
Siang ini Levin dan Zeza masih di kamar, keluarga mereka pergi ke pantai sedabgkan mereka tidak ikut karena Zeza menolak. Walau Levin mengotot tetapi keluarga mereka menyutuji jika dia dan Zeza tidak perlu ikut.
“Seharusnya lo ikut,” ujar Levin yang tengah mengetik sesuatu di laptopnya. Zeza yang mengupas mangga menoleh. Dia menghela napas melihat ego Levin sangat tinggi. Bilang saja pria itu tidak mau dianggap sekearat, padahal semalam dia terkena hipotermia.
Zeza bersyukur jika Levin tidak membahas soal semalam. Namun, pipi Zeza tetap memerah malu jika mengingatnya. Zeza termenung mengingat semalam dan Levin menatapnya dengan pandangan sulit diartikan.
“Gua mau keluar jalan-jalan,” ujar Levin cuek. Zeza mendengus dalam hati, bilang saja pria ini terlalu gensi mengajaknya keluar. Zeza bangkit dan memakai sepatu kets miliknya. Dia mengenakan baju putih dengan rok hitam pendek.
Mereka keluar dari kamar dan berjalan kaki di sekitar resort. Tidak ada yang membuka suara, mereka sama-sama menikmati hening. Mata Levin yang menatap jalanan sekitarnya terpaku pada sepeda yang tak jauh darinya.
Dia berjalan ke sana membuat Zeza memberengut. Zeza tidak menghiarukan Levin yang hilang, dia duduk di pembatas jalanan.
Kringgg ....
Zeza menoleh dan melihat Levin berada di atas sepeda. Pria itu menatapnya datar.
“Naiklah,” ujarnya. Zeza bangkit dan berjalan ke belakang Levin. Dia hampir jatuh saat dia mau duduk di belakang Levin, untung Levin sengit menahan tangannya.
“Rusak,” ujar Zeza. Levin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Boncengan sepeda ini memang sudah jelek. Dia menarik Zeza ke depannya.
“Lo duduk di depan aja,” ujar Levin membuat Zeza mengerut.
“Nanti gue jatuh,” tolak Zeza. Levin memaksanya dan Zeza mengomel walau pada akhirnya dia duduk di depan Levin. Saat Levin menunduk Zeza bisa leluasa menatap wajah Levin. Levin mulai mengayungkan sepeda miliknya. Tatapan Zeza tidak teralihkan dari wajah tampan suaminya.
“Khm,” dehem Levin membuat Zeza salting dan menoleh ke depan. Dia merasa pipinya lagi-lagi memanas. Levin tersenyum kecil melihat Zeza begitu manis jika malu-malu, eh apa dia baru saja memuji gadis arogant ini?
Zeza menikmati pemandangan dengan senyum manisnya. Dia bahkan lupa keberadaan Levin, terlalu asyik sendiri. Levin semakin melajukan ayunannya membuat Zeza sontak memeluknya.
“Akh Kevin!” teriak Zeza.
“Hahahahaa.” Levin tertawa lepas mendengar teriakan Zeza. Zeza memang marah tetapi semua luntur begitu saja mendengar suara tawa pria itu menggema.
Zeza POV
Apa aku sedang bermimpi? Melihat tawamu saja sangat jarang dan sekarang kamu tertawa lepas. Kamu memang membuatku berada pada labiring-labiring kegundahaan. Siapa kamu Levin? Kenapa kamu begitu mampu membuatku keluar dari garis yang kubatasi dalam hidupku.
Aku hanya tahu kamu pria yang punya ego tinggi. Aku ingin mengurung suara tawamu di dalam memoriku. Menyimpannya dalam sudu thatiku, sebab ini moment langkah dalam pernikahan kita.
__ADS_1
Aku pikir semua rumit karena kamu seperti puzzple. Namun, ternyata jauh dari itu semua kamu hanya manusia biasa. Tak peduli sekeras apapun hatimu, dan tak peduli sekasar apapun ucapanku. Aku telah keluar dari zona aman dalam hidupku.
Aku terlalu dini mengatakannya. Namun ... harus aku akui pada lembayu bahwa suara tawamu telah mencuri sesuatu dalam diriku yang telah kupikir mati rasa.
“Lo kalau ketawa mirip manusia,” ujarku membuat dia memelankan lahu sepedanya. Dia merem dan menatapku yang menatapnya. Sesaat kami memilih bertatapan, tetapi aku menunduk. Hanya sedetik saja aku bahkan tak sanggup menatapnya. Ada apa denganku? Kenapa jantung selalu lari maraton?
“Apa selama ini gua bukan manusia?” tanya yang aku angguki dengan polos.
Plak!
“Akh! Sakit!” Dia menjetikkan tangannya di keningku.
“Lalu gua terlihat apa kalau bukan manusia?” tanya kesal. Cih, pria emosional.
“Monster,” ketusku. Aku menatap ke depan daripada menatap wajahnya yang makin menyebalkan. Dia meraik daguku dan menyatukan dahi kami.
Oh sial! Levin benar-benar kerasukan. Sikapnya berubah seperti bunglon. Aku lupa cara bernapas, perlakuan lembutnya membuatku hampir goyah. Oh ayolah Zeza, kamu tidak boleh terbuai.
“Selain arogant lo ternyata ambekan,” ujarnya sambil tersenyum mengejek. Aku mendorongnya tetapi tidak bisa. Dia terlalu kuat.
“Pegangan, gua mau balapan,” ujarnya yang sudah mengayung kencang sepedanya. Aku kembali menjertit karena belum siap. Dia terlihat senang, dasar levin, dia bahagia jika aku tersiksa. Diam-diam bibirku dengan lancang ikut tersenyum. Aku dan Levin memang tidak pernah melewati hari tanpa bertengkar tetapi, pertengakaran kami sudah muali deselipi bumbu manis.
“Ternyata bonceng cewek dari depan lebih bagus,” gumamnya. Aku mengabaikannya dan terlalu sibuk memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya.
Tiba-tiba sepeda kami oleng dan bannya kempes. Aku dan Levin terjatuh. Rasanya lututku perih dan tangaku ikut perih. Levin tergelak tidak jauh dariku. Dia bangkit dan menghampiriku.
“Mana yang sakit?” tanyanya. Entah sekarang ekspresi dia lagi khawatir atau tidak, namun aku berharap dia khawatir.
“Lu-lutut gue sakit,” lirihku.
Napas gue tercekat, kalian tahu apa yang dia lakuin? Dia meniup lutut gue dan ingatkan jika di depanku ini adalah pria menyebalkan bukan pria romantis.
“Akhhhhhh!” ringisku saat dia menggerakkan kakiku. Aku memukulnya keras. Rasanya sangat sakit sampai mataku bercaka-kaca. Aku tidak cengeng hanya saja mataku langsung berkaca-kaca.
“Tahan sedikit, kaki lo terkilir,” ujarnya.
“Sakit bego,” ujarku kesal. Dia mendelik tidak suka, ah masa bodoh. Kakiku sakit banget dan dia langsung menariknya.
__ADS_1
“Jangan bilang lo gak bisa jalan,” ujarnya. Aku mendecih, aku berusaha bangkit dan hampir terjatuh. Aku melepas kasar tangannya. Levin menyebalkan! Aku berjalan meninggalkannya dengan kaki pincang.
“Hey ...!” teriaknya yang aku abaikan.
“Hey ... Nona Pincang!” teriaknya yang membuatku kesal.
“Levin!” teriakku kesal.
Dia berjalan ke arahku dan berjongkok di depanku. Aku tahu maksudnya tetap aku diam saja sampai dia menoleh dan menatapku dengan pandangan sulit di artikan. Levin tidak melepas tatapannya membuatku gerah sendiri. Aku menunduk dan memeluk lehernya.
Dia berjalan tanpa suara. Aroma tubuh Levin membuatku merasa nyaman. Aku harus melihat merk sabun yang dia pakai.
“Vin,” lirihku.
“Hm,” dehemnya.
“Ak—“
“Zeza,” panggil seseorang. Dia Guar dan kami berhenti.
“Kamu kenapa?” tanya khawatir. Aku tertawa melihat wajah Guar yang terlihat lucu saat khawatir kepadaku.
“Kakiku terkilir,” ujarku.
“Jika kalian ingin mengobrol lakukan jika sudah sampai, lo berat,” ketus Levin. Cih, berat badanku teratur.
“Lembek,” ujarku. Dia menekan lukaku membuatku memekik sakit.
“Levin!” Dia berjalan tanpa menghiaraukan Guar yang menatap datar kami.
“Aku pergi dulu Guar!” teriakku membuat Guar melambaikan tangan. Levin dan aku akhirnya sampai di kamar. Dia menurunkanku di atas kasur dan berjalan mengambil kotak P3K. Dia mengobatiku dan pergi tanpa mengucapkan apapun.
“Dasar bunglon,” lirihku. Aku memutuskan untuk tidur saja.
TBC
Jejaknya :D
__ADS_1