
Zeza melepaskan dirinya dari pelukan suaminya. Sebelum Zeza berhasil menjauh, Levin menariknya keras himhha meneubruk dada bidannya.
“Kamu kenapa jadi mesum banget sih Vin,” ketus Zeza.
Zeza berjalan ke lemarinya dan mengambil piyaman tidurnya. Dia masih degdegakan dan merasa lega saat suaminya masuk ke dalam kamar mandi. Suara gemericik air tanda Levin sedang mandi. Zeza jadi tersenyum sendiri saat tahu sabun yang dipake suaminya. Dia akan memakainya juga saat Levin tidak ada di rumah.
Zeza duduk di tepi kasur setelah memakai piyamanya. Dia memikirkan kejadian tadi sore. Kebenciannya terhadap Ric Argas tidak main-main. Saat Zeza melamun dia tidak menyadari jika Levin berjalan ke arahnya dengan handuk melilit sebatas pinggangnya.
“Zeza,” panggil Levin
“Aku gak mau dengerin kamu,” ketus Zeza. Levin mendorong Zeza hingga jatuh di atas kasur.
“Hakku, Sayang,” ujarnya dengan tatapan intes. Zeza meneguk ludahnya. Levin membelai bibir Zeza dengan jempolnya. Mata Zeza terpejam saat bibir seksi suaminya menyambar bibirnya. Awalnya Levin menciumnya lembut lama kelamaan semakin menuntut.
“Enghhhh,” lengguh Zeza saat Levin mejilat lehernya. Tangan suaminya bergiliriya di dadanya. Napas Zeza terenggah-enggah. Desahan demi desahannya lolos. Zeza semakin tak karuan saat Levin menyentuh titik sensitifnya, Darahnya berdesir hebat. Rasa panas menjalar diseluruh tubuhnya.
“Levin please,” pinta Zeza yang tak tahan.
“Please apa, Sayang?” tanya Levin menggoda istrinya.
“Fuck me now ahhh,” racau Zeza. Levin tersenyum penuh kemenangan. Saat Zeza meminta dia akan dengan senang hati mengambulkan permintaan istri cantiknya.
Lihatlah sekarang, Zeza bagai anak kucing yang manis di atas kasur. Tubuhnya melikuk seksi. Eranganya begaiakan melodi merdu untuk Levin. Dadanya membusung bersamaan dengan remasan-remasan tangan Dewa Levin.
“Ahhhh,” desah Levin saat mereka menyatuhkan tubuhnya. Milik Zeza masih sempit. Levin bahkan merasakan milik istrinya mengcengkram kuat juniornya.
“Aku hampir keluar, Vin ahhh,” racau Zeza.
“Bersama, Sayang,” ujar Levin semakin menambah ritme goyangan pinggulnya. Kini dia mengubah posisi istrinya menjadi Doggy styl, hingga juniornya masuk semua ke dalam milik Zeza.
“Ahhhhh,” desah Zeza sambil mengcengkram kuat seprai kasur mereka.
Plokkk plokkk
Suara percintaan panas mereka memenuhi kamar sampai dirasanya tubuh mereka mencapai kenikmatan yang hanya bisa mereka berdua lakukan bersama. Tubuh Levin ambruk di atas tubuh Zeza.
__ADS_1
“Lagi,” ujarnya setelah jeda lima menit. Zeza mencubit pelan pinggang suaminya.
“Lagi baru kita makan,” ujar Levin dengan wajah yang dihiasi senyum manisnya. Zeza akhirnya luluh juga membiarkan suaminya membawanya kembali ke surga kenikmatan duniawi.
***
Levin POV
Aku dan Zeza mandi bersama setelahnya. Tentu aku tidak membiarkan kesempatan emas ini lewat begitu saja. Kami melakukannya sekali lagi di dalam kamar mandi. Guyuran shower membuat Zeza tampak seribu kali lebih seksi.
Dada sintalnya membuatku ingin terus memainkannya atau mengulumnya. Jangan lupakan bokong indahnya yang bulat membuatku gemas ingin mengigitnya setiap saat. Semua yang ada pada diri Zeza aku suka, kecuali keras kepalanya.
Kami berada di dapur, dan lihat dia memakai apcorn saja terlihat seksi. Aku memang mesum sebelum bertemu Zeza, tetapi bertambah mesum saat menikah dengannya. Aku tidak menyangka mencintai gadis yang membuatku ingin melepas pelauk di kepalanya dulu.
“Makanlah,” ujarnya. Dia cukup pintar memasak, aku pikir karena dia model dia tidak akan tahu soal dapur. Kalau soal kasur dia belum ahli, tetapi akan kuajarinya.
“Aku mau bertanya satu hal padamu,” ujarku karena yang ingin kutanyakan adalah pria yang belakangan ini selalu bersamanya. Siapa lagi kalau bukan Guar Argas. Aku akan menggorek informasi tentangnya dari Zeza.
“Apa kamu tahu keluarga Guar?” tanyaku membuat dia berhenti menguyah. Raut wajah langsung berubah penuh selidik.
“Dia adik dari Ric Argas, tetapi hubungan keduanya tidak membaik. Ric sangat marah kepada Guar karena Guar lebih membelaku daripada dia yang notabenya kakak kandungnya. Jika kamu bertanya hubunganku dengan Guar, aku dan dia sahabat,” jelasnya. Ternyata Guar dan Ric tidak akur. Ok jadi aku tidak perlu menyingkirkan Guar.
“Kamu jangan macam-macam dengannya,” ujar Zeza penuh selidik. Aku mendadak emosi karena dia seperti membela Guar. Aku cemburu? Tidak tahu.
“Aku ingin membunuhnya,” ujarku tentunya hanya asal saja. Mana mungkin aku membunuhnya.
“Kamu akan mati juga,” ujar Zeza kesal kepadaku. Cih, dia rela membunuh suaminya untuk sahabatnya. Terlalu setia kawan sekali dirinya.
Kami makan dalam diam. Setelah ini aku akan memikirkan cara mengecoh Ric bersama teman-temannya dan mitra Mathanan itu Welzi. Dering ponselku membuatku cepat mengangkatnya. Aku tidak perlu menjauh dari Zeza karena dia tahu pekerjaanku dan tergetku.
“Baiklah,” ujarku dan sambungan terputus. Rupanya Gerald bergerak cepat. Ric sedang dalam perjalanan ke Miami. Aku akan ke sana malam ini.
Aku menelepon anak buahku.
Tuttt ....
__ADS_1
“Siapkan jet prbadiku menuju Miami.” Aku memutuskan sambungan dan terlihat Zeza menatapku dengan raut wajah bingung. Aku mendekat ke arahnya.
“Aku harus ke Miami malam ini,” ujarku membuat dia bersidekap di depan dada.
“Kenapa mendadak?” tanya protes.
“Ric ke Miami dan aku akan menghabisinya di sana. Lagipula cocain serta senjataku berada di pamannya, aku akan membuat mereka merasakan akibatnya bermain-main dengan seorang ketua Mafia AlLe,” ujarku membuat istriku mengembuskan napas, sepertinya dia terima.
“Kamu tahu ini sangat bahaya. Jika Mommy tahu kamu masih bekerja sebagai mafia ... aku tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya,” ujar Zeza dengan mimik wajah cemas.
“Percayalah Sayang. Setelah semua beres, tidak akan lagi kukerjakan, aku akan fokus kepada kantor dan juga kamu,” ujarku.
“Lalu Sasa?” Sepertinya dia tidak menyukai Sasa. Demi Tuhan Sasa hanya adik untukku dan gadis itu telah kejelaskan di taman. Tidak bisakah Zeza berteman dengan Sasa?
“Dia sudah aku anggap sebagai adik sendiri,” ujarku sambil mengelus surainya.
“Kamu tahu apa yang paling wanita benci di dunia ini, Vin?” Aku menggelengkan kepala.
“Dibuat nyaman lalu ditinggal.” Aku sama sekali tidak membuat wanita manapun baper. Inilah wanita sangat rumit untuk dipahami. Bagaiamana bisa laki-laki disalahkan saat dia patah hati? Dia yang berharap lebih, terlalu membawa perasaan perilaku laki-laki.
“Semua telah kejelaskan kepada Sasa, walau dia menangis dan tidak terima, dia mencoba ikhlas. Jangan membencinya, Za. Dia sebatang kara,” ujarku berharap hati keras istriku melunak.
“Aku tidak akan menyaktinya tetapi akan kupastikan dia tahu akibatnya jika masih berharap lebih kepadamu,” ujarnya keras kepala.
“Terserah kamu saja. Ayo bantu aku packing,” ajakku.
“Berapa hari kamu di sana?” tanya kaget.
“Seminggu –dua minggu,” ujarku membuat bahunya lemas seketika.
“Lama banget,” protesnya yang lucu di mataku. Aku mendekapnya, ada rasa tak rela meninggalkannya, tetapi pekerjaanku harus diselesaikan secepatnya.
“Jaga dirimu baik-baik, aku akan mengusahakan cepat pulang,” ujarku membuat dia mengangguk lemah.
TBC
__ADS_1
Jejak :)