Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
11


__ADS_3

Up again 😁 yey bisa 6 kali up 😀 Follow guys biar kalau ada karya baru dapat notifnya


Mereka tiba di penginapan saat jam 10 malam. Levin dan Zeza masuk ke dalam kamar mereka. Suara bersin-bersin Levin memenuhi kamar mereka, hingga pria itu masuk ke dalam kamar mandi. Dia mandi dan keluar dengan handuk melingkar pinggangnya.


Zeza sudah membersihkan pecahan vas bunga yang disebabkan suaminya. Kemudian dia berbaring membelakangi Levin. Meski mereka beda kasur tetapi tetap saja Zeza tidak akan tidur menghadap ke arah Levin.


Levin berbaring dengan mata memerah, hidung mepet karena flu. Badannya juga panas sekali. Ponselnya bergetar membuat dia membuka mata paksa. Dia menghela napas saat sekertarinya mengiriminya email. Dia memang tidak memberitahu sekertarisnya untuk tetap mengirim pekerjaan yang mendesak.


Kepala Levin semakin berat dan dia bangkit mengambil laptopnya. Levin mulai mengetik sesuatu yang dia paham sendiri. Zeza yang tidak tidur menoleh melihat Levin yang terlihat serius mengetik. Suara bersin-bersin pria itu masih terdengar, untung saja kamar mereka kedap suara.


Zeza bangkit dan menyadarkan tubuhnya di kepala ranjang. Perkataan Jena masih tergiang di kepalanya. Levin sepertinya belum sadar jika dia sudah bangung dan menatapnya.


Levin merasa semakin menggigil. Dia menyimpan laptopnya dan berbaring. Suara deru napasnya terdengar sesak. Dia mengeratkan selimutnya. Zeza bangkit dari kasur dan menghampiri Levin.


Dia meletakkan tangannya di atas kening levin. Pria itu membuka mata dan menatapnya tajam. Zeza mendengus, masih saja pria ini galak walau sakit. Zeza bangkit dan mengambil obat.


“Minumlah,” ujar Zeza.


“Apa peduli lo,” ketus Levin. Zeza menatap pria itu tajam.


“Suara bersin lo menganggu!” Jengkel tentu saja Zeza rasakan. Walau sebenarnya dia kahwatir dengan pria itu. Wajah Levin yang pucat semakin membuatnya tidak tega.


“Beruntung gua sakit, jika tidak akan gua tembak lo,” desis Levin dengan suara serak sakitnya.


“Sakit aja masih galak,” batin Zeza. Akhirnya dia tahu kenapa Levin bisa sekasar ini, ternyata pria itu mafia.


Zeza membantu Levin untuk minum obatnya. Pria itu meringgis dan memegan kepalanya. Zeza menyelimuti Levin dan menempelkan tangannya. Suhu tubuh Levin sangat dingin membuat Zeza panik.


“Suhu tubuh lo dingin,” ujar Zeza panik. Dia mengambil selimutnya dan memberikannya pada Levin. Levin menatap Zeza yang terlihat panik. Bibirnya yang sering berkata kasar melirih,”Gue hipotermia.”

__ADS_1


Zeza mematung, Hipotermia adalah suatu kondisi di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin. Akibat hipotermia seseorang mengalami kehilangan keseimbangan panas tubuhnya. Seperti levin saat ini, bahkan hipotermia bisa menyebabkan kematian jika suhu tubuh manusia tidak kembali normal.


“Apa yang harus gue lakukan?” tanya Zeza panik.


“Jika lo tahu, lo mau lakuin?” tanya Levin semakin lirih. Bibirnya makin pucat. Zeza mengangguk dan matanya berkaca-kaca. Dia mengenggam tangan Levin dan mengosoknya dengan tangannya, berharap levin tidak kedinginan lagi.


“Buat gua merasa panas. Buka baju lo,” ujar Levin membuat Zeza membulatkan matanya. Dia tidak pernah telanjang di depan pria dan meski levin suaminya dia tetap malu.


“Gu—gue---“ Napas Levin semakin tersedak. Zeza membuka bajunya cepat dan menyisahkan bram miliknya. Dia melepas pengait branya. Mata  Levin yang menatapnya membuat pipi Zeza memerah malu.


“Ap—apa yang harus gue lakukan hiks?” tanya Zeza sudah menangis. Suhu tubuh Levin makin dingin.


“Bodoh, berhenti menangis dan masuk ke dalam selimut dan buka baju gua,” ujar Levin membuat Zeza melepas baju Levin.


Zeza masuk ke dalam selimut dan memeluk Levin. Pipinya semakin memanas saat panyudaranya menyentuh dada bidang levin. Dia bisa merasakan tubuh Levin yang dingin, tetapi Zeza ingin memberi kehangatan kepada Levin.


Dia mendongak menatap wajah Levin. Mata pria itu memejam dengan bibirnya yang mengatup sempurna. Zeza mengelus punggung Levin saat pria itu memeluknya erat. Tak pernah Zeza bayangkan dia dan Levin akan berada di posisi seintim ini.


“Vin,” panggilnya serak. Zeza takut Levin ke napa-napa. Dia harusnya menolak jaket pria itu, mengingat Levin memang mandi hari ini terlalu banyak ditambah hujan tengah malam. Cuaca di luar juga sangat dingin.


“Vin,” lirihnya lagi dan hendak bangkit. Levin menahan tubuh Zeza dan membuka matanya. Pandangan  mereka beretemu membuat Zeza bernapas lega. Jika boleh memilih, Zeza ingin Levin yang kasar saja daripada lemah dan sakit seperti ini.


“Lo baik-baik aja?” tanya Zeza. Levin mengangguk membuat Zeza menenggalkan kepalanya di dadanya. Levin terlelap,membuat Zeza semakin mengelus punggung suaminya. Zeza merasa mengantuk ikut tidur dalam dekapan suaminya. Ini pertama kalinya mereka tidur bersama.


***


Keesokannya saat matahari bersinar cerah seolah dia memerkan senyum pepsodentnya kepada dunia. Di cerah sinar mentari, sepasang suami-istri yang bagikan tom dan jerry masih terlelap damai. Kedua tangan mereka saling memeluk.


“Enghhhh.” Gadis itu menggeliat pelan dan semakin menggelamkan kepalanya. Bulu mata lentik pria yang dipeluknya terbuka. Dia menunduk melihat betapa damainya gadis yang selalu menguji kesabarannya.

__ADS_1


Dia menghela napas, tiba-tiba kedua mata gadis itu terbuka. Gadis itu bersinggut mundur dan melupakan jika dia tidak memakai baju. Sontak Levin menatap dadanya, dia ikut menatap dada.


‘’Kyaaaaaaa! Mesum!” teriaknya sambil menarik selimut menutupi tubuhnya. Wajah Zeza memerah bak kepiting rebus. Levin berdehem menyembunyikan bibirnya yang berkedut tersenyum geli melihat Zeza malu.


Zeza mecibir dalam hati,  walau dia tidak bisa mencegah agar pipinya tidak memerah malu. Levin bangun hingga perut kotak-kotaknya terlihat. Zeza mengalihkan tatapannya.


“Cepatlah mandi dan sarapan,” ujar Levin membuat Zeza menatpnya.


“Tidak, sebaiknya kita sarapan di kamar,” ujar Zeza karena wajah Levin masih pucat walau tidak seperah selaman. Levin juga masih deman, bahkan suaranya terdengar serak akibat sakit. Levin mengangguk.


Zeza menarik satu selimut membungkus tubuhnya dan berjalan ke kamar mandi. Dia bernapas lega dan mengatur degup jantungnya. Pipinya sangat memerah membuat Zeza nebepuk-nepuknya.


“Aku harus cepat mandi,” ujar zeza dan mulai ritual mandinya. Dia menghabiskan 20 menit di dalam kamar mandi dan keluar menggunakan bathrobe miliknya. Levin masih tiduran di atas kasur.


Zeza memutuskan untuk mendelivery, dia menunggunya hingga pesanannya datang. Dia menghampir Levin dan menyimpan bubur di atas nakas. Levin menyerit dan bangun.


“Gua gak suka bubur,” ujar Levin membuat Zeza menatapnya datar. Levin tidak bisakah pria ini menurut padanya.


“Lo harus makan bubur,” ujar Zeza. Levin merenggut tidak suka.


“Vin, terserah lo mau makan apa. Tapi, please nurut sama gue kali ini, makan bubur ya,” ujar Zeza lembut. Kondisi Levin tadi malam membuatnya takut jika pria itu malah tambah sakit lagi. Entah setan apa yang merasuki Levin, dia menurut.


Zeza memberikan levin bubur dan melihat Levin terlihat enggang, ia merebut mangkok Levin. Zeza menyodrkan sesondok bubur di depan mulut Levin.


“Gu—gue suapi lo aja,” ujar Zeza gugup. Mata Levin yang menatapnya membuat jantungnya terasa ingin lepas ditempatnya. Levin membuka mulutnya membiarkan zeza menyuapinya. Moment yang sangat langkah untuk pernikahan mereka.


TBC


Jejak :D

__ADS_1


Thanks yah sudah jejak dan like, love love you semua yang sudah mampir. Alhamdulillah bisa puasin kalian baca berdouble-double


Jangan YD mikirnya 😂 ini masih permulaan 😂


__ADS_2