
Keesokannya keluarga Jung bersiap-siap untuk pulang. Mereka akan kembali nanti sore. Levin dan Zeza duduk di kursi santai resort. Kaki panjang Levin lurus **** kaki kirinya. Kepalanya bersandar dengan kaca mata hitamnya di hidung mancungnya.
Levin meneguk cola miliknya, sedangkan Zeza ikut meluruskan kaki karena kakinya masih sakit, bukan karena dia ingin bersantai seperti Levin.
“Vin,” panggil Zeza membuat Levin menoleh. Dia mengangkat alisnya. Meski mata hitamnya tak langsung memandang Zeza tetapi Zeza bisa merasakan tatapan pria itu.
“Pemotretan gue bukan out door kan?” tanya Zeza memastikan. Levin mengangguk dan Zeza bernapas lega, artinya dia akan tetap melakukan pekerjaannya yang dikerjakannya bersama Ryung dan suaminya sendiri.
“Ada produk tambahan, hanya 3 kali shoot. Ryung sudah bicara sama lo?” tanya Levin yang dibalas gelengan gadis itu. Levin menagguk-mangguk. Dia pikir Zeza akan protes dan menolak pekerjaan itu, ternyata gadis itu mau-mau saja.
Zeza menoleh dan melihat Guar di balkom kamar pria itu. Dia melambaikan tangan membuat Zeza ikut melambaikan tangan. Zeza beranjak meninggalkan Levin. Dia perlu bicara dengan Guar.
Levin memandang Zeza yang kini pergi ke kamar pria itu. Pria itu acuh dan melanjutkan bersantai ria. Dering ponselnya membuat dia berdehem. Levin menggeser warna hijau.
“Halo, Sa.”
“ ....”
“Hahaha tentu aku membawa oleh-oleh untukmu,” ujar Levin sambil tergelak. Zeza dan Guar menatap Levin bingung. Ada rasa tak rela melihat tawa pria itu lepas bukan karena dirinya. Guar tersenyum tipis melihat sahabatnya yang diam-diam memperhatikan Levin.
“Ekhm, apa kamu sudah menyukainya, Baby?” tanya Guar membuat pipi Zeza memerah. Guar makin tergelak dan kini giliran Levin yang memandang mereka dengan pandangan sulit diartikan.
Guar mengacak rambut Zeza gemas dan Zeza memukul Guar yang tak hentinya menggodanya. Mereka sama-sama tertawa lepas membuat bibir Levin menyeringai.
“Jika bersamaku, dia sangat pintar menggunakan bibirnya untuk berkata sinis,” ujar Levin dan masuk ke dalam. Zeza merasa dadanya sesak melihat Levin yang acuh kepadanya. Tidak adakah sedikit saja rasa cemburu pada hati pria itu? Mungkingkah harapan kecil dalam diri Zeza sudah berubah menjadi egois mengharapkan pria itu, dia tidak tahu. Namun, Zeza ingin Levin cemburu.
“Aku rasa kamu memang menyukainya,” ujar Guar.
“Tidak!” elak Zeza.
“Hahahaha mengaku saja, pipimu sudah mirip kepiting rebus. Ouhh ... ada apa ini? Zeza yang terkenal arogant bisa malu-malu juga,” goda Guar membuat Zeza merenggut kesal.
“Hahaha akui saja, menyangkal perasaanmu bukan hal yang baik. Tidak ada salahnya jatuh cinta Zeza,” ujar Guar menatap senduh sahabatnya.
“Ak-aku takut,” lirih Zeza. Dia takut hanya dia berharap lebih untuk perniakahan mereka.
“Levin dan Ric sangat berbeda. Aku lebih lega memilih Levin yang kasar di depanmu, daripada dia manis di depanmu seperti Ric, tetapi, di belakangmu ....” Zeza tahu, bahkan sangat tahu apa yang pria itu lakukan.
__ADS_1
“Bagaimana jika aku jatuh terlalu dalam pada pesona Levin?” tanya Zeza cemas.
“Dia suamimu, biarkan dia jadi penawar lukamu dan tempatmu untuk berbagi sedih, senang dan—“
“Dan?” Zeza menatap Guar tidak sabaran. Guar tertawa dalam hati melihat sahabatnya begitu tertarik mengenai topik Levin.
“Berbagi selimut yang sama,” ujar Guar membuat Zeza mau tak mau mengingat kejadian semalam. Astaga pikirannya sudah berkelana ke mana-mana.
“Ak—aku tidak akan melakukannya!” Zeza menatap Guar kesal dan pergi. Guar semakin tergelak melihat sahabatnya yang sudah malu dan memlih kabur.
“Aku harap kamu bahagia, Za,” lirih Guar. Dibalik wajah arogan Zeza ada air mata yang gadis itu sembunyikan. Di balik sifat angkuhnya ada beban berat yang ia tanggung di pundaknya. Zeza bukan wanita kuat, tetapi dia wanita yang berusaha terlihat tegar dan kuat.
***
Levin POV
Sorenya kami kembali, aku sudah memasukkan koper di dalam mobil. Zeza sudah menunggu di dalam mobil. Dia masih pincang walau sudah baikan daripada tadi pagi. Saat aku menutup pintu mobil, aku melihat Amel lewat di depan, dan tatapan tajam Zeza tidak lepas padanya.
Aku menjalankan mobil mengikuti mobil Daddy. Zeza terlihat sensitif jika menyangkut dengan Amel. Apapun alasannya, aku tidak akan mencari tahunya. Aku juga tidak berniat mengajaknya berbicara. Aku malas berbicara.

(Pict Patung Heraubang)

(Pict postcard)

(Pict gamgyul gwajul)

(Pict hallabong mandaring orange)
Di perjalanan pulang, Zeza banyak diam. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. Aku bilang tidak mau peduli, tetapi aku juga ingin tahu apa yang ada dibilaki otak cantiknya itu.
__ADS_1
“Bagaimana kaki lo?” tanya gue, padahal yang ingin kutanyakan, apa yang sedang ia pikirkan. Aku terlalu canggung untuk menanyakan itu semua kepadanya.
“Kakiku sedah lebih baikan,” ujarnya.
“Em, kalau lo sendiri?” tanya, oh ternyata dia menanyakan kondisiku.
“Gua sudah baikan,” ujar gua sekenahnya. Sungguh canggung bicara tanpa debat dengannya. Aku merasa tidak tahu harus berkata pa, akhirnya aku membuatnya jengkel.
“Lo harus beres-beres rumah kalau sampai,” ujar gua dan terlihat wajahnya mulai kesal.
“gue bukan pembantu!” ujarnya kesal.
“Yang bilangin lo pembantu siapa?” tanya gue cuek.
“Lo nyuruh-nyuruh gue beres-beres rumah itu sudah mirip pembantu,” ujarnya makin kesal. Zeza bodoh.
“Dengar lo, gadis manja, cewek yang bersihin rumah itu bukan pembantu. Memang koadratnya wanita harus pintar cuci baju, piring, ngepel, masak—“
“STOP!” Dia menatapku tajam, harus kuakui Zeza adalah gadis kedua setelah Jena berani menatapku tajam. Dia bahkan lebih parah dari Jena.
“Lo nyari istri atau pembantu?!” tanya kesal.
“Itu bagian dari tugas istri,” ujar aku cuek bebek. Lihat dia marah gini, aku senang. Sekarang aku tidak merasa canggung.
“Wait ... lo ngaku kalau jadi istri seorang Jung Levin Aldrick?” tanya gue menatapnya memicing sebelum menoleh ke depan kembali.
“Hus, gue gak sudi jadi istri lo,” ujarnya sinis. Bibir sialannya itu memang bisa sekali melawanku.
“Lo harus dihukum,” gumamku membuat dia menatapku semakin tajam.
“Gue benci banget sama lo,” lirihnya yang kudengar. Aku tersenyum tipis.
“Gue lebih benci lo,” ujar gua membuat dia menyumbal telinganya dengan erphone. Dia mengalihkan tatapannya di jendela.”Tapi ... jangan seperti ini, Za. Jangan biarkan gua jatuh cinta sama lo, karena gua akan membuat semua pria di dunia mati jika berani mengusik milik gua,” lanjut Levin yang tentu tidak didengar Zeza karena memakai erphone.
TBC
Jejak :D
__ADS_1