
Follow aja dulu baru baca :D
Zeza masuk ke dalam rumah Levin untuk yang kedua kalinya. Dia berjalan terlebih dahulu ke atas membuat Levin mendengus kesal. Dia mengekori Zeza dari belakang. Bahkan sampai saat ini mereka tidak pernah bicara sepatah kata lagi.
Zeza membuka kamar Levin dan menatap kamar pria itu dengan wajah datar. Kamar Levin maskulin dan dominasi warna abu-abu dan putih. Figur robot dan miniatur senjata banyak. Sepertinya pria ini menyuaki hal berbau action.
Zeza menoleh saat Levin masuk ke dalam kamarnya, ah ralat kamar pria itu. Bahkan pria itu melewatinya begitu saja. Zeza menatap Levin yang kini dengan santai melempar jasnya di atas kasur.
“Apa ada kamar lain?” tanya Zeza dingin.
“Tidak ada,” ujar Levin cuek.
“Rumah segede ini Cuma punya satu kamar?!”
“Lo tidur di sofa.”
“Gak bisa! Gue yang tidur di kasur!”
Levin membuka pakiannya hingga menyisahkan boxer miliknya.
“Jaga matamu,” ujar levin saat Zeza masih menatapnya.
__ADS_1
“Dasar Pak Tua!” umpat Zeza.
“Sekali lagi lo mengumpat di depan gua, lo akan tahu akibatnya,” ujar Levin penuh ancaman. Zeza yang tak suka diancam menantang Levin. Dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
“Lo tidak berhak mengatur gue,” ujar Zeza membuat Levin tegelak. Bahkan suara tawanya sangat menyeramkan. Dia maju ke arah Zeza dan Zeza tetap bersikap tenang.
“Gua akan membuat lo menyesal,” ujar Levin sambil mendorong Zeza hingga terbentur dinding. Zeza menahan ringisannya. Dorongan Levin tidak main-main dan membuat punggungnya pegal bertambah pegal dan sakit.
“Lo yang akan menyesal,” ujar Zeza membalas tatapan dingin Levin. Jika ini komik maka kedua matanya akan mengeluarkan laser berwarna merah.
Zeza mendorong dada levin keras tetapi pria itu tidak bergerak seinci pun. Bahkan wajahnya hanya lima senti dari wajah wajah Zeza. Harum napas Levin dan Zeza beradu. Bergerak sedikit saja maka bibir mereka akan bersentuhan.
Tatapan keras Zeza membuat levin semakin menyeringai. Pria itu melapas kurungan tangannya dan berjalan ke kamar mandi. Zeza membuang napas kasar. Dia menghentakkan kakinya kesal. Tangannya mengepal kuat.
Dia menunggu levin keluar dari kamar mandi dan sementarnya dia membersihkan make upnya. Zeza menggeram kesal saat dia lupa membawa kopernya yang ada di dalam mobil Levin. Pintu kamar mandi berdecit membuat Zeza beranjak dari meja rias.
Dia berjalan ke kamar mandi dan melewati Levin begitu saja. Matanya sudah mengantuk, dan dia butuh air untuk menyengarkan pikirannya. Berendam mungkin bisa membuat dia merasa lebih baik. Zeza membuka seluruh bajunya hingga tubuh indahnya tereskpos. Dia masuk ke dalam bathup dan memajamkan mata.
Di luar sana Levin memakai baju kaus putih polos dan celana rumahan selutut. Dia berbaring di atas kasur karena merasa mengantuk. Matanya terpejam dan tidak peduli jika Zeza tidur di mana.
Sejam kemudian, Zeza keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Dia bersyukur Levin sudah tertidur. Zeza menatp pintu kamar Levin dengan napas gusar. Bajunya masih di koper dan kopernya di mobil Levin. Tidak mungkin dia keluar dan mengambilnya sendiri hanya memaki handuk.
__ADS_1
Meminta tolong kepada Levin jangan harap. Gaun itu saja tadi membuat dia susah payah membukanya sendiri. Zeza masa bodoh dengan Levin, dia akan memakai pakain pria itu. Pakaian dalam Zeza punya tetapi pakian luar dia tidak punya. Itupun dia dapat pakain dalam bentuk bingkisan yang diberikan Jena kepadanya saat di mobil.
Zeza membuka lemari Levin dan mengambil kemaja putih pria itu. Sungguh resah perasaan Zeza, ternyata dalam bingkisan itu hanya CD tanpa BH. Dia memaki kemeja Levin tanpa pengahalang di dadanya.
Zeza ikut berbaring di kasur, dia tidak akan mengalah. Levin membuka mata saat merasa pergerakan di atas kasurnya. Dia membalikkan badan menghadap Zeza. Mata Levin menatap tajam punggung Zeza. Dia bisa melihat kulit putih Zeza di balik kemeja putih yang ia kenankan. Kemaja itu tipis.
“Nagapin lo tidur di kasur gua?” tanya Levin membuat Zeza yang hampir tidur terkejut. Dia menoleh dan menatap jengkel Levin.
“Lo yang harus tidur di sofa,” ujar Zeza kesal.
“Ini rumah gua,” ujar Levin membuat Zeza menatapnya datar. Siapa bilang ini rumahnya, cih.
“Rumah ini memang milik lo, dan gue punya rumah sendiri. Jangan berpkir panjang Mr. Levin karena gue juga gak sudi tinggal di sini jika bukan karena Bunda gue,” ujar Zeza marah.
“Harusnya lo tahu diri. Ini wilayah gua dan gua gak peduli alasan lo tinggal di sini,” ujar levin membuat Zeza bangkit dari kasur. Matanya menatap bengis Levin.
“Lo pikir gue mau tidur bareng lo? Gue gak mau!” Zeza beranjak dari kasur dengan mood yang buruk. Levin malah cuek dan melanjutkan tidurnya. Di luar kamar Zeza duduk di atas sofa. Dia tidur di atas sofa tanpa selimut yang menutupi tubuhnya.
Besok dia akan membuat kamar di rumah Levin. Pria itu belum genap 24 jam sudah membuatnya jengkel. Zeza merasa kedinginan tetapi dia tidak akan mengeluh sedikit pun. Apalagi kepada pria tua itu, jangan harap.
TBC
__ADS_1
Jejak ya jangan lupa