Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
20


__ADS_3

Up yang ke-3 kalinya harap jejaknya.


.


Asap nikotin yang keluar di bibir pria yang tengah duduk menyilangkan kakinya. Bossy—itulah sikapnya. Matanya menatap datar pria di hadapannya.


“Malam ini lakukan aksi kita,” ujarnya.


“Aku rasa cocain dan senjata kita berada di tangan orang kepercayaan Ric. Pria itu ada di Korea santai-santai. Kamu sendiri mengatakan jika dia bahkan melakukan pemotretan,” ujar Gerald.


“Dia menemui istriku untuk menjatuhkannya,” ujar Levin. Dia akan membalas rasa sakit hati istrinya itu.


“Baiklah, langkah apa yang akan kita lakukan?” tanya Gerald.


“Cari anak buah Ric beserta tangan kanannya. Jangan ada pertumpahan darah di Korea, lakukan itu di Miami. Aku akan mengecoh Ric hingga dia meninggalkan Korea. Sasaran utama kita juga adalah Bared, dia paman Ric yang rakus.” Gerald mengangguk.


“Bagaimana dengan Amel? Kau tahu, dia kekasih Ric, bisa pastikan jika pacarnya mati,” ujar Gerald.


“Jangan lupakan siapa aku. Tidak ada yang lebih penting dari istriku sendiri,” ujar Levin dingin.


“Baiklah. Ini senjata untukmu, sebaiknya kita berangkat sekarang.” Gerald dan Levin berjalan meninggalkan Apartemen pria itu. Dengan mobil BMW hitam mereka mebela kota Seoul.


Bibir Levin menyeringai saat melihat  Welzi bersama rekan patnernya. Welzi adalah mitra kerja sama Ric dan dia tidak akan melepas pria tua itu. Mereka turun dari mobil dengan jas mahal mereka. Kedatangannya disambut hangat oleh mereka.


“Bedebah.” Levin membatin dengan tawa mengejeknya.


“Lakukan dengan bersih,” bisik Levin kepada Gerald.


Di tangga turun seorang pria dibalut jas hitam. Wajahnya tampak bersinar malam ini. Dia menjadi pusat perhatian, tetapi keadatangan Levin di tengah-tengah membuat pria itu menjadi pusat perhatian.


Tatapan lapar wanita menatap Levin yang memasang wajah dinginnya. Saat rekan Ric datang, levin hanya tersenyum dingin. Kompolotan dari Mathanan ini tidak akan bisa mengelabuinya. Beryukurlah mereka ada di Korea, jika tidak nyawa mereka sudah melayang.


“Wah ... bagaimana kabarmu Jung Levin Aldrick?” tanya  Welzi disambut kekehan khasnya. Dia menepuk bahu Levin.


“Tentu lebih baik,” ujar Levin dengan santai.


“Bagaimana menghirup udara di Korea daripada di Mathanan Mr. Welzi?” tanya Levin menyindir. Pria itu tertawa keras bersama rekannya. Tangan Levin gatal ingin meremukkan wajah mereka.


Gerald sendiri mengatur strategi saat Levin berbincang dengan mereka. Terbukti saat dia mengendap masuk ke dalam ruangan privasi Welzi, tidak ada yang menyadarinya.


Bibir Gerald tersenyum saat menemukan yang dia cari. Tatapannya jatuh pada seorang pria bermata biru. Dia tidak asing dengan pria itu, hingga dia membaca namanya.


‘Guar Argas’

__ADS_1


“Siapa dia?” batin Gerald.


Seseorang yang menyandang marga Argas tentu dia saudara kandung dari Ric Argas. Fatka baru yang ia ketahui, lalu di mana pria itu sekarang? Gerald meninggalkan ruangan Welzi sambil membawa beberapa dokument penting lainnya.


Tidak disangka dalam pesta itu seseorang dengan dress putih mengejutkan mereka semua. Mata tajam dan wajah angkuh gadis itu berjalan di atas karpet merah. Sosoknya seolah bagaia emas yang berada di tumpukan pasir.


“Wah sosok Jung Park Zeza berada di pestaku,” ujar seseorang disertai tepuk tangannya. Matanya menandang remeh Zeza, bukan marah gadis itu melah mengangkat dagu tinggi. Siap menentang Zeza? Maka persiapkan mentalmu.


Zeza menyeringai dan berjalan ke arah pria itu. Levin terkejut bukan main melihat istrinya di pesta ini. Di luar ekspestasinya dan untuk apa istrinya berada di pesta Welzi? Sejak kapan Ric Argas datang ke pesta? Semua menjadi pertanyaan yang bertubi-tubi untuknya.


“Zeza  ... Zeza ... Aku yakin kau akan datang mengingat kau mengacaukan hari kekasihku. Kau terlihat seperti seorang mantan yang sangat kehilangan,” ujar Ric keras. Kekehan memenuhi ruangan itu. Levin mengepalkan tangannya tetapi dia tetap diam.


Zeza tidak menampilkan raut waja marahnya. Dia sangat tenang, setenang air di danau. Zeza mengintari tubuh Ric dan berhenti saat dia tiba di depan pria itu. Bibir merah menyalanya tersenyum mengejek.


“Jangan permalukan dirimu sendiri Ric. Tidak mungkin model kelas atas sepertiku mencintai pria murahan sepertimu,” ujar Zeza santai. Beberapa tamu undangan tercekat melihat bagaimana Zeza menantang Ric. Diam-diam anak buah Ric menyiapkan pelatuk.


“Sial,” umpat Levin dalam hati.


“Kau sungguh melempar dirimu di kandang singa Zeza,” ujar Ric yang tersulut emosi. Tawa Zeza menggelegar membuat tamu semakin terkagum dengan aksinya.


“Kupikir ini memang kandang yang disedikan untukku untuk  ....” Zeza maju dan mendekatkan bibirnya di telinga Ric.”—mangsa sepertimu,” bisiknya penuh penekanan. Rahang Ric mengeras.


“—kau!”


“Turunkan senjata bodo kalian,” ujar Zeza yang kini berada di belakang Ric. Tangannya memgan pistol sambil menempelkan di kepala Ric. Levin dan Gerald tercengang. Anak buah Ric mengeluarkan senjata dan mengcukannya kepada Zeza.


“Sekali tarikan maka tima ini akan menebus kepalamu. Kurasa neraka terlalu merindukanmu Ric. Aku adalah malaikat pencabut nyawamu,” ujar Zeza tenang. Ric dibuat diam kaku.


“TURUNKAN SENJATA KALIAN!” bentak Zeza. Matanya menatap tajam mereka, tetapi dia tidak lengah menatap Ric. Levin tahu situasi akan kacau, jika Zeza menembak Ric, pasti pria itu mati bersama dirinya. Levin tidak mau jika istrinya mati.


“Turunkan senjata kalian,” ujar Levin sambil berjalan ke depan. Zeza terpaku melihat sosok suaminya. Mata Zeza tidak sedetik pun lengah.


“Kemarilah, Sayang,” ujar Levin lembut.


“Aku ingin menghabisinya,” desis Zeza sambil menekan pistolnya. Sabarlah Zeza, suamimu juga ingin menghabisinya.


“Zeza,” panggil Levin tegas. Zeza memejamkan mata dan menyiku Ric membuat pria itu geram.


“Jangan sentuh milikku,” ujar Levin dingin saat Ric ingin mengcekal tangan Zeza.


Zeza berjalan ke arah suaminya dengan wajh datar. Dia menatap Levin protes.


“Selangkah lagi kepalanya pecah,” desis Zeza membuat Levin menahan tawa. Istrinya terlihat menggemaskan. Levin semakin mencintai zeza. Mereka meninggalkan pesta itu, yang penting berkasnya sudah ada di tangan Gerald.

__ADS_1


“Pulanglah, aku ikut dengan istriku,” ujar Levin kepada Gerald. Pemuda itu mengangguk.


Zeza dan Levin berjalan ke mobil Zeza. Dalam perjalanan Zeza dan Levin sama-sama bukam. Tangan Zeza tiba-tiba hangat saat Levin mengenggamnya.


“Kamu terlihat masih marah.” ujar Levin.


“Kamu menyebalkan, aku bisa membunuhnya detik itu juga,” ujar Zeza kesal.


“Jangan lakukan itu, aku hampir terkejut mendengar berita bahwa aku duda karena istriku mati nekat membunuh orang di pesta,” ujar Levin membuat bibir Zeza berkendut menahan senyum. Dia memukul bahu suaminya.


Ponsel Levin berdering menampilkan nama Sasa.


“Jangan temui dia lagi atau aku akan membunuhnya,” ujar Zeza santai. Levin mengangkat telepon Sasa. Benar dugaan Zeza, Sasa mengajaknya bertemu.


“Aku akan menemui besok siang.”


Zeza melayngakn tatapan protes kepada Levin. Levin menyimpan ponselnya dan Zeza menyilangkan kedua tangannya.


“Di mana kamu mendapat pistol itu?” tanya Levin.


“Di ruang kerjamu banyak,” ketus Zeza yang dilanda rasa cemburu. Moodnya rusak gara-gara Amel, Ric dan ditambah Sasa. Dia akan melayangkan peringatan keras kepada wanita yang mencoba menjadi orang ketiga dalam hubungannya.


“Hm. Malam ini berikan hakku,” ujar Levin.


“Tidak, minta saja pada Sasa,” ketus Levin.


“Baiklah, aku akan mengantarmu pulang dan meminta pada Sasa,” ujar Levin santai.


“LEVIN!” teriak Zeza kesal.


“Apa, Sayang?” tanya Levin dengan watdo alis wajah tanpa dosa.


“Ihhhh pokoknya aku gak mau tidur bareng kamu lagi,” ujar Zeza kesal.


“Ambekan,” ejek Levin.


“Sekali bicara maka pistol ini yang akan menjawabmu,” geram Zeza.


Tawa Levin yang ditahannya sejak di pesta pecah.


TBC


Jejak :D

__ADS_1


__ADS_2