akhhhhhh sakit,” rintih Zeza.


“Tarik napas dan embsukan pelan-pelan.” Zeza melakukannya. Dia mengalami kram karena terlalu tertekan dan banyak pikiran. Zeza baru tidur karena pengaruh obat. Matanya sembab dan hidung memerah.


“Hikss jangan banyak pikiran, Nak,” bisik Yuna. Dia mengenggam tangan Zeza erat. Suaminya masuk sambil menghela napas berat. Dia berat melakukannya tetapi ini semua demi kebaikan putrinya.


“Zeza sampai tertekan,” ujar Yuna.


“Ini semua demi kebaikannya. Aku tidak akan tenang melihat putriku bersama Mafia,” ujar Heseok dingin. Dia bertekad akan memisahkan Levin dan Zeza.


“Kamu tidak melihat keadaan Amel, dia histeris karena kekasihnya mati. Kamu pikir ini perbuatan siapa? Dia bukan hanya akan menyakiti Amel tetapi juga putri kita,” ujar Heseok tegas. Yuna tidak bisa membantah ucapan suaminya. Apalagi dia tahu pernikahan putrinya bersama Levin berdasarkan perjodohan.


“Hikss Mas, Levin tidak mungkin melukai putri kita,” bujuk Yuna.


“Jangan membantahku. Saat ini belum, tetapi siapa yang bisa menjamin kesalamatan Zeza?” Yuna semakin terisak. Putrinya akan sedih sekali. Heseok sangat keras kepala mungkin karena itu Zez juga keras kepala.


TBC


Jejaknya :)

__ADS_1


__ADS_2