
Setelah pemotretan yang menguras kesabaran Zeza dan Levin, mereka berdua singgah di restoran Jepang. Tak ada yang keluar dari bibir Levin, tetapi Zeza tahu jika pria itu sangat marah. Sorot mata tajam Levin membuat tatapan Zeza kadang hilang fokus saat dia pemotretan. Jangan lupakan lelaki bajingan itu seolah sengaja memancing amarah Zeza dan Levin.
Amel tak pernah berkomentar apa-apa mengenai perlakuan Ric, membuat Zeza menganggapnya benar-benar hilang akal. Gadis itu sudah diracuni fikirannya oleh Ric. Zeza tidak akan tinggal diam, andaikan Amel bukan keponakannya sendiri, dia akan membuat gadis itu sengsara.
“Kamu dan Ric sebenarnya ada hubungan apa?” tanya Levin membuat Zeza mengangkat kepalanya. Gadis itu menatap suaminya dengan tatapan tenang. Sesungguhnya Ric adalah topik sensitif untuk gadis ini. Luka lamanya akan terbuka jika laki-laki itu dibahas.
Zeza menyeruput minumannya dan menatap Levin—mencoba menyelami mata hitam itu. Mencari jawaban mengenai kekepoan pria itu kepadanya. Zeza menatap sekelilingnya lalu *** tangannya dengan napas pendeknya.
“Dia mantanku,” ungkap Zeza jujur.
“Ric adalah targetku, mau tak mau aku akan membunuhnya, jadi enyahkan pikiranmu untuk kembali kepadanya,” ujar Levin sama jujurnya dengan Zeza. Bibir gadis itu berkedut menahan senyum. Bukan terdengar menyeramkan, Levin malah terlihat seperti bayi besar yang tengah merajuk.
“Aku bahkan berharap dia segera mati,” ujar Zeza membuat Levin menatapnya dengan alis terangkat.
“Terus terang, aku sangat membencinya dan kamu ....” Zeza menatap levin yang menunggu kelanjutan ucapannya.”—Berhenti berpikir jika aku mengharapkan dia atau mencintainya,” lanjut Zeza dengan sekali tarikan napas.
Levin mengangkat bahu cuek. Dia melanjutkan makanannya dan dering ponselnya membuat ia menatap ponselnya. Zeza ikut menatap ponsel Levin di atas meja.
‘Sasa’
Nama gadis itu membuat Zeza geram. Dia tetap terlihat tenang dan Levin berdehem sebentar dan mengangkatnya. Mata pria itu menatap lurus Zeza.
“Ya.”
“ ....”
“Aku akan datang. Aku juga punya sesuatu untukmu,” ujar Levin membuat Zeza melanjutkan makanannya. Gadis itu tersenyum kecut, apa yang ia harapkan dari Levin?
“ ....”
__ADS_1
“Hati-hati, dan baiklah.”
Tuttt tuttt ....
Zeza merasa napasnya akan tercekat saat Levin tiba-tiba memengang tangannya. Levin itu seperti sesuatu yang—Wow—tidak terduga tindakannya. Bahkan pria itu terlalu susah untuk ditebak, seperti panggilannya jika pria itu seperti bunglon.
“Temani aku menemui Sasa,” ujar Levin membuat Zeza mengangguk. Mereka menghabiskan makanannya dan meninggalkan lima lembar uang merah di atas meja.
***
Zeza POV
Kalian tahu sekarang panas sekali, bukan cuacanya yang panas. Di atas langit bahkan sudah kelabu-kelabu. Angin bahkan terasa sejuk menembus kulitku, yang panas itu saat suami sendiri lagi duduk sama wanita yang jelas-jelas menyukainya.
Aku duduk jauh dari mereka, aku berdecak kesal saat tangan Levin mengelus lembut surai hitam Sasa. Keduanya terlihat berbincang-bingcang santai. Bahkan keduanya tertawa, ok sepertinya Levin melupakan keberadaanku.
Sasa—gadis itu memeluk Levin saat Levin memberikannya oleh-oleh dari pulau Jeju tempo hari. Mataku menatap tajam gadis sialan itu. Kali ini dia bisa lolos tetapi nanti jika dia berani akan kuberi dia perhitungan.
Levin berdiri setelah bercengkrama dengan Sasa. Dia menghampiriku dengan wajah senangnya. Cih, sesenang itukah dia bertemu dengan gadis pujaannya. Ah aku benar-benar seperti istri yang cemburu kepada suaminya.
“Kamu ingin mampir ke suatu tempat,” tanya Levin. Aku menggeleng, malas menanggapinya. Aku bahkan jalan terlebih dahulu darinya. Aku benar-benar merajuk sekarang dan aku tidak menyangka pria itu bisa membuatku merajuk seperti anak kecil.
Aku masuk ke dalam mobil dan dia menjalankannya tanpa bertanya aku kenapa. Hatiku mencolos saat Levin tidak peduli padaku. Mataku terasa memanas, aku mengalihkan tatapanku ke luar jendela. Ternyata ini lebih sakit daripada saat Ric menghianatiku bersama Amel.
Sejak kapan bumi menangis? Apakah sejak pipiku ikut basah? Aku mengusap air mataku. Tidak, aku tidak boleh terlihat lemah di hadapan Levin. Aku boleh mencintainya tetapi aku tidak boleh bodoh karena cintanya.
“Ini untukmu,” ujarnya menyodorkan bingkisan kecil kepadaku. Sejak kapan dia membelinya? Aku menatapnya tetapi dia malah menyuruhku membukanya.
“Buka saja,” ujarnya. Aku membukanya dan melihat sebuah kalung indah dengan permata biru di tengahnya. Aku tersenyum tipis dan berterima kasih kepadanya.
__ADS_1
“Terima kasih,” ujarku.
“Sama-sama, apakah kamu bisa memakainya?” tanya yang aku angguki. Aku melepas kalungku dan memakai kalung pemberiannya. Dia menoleh sebentar dan tersenyum. Pipiku bersemu merah karena pujiannya.
“Cantik,” ujarnya tetapi kini membuatku kesal.
“Terima kasih,” ujarku tulus.
“Kalungnya,” lanjutnya dengan wajah menahan tawa.
“Ish!” Aku memukul lengannya kesal. Bisa-bisanya dia menggodaku, aku menutup tempat lotion itu dan menyimpannya di atas.
“Kamu cantik,” ujarnya memujiku, tetapi aku terlanjur kesal. Aku mengabaikannya sampai tangannya ingin memegan tanganku. Aku malah mengangkat tanganku hingga dia menyentuh pahaku. Dia menarik tangannya dan keadaan jadi canggung.
“Ekhm.” Sial bahkan tenggorokanku terasa kering. Ac di dalam mobil terasa panas. Bukan hanya aku yang merasa canggung, Levin juga. Bisa kurasakan pipiku memerah malu.
“Aku tidak sengaja,” ujarnya dan kuangguki. Kuharap dia berhenti membahasnya. Walau aku pernah bertalnjang atas dada di depannya, aku tetap malu. Pakaianku seksi itu memang karena tuntutan profesi, selain itu aku mencintai diriku ketika menjadi seksi.
“Kita sudah sampai,” ujarnya. Aku turun dan masuk ke dalam tanpa menunggunya. Jantungku berdentum keras, bahkan sampai aku menghilang dibalik pintu kamar mandi miliknya. Napasku terenggah-enggah. Padahal dia baru memengan pahaku, bagaimana jika—astaga pikiranku mulai iya-iya.
“cepatlah mandi, Za. Aku juga ingin mandi,” teriaknya dari luar. Aku melupakan tujuanku masuk ke dalam kamar mandi. Aku tadi langsung masuk ke sini. Baiklah langsung mandi saja, aku membuka pakaianku hingga aku telanjang bulat.
Aku memutuskan berendam dengan harum mawar. Merala lama berendam aku memblias bersih tubuhku. Aku menepuk jidatku lupa membawa baju atau kimono. Hanya ada handuk putih. Tidak mungkin aku keluar, baru saja aku berpikir caranya Levin berteriak tidak sabaran.
“Zeza keluarlah, kamu mandi lama sekali. Tubuhku gerah,” teriaknya tak sabaran. Rilex Zeza dan ayolah aku harus berisikap tenang. Aku membuka pintu kamar mandi dan terkejut melihat Levin berdiri di sana.
Matanya tak lepas memandangku, dan entah bagaimana bisa dia sudah memelukku. Napas Levin menggelitiki permukaan wajahku. Aku menahan napas saat melihat kedua matanya menatapku sayu. Oh my ... apa yang harus aku lakukan?!
TBC
__ADS_1
Jejak, aku double up sesuai permintaan kalian. Aku harap ini sudah cukup, aku tidak mau up lagi. Sider harap jangan baca saja kalau malas memberikan komentar :)